Berkat TMII, Ahmad Mengajar Tari hingga Mancanegara
JAKARTA — Ahmad Maulana, Koordinator Diklat Seni Budaya Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), merasa bangga bisa bekerja di TMII dalam pelestarian budaya Pasundan. Dia juga mengaku bangga dengan sosok pemrakarsa TMII Ibu Tien Soeharto.
“Terlepas dari pendapat apapun, saya bangga pada Ibu Tien dan Pak Harto telah membangun TMII, ini suatu anugerah,” kata Ahmad kepada Cendana News.
Ketika Ibu Tien berkunjung ke TMII, dia mengaku kerap bertemu dengan beliau. Ahmad pun mengisahkan, saat Ibu Tien akan berkunjung ke Kebun Anggrek (yang sekarang jadi Theater Bhinneka) di depan Istana Anak. Maka, sepanjang jalan menuju Kebun Anggrek itu, anak-anak diklat dari berbagai anjungan berbaris rapi di pinggiran jalan menyambut kedatangan Ibu Tien.
Didalam mobil, kata Ahmad, Ibu Tien tersenyum dan terus melambaikan tangannya membalas sambutan hangat kepada anak-anak. “Ibu Tien turun dari mobil dan mengendong anak kecil. Ini pemandangan yang mengelitik hati saya dan juga tentu menjadi kebanggaan bagi orang tua anak itu. Ibu Tien betul-betul mencintai anak-anak dan budaya bangsa,” ungkapnya.
Seharusnya, kata Ahmad, bangsa Indonesia itu berterimakasih atas gagasan Ibu Tien mendirikan TMII, sebagai wahana mempersatu budaya bangsa. Semua provinsi tampil lengkap dengan seni budaya serta produk-produk khas daerahnya dipamerkan di sini.
”Ikon Indonesia itu hanya ada dua yaitu Monas dan TMII. Jadi orang itu tahunya kalau ke Indonesia ada Monas dan TMII. Tanpa ide cemerlang Ibu Tien, TMII tidak akan ada. Kita harus bangga pada Ibu Tien dan mendoakan yang terbaik untuk Beliau di sisi Allah SWT,” kata sarjana ekonomi ini.
Kebanggaan pria 59 tahun kepada Ibu Tien pun dilukiskannya. Ahmad bekerja di anjungan Jawa Barat TMII sejak 1982. Dari tahun ke tahun, dirinya terus mengabdikan diri mengajar nari di TMII.
Dia mengaku berkat mengajar seni di Anjungan Jawa Barat TMII ini, dirinya tidak hanya bisa keliling Indonesia tampil maupun mengajar menari. Tapi juga hingga ke mancanegara. Seperti Libanon, Mesir, Turki, dan negara Timur Tengah.
”Saya pernah mengajar tari di Turki selama 2 tahun, tapi bukan hanya tari Sunda, tari kreasi nusantara juga. Negara Timur Tengah mah hampir semua sudah disambangi. Alhamdulilah bisa mengajar sekaligus mempromosikan seni budaya Indonesia di negara lain,” ungkap Ahmad.
Lagi-lagi pria kelahiran Bandung 59 tahun ini mengucap bangga terhadap Ibu Tien. Pasalnya, kata dia, kalau saja Ibu Tien tidak membangun TMII sebagai sarana pelestarian budaya bangsa, dirinya tidak mungkin bisa melalang buana ke mancanegara mempromosikan budaya Indonesia.
”Saya bangga pada Ibu Tien, secara tidak langsung beliau telah memberi jalan saya mempromosikan budaya bangsa ke negara lain. Jadi andai ini TMII tidak dibangun oleh beliau, saya nggak mungkin bisa mengajar sampai luar negeri,” pungkas Ahmad.