BEIJING – Seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka di China dijatuhi hukuman dua tahun penjara pada Selasa (21/11/2017). Pengacara bernama Jiang Tianyong tersebut dinyatakan bersalah karena melakukan hasutan subversi pada kekuasaan negara.
Vonis tersebut menjadi keputusan terbaru dari serangkaian putusan serupa di tengah tindakan keras pemerintah China terhadap kegiatan para aktivis. Pengadilan Rakyat Intermediate Changsha mengatakan, Jiang Tianyong mengembangkan gagasan untuk menggulingkan sistem politik China. Gagasan tersebut muncul setelah mengikuti lokakarya pelatihan yang diadakan oleh pasukan asing anti-China di luar negeri.
Pengadilan mengatakan Jiang (46), menggunakan media sosial untuk menyerang atau mencemarkan nama baik sejumlah departemen pemerintahan China dan menghasut orang lain untuk berkumpul dan berdemonstrasi di depan umum.
Istri Jiang, Jin Bianling, yang tinggal di Amerika Serikat, mengatakan bahwa putusan tersebut tidak dapat diterima. Dan Dia percaya suaminya dijadikan contoh bagi pengacara hak lainnya yang menghalangi atau menolak. “Saya tidak mengakui atau menerima putusan ini. Jiang Tianyong tidak bersalah,” ungkapnya, Selasa (21/11/2017).
Jiang, yang dicabut gelar pengacaranya pada 2009 setelah mengambil kasus sensitif seperti membela praktisi gerakan spiritual Falun Gong yang dilarang. Jiang, telah terang-terangan dalam mengkritik tindakan keras pemerintah yang sedang berlangsung mengenai perbedaan pendapat, yang telah membawa ratusan pengacara hak dan aktivis dijatuhi hukuman atau ditahan sejak pertengahan 2015.
Putusan tersebut diturunkan tepat satu tahun setelah Jiang pertama kali menghilang pada November lalu, saat mengunjungi keluarga pengacara hak asasi manusia lain yang ditahan. Dia ditahan selama enam bulan sebelum dikenai tuduhan.
Fakta dalam putusan pengadilan tersebut secara luas serupa dengan pengakuan dalam sebuah pengakuan yang dilakukan oleh Jiang selama persidangannya pada Agustus. Rekaman video dari Jiang yang membacakan bagian dari sebuah pernyataan tertulis dikeluarkan oleh pengadilan melalui media sosial saat itu.
Namun, kelompok hak asasi manusia mengatakan persidangan tersebut merupakan persidangan yang dirancang untuk mendiskreditkan Jiang. Dan sang pengacara tersebut terjebak dalam sebuah kampanye pembersihan yang ditujukan terhadap pengacara dan aktivis.
Jin Bialing mengatakan, bahwa keluarga Jiang tidak dapat menunjuk pengacara mereka sendiri. Bahkan upaya untuk menghubungi Jiang tidak dapat dilakukan sejak penahanannya. “Kami tidak tahu bagaimana kondisinya di dalam, atau semacam penyiksaan penganiayaan yang dia derita,” katanya.
Otoritas China telah melakukan siaran langsung peningkatan jumlah sidang pengadilan dalam beberapa tahun terakhir, sebagai bagian dari dorongan menuju transparansi yudisial. Namun, aktivis hak asasi manusia mengatakan bahwa dalam kasus-kasus sensitif, persidangan hanya tersedia secara selektif saat terdakwa telah sepakat untuk mengikuti hasil yang telah dipersiapkan sebelumnya. (Ant)