Nobar Film G30S-PKI di Depok, Pelaku Sejarah Ungkap Tiga Tokoh Kunci

DEPOK – Sejumlah wilayah di Kota Depok nyaris merata menggelar nonton bareng (nobar) film ‘Pengkhianatan G30S-PKI’. Salah satunya di lingkungan RW 03 Kelurahan Depok Jaya.

Sekira ratusan warga mulai dari anak-anak hingga orangtua, laki-laki maupun perempuan tampak antusias menonton film yang dihelat atas kerjasama RW 03, Dewan Kesejateraan Masjid (DKM) Taman Firdaus, Karang Taruna (Katar), Ristafa, dan Kodim 0508 di lapangan basket komplek Balai RW 03.

Setelah sempat diguyur hujan sebelum waktu Isya setempat, cuaca kembali bersahabat, bahkan sang rembulan pun menerangi warga yang datang berduyun-duyun memadati areal lapangan basket itu. Lantai lapangan yang basah setelah diguyur hujan tak menghalangi semangat warga untuk menyaksikan film yang sempat tak tayang sejak memasuki era reformasi tersebut.

Sekira pukul 20.00 WIB, warga dan panitia berseragam kaos putih bergambarkan monumen dan bertuliskan ‘Pahlawan Revolusi’ di muka dan bagian belakang bertuliskan ‘Komunis No, Pancasila Yes’ bergotong royong memindahkan kursi ke lapangan basket yang semula menonton di Balai RW.

Film Pengkhianatan G30S-PKI baru diputar pada menit-menit mendekati pukul 21.00 WIB berlangsung hingga dini hari.

Di tengah acara, panitia melempar kuis untuk penonton dengan hadiah berupa kaos. Pertanyaan panitia, salah satunya terkait surat apa yang diberikan Presiden Soekarno untuk menumpas PKI, terjawab oleh penonton perempuan, ‘Supersemar’.

Ketua RW 03, Firmansyah, dalam kesempatan nobar film tersebut, mengaku cukup bangga, karena ternyata generasi muda di sini cukup antusias. “Ini perlu kita support bagi anak-anak agar jangan sampai kita melupakan sejarah,” imbuhnya.

Ia pun berbagi cerita, sempat bertemu dua kali dengan sang sutradara film ‘Pengkhianatan G30S-PKI’ Arifin C Noer. “Saya bersyukur pernah ketemu dengan sutradara film G30S-PKI,” ujarnya, di lokasi pemutaran film, Sabtu (30/9/2017) malam.

Firmansyah juga mengaku, hari ini (Sabtu) juga bertemu dengan tiga orang yang menjadi saksi hidup dari keluarga Jenderal Abdul Haris Nasution. “Tadi saya bertemu putrinya, kakaknya Dewi Suryaningrum, lalu ada yang menggendong Ade Irma Suryani, Bu Patijah, dan ada rekan satu kamar Piere Tendean, Opung Hamdani,” katanya.

Menurut Firmansyah, film ini mendekati kebenaran. Jadi, kalau ada isu-isu, bahwa film ini tidak benar, kata Firmansyah, insya Allah ini sudah ada bukti sejarahnya, dari saksi-saksi yang langsung saya temui.

Sementara itu, salah satu pelaku sejarah yang didaulat maju untuk memberikan testimoni, Samhudi, mengatakan 52 tahun lalu ada Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ingin mengganti negara Republik Indonesia, Pancasila mau diganti oleh PKI. Ia pun mengaku menjadi salah satu orang yang diburu PKI.

“Pada saat itu saya umur 19 tahun. Saya termasuk orang yang didaftar oleh PKI nomor 1 di kampung saya. Karena waktu itu, saya kebetulan ketua PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang Ngemplak, lokasinya di utara Solo, masuk Kabupaten Boyolali,” kisahnya.

Waktu kejadian kudeta PKI, kata Samhudi, di Jakarta sudah luar biasa, di daerah bingung, ada apa ini. “Pada saat terjadi 30 September itu saya baru selesai mengikuti ujian guru Agama di Boyolali. Untung saya sudah pulang, kalau tidak saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian,” tuturnya.

Dikatakan Samhudi, pada saat itu, di Solo benar-benar mencekam dan menakutkan. Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dikirim dari Jakarta ke Markas RPKAD di Kartasuro, Kandangmenjangan, Solo.

“Setelah datang di Kartosuro kemudian berkenalan dengan kita yang anti komunis di Solo. Beberapa truk keliling Solo, kita sukaria menyambut RPKAD, karena kehadirannya yang paling ditakuti oleh PKI,” tuturnya.

Setelah memberikan penyambutan selamat datang kepada ratusan RPKAD, mungkin satu batalyon pada saat itu, kata Samhudi, dan seusai RPKAD mengelilingi Solo kembali ke Kandangmenjangan, PKI lalu menyiapkan truk-truk. PKI siapkan kendaraan dan mengajak warga yang hendak pulang tujuan Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali.

“Itu nama-nama kabupaten di sekitar Solo. Orang-orang tidak tahu, bukan dibawa antar ke kampungnya tapi dibawa ke Bengawan Solo, disiksa habis-habisan sampai akhirnya dibunuh dengan cara yang keji dan kejam seperti di film ini (G30S-PKI),” ujarnya.

Ia pun menasehati anak-anak yang turut menonton film, bahwa film ini hanya sekedar ditonton bukan untuk ditiru. “Pelajari dan dipahami, bahwa PKI sekejam itu. Kita di Jalan Slamet Riyadi ditembaki pada saat itu, lari tunggang-langgang menyelamatkan diri masing-masing, yang namanya peluru lewat kanan kiri kepala kita, karena ada dua batalyon tentara PKI yang disiapkan di Solo untuk membumihanguskan Solo dan sekitarnya, orang-orang yang bukan PKI pada saat itu,” imbuhnya.

Alhamdulillah, Allah punya skenario lain, lanjut Samhudi, pada pagi harinya ada dua batalyon yang ingin menyerang semua orang yang ada di Solo dan sekitarnya yang anti PKI, terutama orang-orang yang beragama, karena PKI tidak kenal Allah, setelah mengetahui RPKAD kembali ke Solo, baret merah itu, dua batalyon yang PKI itu dilempar.

“Karena kehendak Allah, dua batalyon yang pakai baret merah itu menyerah. Akhirnya berbalik, kita mencari keberadaan mereka,” imbuhnya.

Dari sejarah pula, lanjutnya, kita semua tahu perwira pertama penjaga AH Nasution telah diculik, dibunuh dengan cara-cara yang luar biasa kejam, sadis, dan dibuang di lubang buaya.

Ditambahkan Samhudi, Allah punya skenario, ada tiga tokoh nasional yang menyelamatkan bangsa Indonesia. Tokoh yang disebut Samhudi, yakni AH Nasution, Soeharto, dan Sarwo Edhie Wibowo. “Yang pertama Jenderal AH Nasution. Dia itu sebetulnya akan diculik juga, tetapi bisa lari. Saat sedang melompat tembok rumahnya, ditembak kakinya. Akhirnya Pak Nasution selamat,” tuturnya.

Dengan selamatnya Jenderal Nasution, maka kemudian menelepon Mayor Jenderal Soeharto yang waktu itu komandan Kostrad.

“Mayjen Soeharto kemudian telepon Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD pusat . RRI yang dikuasai mereka (PKI) direbut kembali. Kemudian siaran RRI kumandang lagi, dan akhirnya ditangkapilah orang-orang yang jahat itu, PKI oleh RPKAD. Selamatlah bangsa Indonesia,” cerita Samhudi.

Kini, kata Samhudi, kita memperingati G30S-PKI bertepatan tanggal 10 Muharram. “Pada 10 Muharram, Allah ciptakan langit, bintang, bulan, matahari, Nabi Adam, Nabi Musa menang dari Raja Firaun, Nabi Yunus keluar dari perut ikan. Al Quran itu 2/3 persen sejarah. Maka, kita tidak boleh meninggalkan sejarah, Jas Merah,” imbuhnya.

Dalam konteks sejarah Indonesia, Samhudi mengajak untuk tidak melupakan sejarah kelam G30S-PKI, seperti dengan mengawal nobar film ‘Pengkhiantan G30S-PKI yang berdurasi sekira tiga setengah jam.

Senada dengan Walikota Depok, Mohammad Idris, melalui akun twitter-nya @IdrisAShomad, yang mengatakan ini adalah sebuah inovasi pada masa reformasi untuk mengingatkan kepada anak bangsa, bahwa kita dahulu punya sejarah kelam.

“Nobar film G30S-PKI merupakan sarana untuk mengingatkan anak bangsa bahwa dulu kita punya sejarah kelam,” kata Idris seusai nobar film G30S-PKI di Lapangan Makobrigif 17/Kostrad pada Kamis (28/9/2017) sebelumnya, di akun resmi facebook-nya.

Lihat juga...