Ribuan Orang Turun ke Jalan Tuntut Perdamaian di Katalunya

MADRID – Ribuan orang berkumpul di Madrid dan Barcelona dengan mengenakan pakaian putih Sabtu (7/10/2017). Aksi tersebut dilakukan menjelang Katalunya siap menyatakan kemerdekaan.

Para demonstran menyerukan pembicaraan untuk mengatasi krisis politik terburuk Spanyol selama bertahun-tahun.

“Saya telah datang karena saya sangat merasa sebagai orang Spanyol dan membuat saya sangat sedih atas apa yang yang telah terjadi,” kata salah satu demonstran Rosa Barras (47) yang turut serta dalam aksi tersebut di bagian tengah Madrid.

Dalam orasinya Borras yang dikerumuni ribuan orang yang sambil mengibarkan bendera-bendera Spanyol, mengajak warga Katalunya untuk menjaga persatuan.

“Saya ingin berada di sini demi persatuan, karena saya juga merasa orang Katalunya. Keluarga saya tinggal di Katalunya.” Kata demonstran yang memakai stiker bertuliskan, “Katalunya, kami cinta kamu” tersebut.

Sementara pemimpin Katalunya Carles Puigdemont telah mengatakan ia terbuka untuk melakukan mediasi. Sementara Perdana Menteri Mariano Rajoy tetap mendesak kawasan itu agar tidak memerdekakan diri.

Keinginan Katalunya untuk merdeka makin menguat selama krisis ekonomi yang berlangsung hampir enam tahun sebelum PM itu duduk untuk berunding. Pemerintahan Rajoy memobilisasi ribuan polisi nasional untuk menghentikan pemungutan suara.

Akibatnya muncul bentrokan-bentrokan dengan orang-orang yang akan memberikan suara. Pemerintah Spanyol tetap berusaha menutup tempat-tempat pemungutan suara di sekolah-sekolah dan mengambil kotak-kotak suara.

Kekerasan polisi mengundang kecaman keras dan memaksa pemerintah mengeluarkan permohionan maaf pada Jumat (6/10.2017). Walaupun ketegangan terus meningkat setelah ada laporan bahwa rencana deklarasi kemerdekaan sepihak akan diserahkan kepada parlemen Katalunya pada Selasa (10/10/2017).

Katalunya, kawasan kaya di bagian timurlaut Spanyol, dengan kebudayaan dan bahasa sendiri, sejak lama mengaku berbeda dari kawasan lain di negara itu dan pada Ahad mengadakan referendum untuk kemerdekaan dari Spanyol, yang dilarang mahkamah konstitusi.

Penguasa Katalunya menyatakan bahwa mayoritas dari mereka memberikan suara mendukung pemisahan dari Spanyol, yang Madrid katakan ilegal berdasarkan konstitusi negara itu pada 1979.

Krisis politik itu memecah negara tersebut, menyebabkan bank dan perusahaan memindahkan kantor pusatnya keluar Katalunya dan menggoyahkan kepercayaan pasar dalam ekonomi Spanyol. Karena melihat perkembangan tersebut, Komisi Eropa menyerukan pemimpin Katalunya dan Spanyol untuk mencari solusi politik.  (Ant)

Lihat juga...