Peziarah Makam Raden Intan II Terus Meningkat

LAMPUNG — Keberadaan makam pahlawan nasional Raden Intan II di Benteng Cempaka, Desa Gedung Harta, Kecamatan Penengahan, menjadi lokasi wisata religi, sejarah dan budaya yang masih kerap dikunjungi wisatawan setiap hari. Bahkan, terus mengalami peningkatan pada bulan tertentu, seperti menjelang haul gugurnya Raden Intan II yang diperingati setiap bulan Oktober.

Nuraini, salah satu juru pelihara makam Raden Intan II menyebut, pada peringatan ke-161 gugurnya pahlawan Raden Intan yang diperingati pada 5 Oktober tahun ini, berbagai upaya renovasi kompleks makam terus dibenahi oleh Pemerintah Provinsi Lampung, terutama pada beberapa fasilitas penunjang.

Lahan seluas 3.750 meter persegi tersebut yang terdiri dari makam, taman, benteng atau kubu pertahanan yang masih alami terbuat dari tanah dan rerumputan hijau, rumah informasi dan area parkir, bangunan aula dan jalan-jalan setapak dengan batu sikat, saat ini terlihat lebih indah dengan pembenahan di beberapa sudut.

Nuraini salah satu juru pelihara Makam Raden Intan II memperlihatkan peninggalan barang sejarah temuan di sekitar benteng Cempaka. [Foto: Henk Widi]
Pemugaran atau renovasi yang sudah dikerjakan sejak awal bulan Oktober ini menjadi kelanjutan dari rehabilitasi yang dilakukan sejak 1980, 2000 hingga 2017 ini.

Menurut Nuraini, renovasi terlihat mencolok sejak haul ke-160 Raden Intan pada 2016, yang dilakukan oleh ahli waris Raden Intan II dari Kuripan, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan pengecatan pakaian Raden Intan II.

Pada 2017, renovasi besar-besaran pada beberapa bagian terutama terlihat mencolok. Semula pakaian yang dikenakan Raden Intan II berwarna coklat keemasan, kini menjadi biru dan kuning keemasan.

“Pembenahan atau renovasi terhadap cagar budaya sekaligus sejarah Pahlawan Raden Intan II ini merupakan upaya berbagai pihak, di antaranya pemerintah pusat, daerah, yang memberi perhatian pada peninggalan sejarah nasional ini”, terang Nuraini, saat dikomfirmasi Cendana News, Minggu (29/10/2017).

Lokasi yang mudah dijangkau dari Bakauheni dengan jarak sekitar 20 kilometer dan dari Bandarlampung sekitar 100 kilometer tersebut, kata Nuraini, merupakan peninggalan sejarah yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten Wilayah Kerja Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung.

Dari tahun ke tahun, kunjungan tersebut cukup meningkat dengan kisaran 1.000 hingga 4.000 orang, bahkan sejak Juli 2017 berdasarkan buku register jumlah kunjungan tercatat sebanyak 4.167 pengunjung, Agustus mencapai 3.161 pengunjung, September sekitar 4.000 pengunjung lebih sementara bulan Oktober sebelum proses penutupan rekapitukasi data akhir bulan sudah mencapai 4.000 pengunjung.

Dalam data register tersebut dominasi kunjungan wisata ke makam Raden Intan II atau Benteng Cempaka di Desa Gedung Harta, di antaranya dengan tujuan ziarah, pengenalan sejarah, karya tulis, karya wisata, penelitian prasejarah, kunjungan kerja dan renovasi. Kunjungan tersebut tercatat mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, umum, dinas serta warga negara asing yang mengunjungi kompleks makam Raden Intan II.

Juru pelihara lain di Makam Raden Intan II, Al Imron, menyebut pengunjung yang semakin meningkat sejak 2015 merupakan imbas positif adanya pelestarian cagar budaya dan sejarah tersebut, terutama karena ada dua hal pokok peninggalan cagar budaya berupa kubu pertahanan yang dibuat oleh tangan manusia dan makam Raden Intan II.

Sementara itu berbagai fasilitas penunjang merupakan aset yang juga harus dibenahi untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung berupa toliet, jalan setapak serta aula atau tempat pertemuan yang merupakan pengembangan lanjutan.

Al Imron mengaku, jumlah kunjungan wisatawan ke Makam Raden Intan II berdasarkan statistik pengunjung didominasi 60 persen dari Pulau Jawa, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta dan Banten. Sisasnya dari Pulau Sumatera, bahkan hingga Aceh, mengingat Raden Intan II memiliki sejarah kekerabatan dengan Aceh menelisik pada silsilah keluarganya dari Kesultanan Banten dan Aceh.

”Sisi positif dari pemugaran beberapa fasilitas memang membuat makam pahlawan Raden Intan lebih terlihat menarik dan nyaman untuk dikunjungi sebagai destinasi wisata”, terang Al Imron.

Hingga akhir Oktober ini, renovasi pada beberapa bagian kompleks pemakaman terus dilakukan, di antaranya perbaikan pada relief perjuangan pahlawan Raden Intan II di bagian depan, pengecatan gerbang depan, rumah panggung, pemugaran patung berupa pengecatan, jalan setapak dengan batu sikat, perbaikan sarana MCK, serta penambahan fasilitas peneduh pada bagian makam.

Perbaikan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Provinsi Lampung tersebut, diakui Al Imron juga menjadi sebuah perhatian bagi destinasi wisata sejarah di Kecamatan Penengahan tersebut, meski juru pelihara berharap pada bagian area parkir yang sebagian masih berupa tanah dan rumput bisa diganti menjadi paving, agar tidak becek saat hujan dan memberi kenyamanan bagi pengunjung.

Selain benteng dan makam beberapa peninggalan yang ada di sekitar makam tersimpan dalam lemari kaca rumah informasi dari peluru, pecahan piring keramik, uang koin serta berbagai barang unik lain dari sisa perjuangan pejuang dan Raden Intan II.

Temuan terbaru yang ditemukan beberapa tahun silam di antaranya berupa peluru sebanyak 45 butir peluru yang ditemukan oleh warga bernama Kosasih, dengan lokasi penemuan berada sekitar 100 meter dari Benteng Cempaka, Desa Gedung, dan menjadi pelengkap koleksi peninggalan barang bersejarah pada masa perjuangan melawan Belanda oleh pasukan Raden Intan II.

Salah satu pengunjung asal Provinsi Banten, Ade Supitra Negara, mengaku sengaja mendatangi makam Raden Intan II dengan tujuan napak tilas terkait keturunan keluarganya dari kesultanan Banten. Ia mengaku berkunjung ke Makam Raden Intan II yang kesekian kali sekaligus ingin berziarah ke makam Ratu Darah Putih dan juga peninggalan Raden Imba Kesuma Ratu.

“Saya lama tidak ke sini, ternyata sudah sangat bagus bahkan pembenahan di beberapa bagian sudah sangat membantu bagi pengunjung yang ingin melihat sejarah perjuangan Raden Intan II”, ungkap Ade Supitra Negara.

Ia berharap, pemerintah bisa memperhatikan peninggalan sejarah di Lampung Selatan tersebut, agar sejajar dengan destinasi wisata sejarah dan religi lain, sehingga kunjungan wisatawan bisa terus meningkat. Selain itu, dengan renovasi pada beberapa bagian makam membuat pengunjung lebih nyaman terutama pada bulan bulan tertentu menjelang bulan Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha.

 

Lihat juga...