Tanaman Waru Gunung Jadi Investasi Warga Penengahan
LAMPUNG — Kebutuhan masyarakat akan kayu semakin sulit diperoleh khususnya berbagai tanaman kayu berkualitas tinggi, seperti jenis merbau, jati, medang. Kayu berkelas yang tersisa di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa tidak mencukupi.
Warga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kayu bahan bangunan. Warga bisa memperoleh jenis kayu berkualitas tersebut dengan harga cukup mahal berkisar Rp2 juta hingga Rp4 juta per kubik dalam bentuk balken, kaso serta papan sebagai bahan pembuatan kusen serta daun pintu dan jendela.
Kebutuhan akan kayu berkualitas tersebut mendorong warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan mulai melakukan budidaya pohon Waru Gunung (Hibiscus macrophyllus Roxb). Waru dipergunakan sebagai tanaman investasi serta sebagai tanaman sela di lahan yang ditanami dengan tanaman jagung dan tanaman jati ambon (Jabon).
Tanaman sejenis tersebut saat ini dibudidayakan oleh sebagian warga salah satunya oleh Safrizal, warga Dusun Sideder Desa Klaten. Dia sengaja menanam pohon waru gunung sejak belasan tahun silam dan sudah panen dua kali.
“Saya sengaja membudidayakan pohon waru gunung bibitnya dibeli dari wilayah Pekalongan Lampung Timur karena harganya cukup mahal dan mudah cara merawatnya bisa dipergunakan sebagai tanaman peneduh jalan dan bahan bangunan,” terang Safrizal saat ditemui Cendana News, Rabu (18/10/2017)
Selain membeli dari tempat pembibitan dengan harga perbatang Rp1.000 dalam polybag, Safrizal juga kerap berburu bibit pohon waru gunung yang tumbuh di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa. Sebagian tanamna ini sudah dibudidayakan oleh masyarakat.
Pohon waru gunung yang kerap tumbuh liar tersebut bahkan kini mulai dibudidayakan secara intensif sebagai pada lahan perkebunan skala kecil bercampur dengan pohon lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Selama proses menanam waru gunung lahan yang dibudidayakan masih bisa disela dengan tanaman jagung selama waru gunung belum tinggi. Lahan masih bisa dipergunakan untuk budidaya tanaman lain yang lebih produktif di antaranya jagung dan pisang yang bisa dipanen dalam jangka empat bulan sekali.
Pada masa panen tahap pertama dengan usia sekitar 6 tahun ia mengaku berhasil memanen sekitar 10 kubik kayu lebih untuk bahan papan seharga Rp2 juta per kubik berukuran sekitar 4 meter dengan hasil Rp20 juta.
“Pohon waru gunung yang memiliki ciri khas berbatang lurus memang cocok dibuat sebagai papan. Bahannya liat terutama untuk bahan pembuatan bak kendaraan jenis truk,” beber Safrizal.
Pada penanaman tahap kedua Safrizal sengaja menanam pohon waru gunung dari benih pohon yang sudah berusia lebih dari 8 tahun. Sebagian tumbuh dengan alami dari biji yang gugur saat sudah tua sehingga ratusan bibit sengaja dipencarkan dari kebun yang kini sudah dipergunakan sebagai lokasi budidaya tanaman pohon waru gunung dan jabon.
Setelah berhasil membudidayakan tanaman waru gunung yang merupakan salah satu tanaman kehutanan tersebut Safrizal bahkan mulai mengembangkan waru gunung dengan melakukan proses pembibitan.
Bibit dari buah waru gunung yang ditanam pada polybag berusia sekitar 6 bulan dijualnya dengan harga Rp3.000 per polybag dan dijualnya kepada petani lain yang memiliki lahan tidak produktif. Saat ini ia telah membibit sebanyak 200 polybag waru gunung sebagai stok untuk ditanam di kebun miliknya yang sebagian ditanami jagung.
Nyoto, salah satu pemilik usaha penggergajian kayu dan jual beli kayu menyebut waru gunung yang selalu tumbuh dengan lurus kerap dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan papan di antaranya bahan daun pintu dan jendela.
Proses tumbuh yang mudah bahkan tanpa perawatan khusus hanya dengan rajin memangkas ranting agar pertumbuhan waru gunung lebih pesat penanaman waru gunung mulai dibudidayakan warga Klaten.
“Sebagian warga menanam waru gunung sebagai peneduh di tepi jalan sehingga menjadi tanaman penghijauan yang bisa dipanen sebagai sumber penghasilan setelah beberapa tahun ditanam,” ujar Nyoto.
Tanaman waru gunung oleh sebagian warga ungkap Nyoto sengaja dibiarkan liar. Tujuannya agar menyebarkan benih secara alami terutama oleh pemilik tanah yang tinggal jauh dari perkebunan.
Pohon Waru bisa dipanen setelah berusia lebih dari 6 tahun. Sebagai tanaman investasi Nyoto pernah melakukan proses pembelian pohon waru gunung dengan sistem borongan untuk ratusan batang pohon waru gunung.
Tanaman waru gunung bahkan dipergunakan sebagai tanaman peneduh tanaman lain saat musim kemarau sehingga selain bermanfaat secara ekonomis saat sudah cukup tua untuk dipanen.
