Kesedihan Seno Mencari Ibunya, Pekerja Pabrik Petasan Kosambi

JAKARTA – Di antara sejumlah keluarga korban yang datang ke Crisis Center Posko Ante Mortem Rumah Sakit (RS) POLRI dr. Said Soekanto, ada seorang anak laki-laki yang mengaku bernama Seno (12).

Seno belakangan diketahui masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Kelas 6. Dirinya tampak terlihat kebingungan dan sesekali mengusap air mata. Seno datang ke RS POLRI didampingi sejumlah anggota keluarganya. Dirinya diketahui sedang mencari ibunya yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya.

Sebelumnya Seno sempat mendatangi sejumlah Rumah Sakit (RS) yang ada di daerah Kosambi, namun hingga saat ini keberadaan ibunya masih belum diketahui, apakah masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Saat ditemui sejumlah wartawan di RS. POLRI Kramat Jati, Jakarta Timur, Seno menceritakan bahwa ibunya yang bernama Sani hingga siang ini belum pulang, kembali ke rumahnya. Seno mengaku bahwa ibunya diketahui baru bekerja selama 3 minggu di Pabrik Petasan PT. Panca Buana Cahaya, Kosambi.

Menurut pengakuan Seno, dia sempat bertemu ibunya sebelum dirinya berangkat ke sekolah. Pada saat terjadinya peristiwa ledakan dan kebakaran pabrik petasan, Seno diketahui sedang berada di sekolah.

Sementara itu, menurut keterangan sejumlah saksi mata membenarkan bahwa kejadian ledakan pabrik petasan tersebut pertama kali dilaporkan terjadi pada sekitar pukul 09:00 WIB, Kamis (26/10/2017). Pada saat terjadinya ledakan, Seno diketahui sedang mengikuti sejumlah program pelajaran di sekolahnya. Dia mengaku sama sekali tidak mendengar suara ledakan. Hal tersebut dimungkinkan karena lokasi sekolah memang agak berjauhan dengan lokasi pabrik petasan yang dimaksud. Selang beberapa jam kemudian Seno pulang kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Seno masih mendengar suara ledakan susulan yang diduga bersumber dari pabrik petasan. Seno menceritakan bahwa jarak atau lokasi antara pabrik petasan dengan rumahnya kebetulan berdekatan atau hanya berjarak sekitar 100 meter. Tak lama kemudian Seno langsung bergegas menuju lokasi pabrik yang dimaksud. Sesampainya di lokasi dia bertemu dengan ayahnya yang lebih dulu tiba di lokasi.

Mereka berdua bermaksud ingin mencari keberadaan Sani yang pada saat itu diketahui sedang bekerja di pabrik petasan PT. Panca Buana Cahaya. Sesampainya di depan pabrik, Seno dan ayahnya tidak diizinkan masuk oleh pihak kepolisian, atas alasan keamanan dan keselamatan. Kemudian mereka mencoba mendatangi sejumlah RS untuk mencari keberadaan Sani. Namun yang bersangkutan hingga saat ini belum juga ditemukan dimana keberadaannya.

“Saya datang ke sini ditemani sejumlah anggota keluarga, tujuannya hanya ingin mencari keberadaan ibu saya yang bernama Sani. Sebelumnya saya sudah mencari ke beberapa Rumah Sakit (RS), namun hingga saat ini masih belum ditemukan. Sekitar tiga minggu yang lalu ibu sempat bilang sudah kerja di pabrik tersebut. Saya hanya berharap ibu dapat ditemukan dan selamat,” katanya kepada sejumlah wartawan di RS. POLRI, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (27/10/2017).

Tak lama setelah memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan, Seno menitikkan air mata. Seno kemudian menyudahi wawancaranya dan langsung bergegas pergi menghampiri sejumlah anggota keluarganya di RS POLRI Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum ada rencana kapan akan digelar jumpa pers terkait perkembangan terbaru terkait korban ledakan dan kebakaran pabrik petasan Kosambi. Belum ada satupun pejabat berwenang yang bersedia memberikan pernyataan kepada wartawan di RS POLRI dr. Soekanto.

Saat dihubungi sejumlah wartawan, Kombes Polisi Edy Purnomo, Kepala Instalasi Forensik RS POLRI Soekanto hanya menjelaskan bahwa untuk sementara ada 20 kantong jenazah yang berhasil diidentifikasi. Namun dirinya masih enggan atau belum bersedia mengungkapkan secara rinci nama-nama sekaligus identitas jenis kelamin 20 korban yang dipastikan telah meninggal dunia tersebut.

 

 

Lihat juga...