Permintaan Tinggi Kayu Merah Picu Kelangkaan di Lampung
LAMPUNG — Kayu merah julukan bagi sejumlah kayu berkualitas di wilayah Lampung seperti jenis kayu pohon Bayur, Mahoni, Kelapa, Durian serta beberapa jenis kayu lain. Permintaan akan jenis kayu merah ini begitu tinggi sehingga memicu pencarian besar besaran kayu tersebut sebagian dikirim dalam bentuk gelondongan ke wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
Tingginya permintaan akan kayu merah tersebut dibenarkan oleh Ulman (30) penrajin kayu di Desa Baktirasa, Kecamatan Sragi. Ulman menyebut sebagian pemborong kayu sengaja membeli dari petani pekebun pemilik berbagai jenis kayu merah dengan pembelian sistem borongan.
Pembelian sistem borongan sudah menyasar sejumlah wilayah di dekat kawasan Gunung Rajabasa meski jaraknya jauh dari kawasan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Gunung Rajabasa. Beberapa jenis kayu merah yang sebagian tumbuh secara alami tanpa budidaya khusus tersebut di antaranya kayu Bayur kerap dibeli dengan sistem borongan.
Jumlah yang dibeli hingga puluhan batang dengan harga Rp50 juta hingga Rp70 juta dengan estimasi harga per batang bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta. Hal itu tergantung cak cakan atau perhitungan pemborong.
“Jarang pemborong membeli dalam sistem kubikasi saat membeli dari petani karena kayu dijual kembali ke tempat pengetaman kayu di Jakarta dan wilayah lain dengan sistem log atau gelondongan baru diolah dengan mesin serkel kayu,” ujar Ulman saat ditemui Cendana News tengah melakukan penyelesaian pesanan furniture kayu di Desa Baktirasa Kecamatan Sragi, Rabu (25/10/2017).

Selisih harga bahkan bisa berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta menyesuaikan usia pohon dan kualitas kayu yang dijual dengan harga kubikasi sebagai bahan kusen bangunan rumah atau furniture.
Harga kayu merah jenis kayu Bayur dan kayu Durian pada bulan Oktober diakui Ulman saat ini bisa mencapai kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta per kubik. Sementara harga kayu jenis Medang hanya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta di tingkat panglong atau pengepul kayu.
Meski demikian Ulman menyebut bagi sebagian besar masyarakat Lampung penggunaan kayu merah justru minim karena dominan penggunaan justru pada kayu putih menyesuaikan iklim di wilayah tersebut.
“Di wilayah Lampung dengan daerah yang cenderung kerap hujan kayu merah justru kerap diserang bubuk sehingga kurang diminati sebaliknya di Pulau Jawa dari pengalaman saya kerja di Jakarta justru sangat cocok menjadi alasan kayu merah banyak dikirim ke Jawa,” kata Ulman.
Penebangan kayu merah dengan faktor permintaan yang tinggi dan kebutuhan ekonomi masyarakat menjadi pemicu langkanya jenis kayu merah yang awalnya banyak ditanam masyarakat. Salah satunya di wilayah Desa Tanjungheran Kecamatan Penengahan. Darsim (50) pemilik kebun dengan puluhan pohon Bayur, mengakui sudah menjual sebagian besar kayunya untuk kebutuhan kuliah anaknya.
Kebutuhan ekonomi diakuinya menjadi salah satu faktor penjualan kayu merah meski diakuinya jenis kayu tersebut mudah tumbuh asal memiliki pohon berusia tua yang bisa menyediakan benih meski usia panen bisa mencapai 8 hingga 10 tahun.
Laki laki yang menjual puluhan kayu bayur dengan sistem borongan mencapai Rp50juta tersebut mengaku kayu Bayur yang dibeli ditebang dan dibuat gelondongan sepanjang 3 hingga 4 meter dan dikirim ke Serang.
“Saya menyisakan beberapa batang untuk kebutuhan membuat rumah anak saya karena tanaman sebelumnya sudah saya pelihara sejak belum menikah,” beber Darsim.
Selain Darsim, Harno (36) warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan justru memelihara berbagai jenis kayu merah di lahan miliknya seluas setengah hektar dengan sistem tebang pilih. Ia menyebut sudah melakukan proses penebangan jenis kayu Durian yang sudah tak produktif, Bayur dan Mahoni yang dijual sebagai modal baginya memulai usaha membuat warung.
Meski sudah mulai langka, beruntung beberapa benih yang tumbuh secara alami kini sudah berkembang rata rata berusia sekitar 5 tahun dengan ketinggiaan 20 meter dan diameter terbesar mencapai 50 sentimeter.
Rencananya tanaman ini investasi bagi anaknya yang masih sekolah. Sebagian besar tanaman tersebut telah dipilah dengan menyisakan pohon yang memiliki batang lurus dan berkualitas baik dilihat dari bentuk batangnya.
“Banyak warga lain yang meminta bibit kepada saya, terutama saat awal musim berbunga tanaman Bayur bisa disemai dan ditanam dikebun sebagian tumbuh alami dan bisa dicabut bibitnya untuk dipindahkan,” cetus Harno.
Sebagai tanaman yang kerap tumbuh di lereng Gunung Rajabasa dan menjadi tanaman liar berbagai jenis kayu merah seperti Bayur, Durian, Mahoni sudah jarang dibudidayakan warga secara intensif bahkan sebagian masyarakat lebih memilih menanam beberapa jenis kayu sejenis di antaranya Jati Ambon dan Sengon.

Penanaman jenis kayu tersebut selain lebih cepat panen dengan usia 5-6 tahun diakui Harno sistem penanaman bisa dilakukan di dekat perumahan tanpa membahayakan jika terjadi angin besar atau cuaca buruk. Sementara itu jenis kayu merah seperti Bayur dengan tajuk yang tinggi kerap ditanam di perkebunan yang jauh dari perumahan warga dan bisa dipanen setelah lebih dari 8 tahun.
Penebangan yang terus menerus tanpa diimbangi dengan penanaman ulang membuat beberapa jenis kayu merah sulit dijumpai di lahan perkebunan warga bahkan sebagian besar masih tumbuh alami di kawasan hutan Gunung Rajabasa.
Upaya penanaman kembali oleh masyarakat pun sudah berkurang karena memperhitungkan lamanya usia panen. Masyarakat memilih merombak lahan dan mengganti tanaman yang lebih cepat panen seperti pisang dan jagung menambah pemicu kelangkaan kayu merah dan mendorong harga semakin tinggi dari tahun ke tahun sebagai bahan bangunan.