Kebutuhan Berkelanjutan Tanaman Bambu, Tumpuan Warga Lampung

LAMPUNG – Kebutuhan akan tanaman bambu sebagai tanaman liar yang tumbuh di dekat kawasan hutan serta sebagian sudah dibudidayakan secara khusus oleh masyarakat di wilayah Desa Padan, Desa Kuripan, dan Desa Rawi di Kecamatan Penengahan di tepi sungai dan perkebunan yang jauh dari perkampungan masih terus berlangsung hingga kini.

Amir Hamzah (36), warga Desa Padan bahkan mengaku tetap mempertahankan sepuluh rumpun bambu yang dimilikinya sebagai sumber penghasilan karena kebutuhan bambu oleh perajin dengan bahan baku bambu masih cukup tinggi. Kerajinan wadah makanan, geribik, sangkar burung, keronjot, gagang sapu hingga kebutuhan bangunan bahkan masih menjadikan bambu sebagai kebutuhan yang penting.

Puluhan rumpun bambu yang dimiliki oleh Amir Hamzah diakuinya pernah hendak dimusnahkan ketika harga bambu per batang hanya Rp500 serta kebutuhan akan bambu  masih terbatas. Namun pasca proses penggusuran lahan untuk proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) kebutuhan bambu sebagai bahan bekisting bangunan sistem cor dak membuat harga bambu melambung menjadi Rp2.000 per batang dengan ukuran rata-rata 15 meter.

Murdi, salah satu pedagang peralatan penghobi burung dan ternak dari bambu.[Foto: Henk Widi]
“Beruntung saya tidak musnahkan meski dengan adanya rumpun bambu berimbas lahan yang saya miliki nyaris menyerupai hutan bambu. Selanjutnya beberapa rumpun bambu baru sengaja saya budidayakan karena lahan jauh dari perumahan warga,” terang Amir Hamzah saat ditemui Cendana News di lahan kebun bambu miliknya yang sekaligus dekat dengan lahan persawahan di wilayah tersebut, Rabu (25/10/2017).

Selain memiliki nilai ekonomis dengan penjualan rata-rata Rp500 batang atau senilai Rp500.000 sekali jual bahkan bisa lebih, sekaligus berfungsi sebagai penahan longsor dan sumber air bersih yang dimanfaatkan sebagai lokasi pembuatan kolam ikan. Hal itu ikut memberinya manfaat yang cukup banyak dibandingkan jika tanaman bambu tersebut dimusnahkan.

Beberapa jenis bambu yang sengaja dipertahankan diakuinya adalah jenis bambu hitam dan bambu tali serta sebagian bambu kuning yang ditanam sebagai penahan longsor di tepi sungai.

Amir Hamzah menyebut, kebutuhan akan bambu sebagai bahan bangunan dan kerajinan meski tidak sebanyak kebutuhan akan kayu dikirim untuk kebutuhan luar daerah seperti ke wilayah Serang Banten yang banyak dipergunakan untuk pembuatan bangunan. Selain berasal dari kebun yang dimiliki biasanya pengepul mencari kebutuhan bambu yang telah dipotong berukuran 3 meter tersebut dikirim bersama dengan pengiriman kayu balken yang dimiliki oleh pengusaha panglong kayu.

“Selain bernilai jual, sejak dahulu keluarga kami memang mempertahankan tanaman bambu karena fungsi yang banyak. Termasuk sebagai penyedia air dan juga peneduh bagi tanaman lain,” cetus Amir.

Salah satu perajin bambu, Suwarti, warga Dusun Banyuurip Desa Kuripan menyebut, membuat geribik berbahan bambu dengan harga per lembar saat ini mencapai Rp100.000. Sebagian kebutuhan bambu dibeli dari pemilik kebun bambu yang ada di wilayah tersebut.

Kebutuhan akan bambu untuk geribik sebagai dinding rumah sebagian juga dimanfaatkan oleh pelaksana proyek sebagai pagar serta sebagai pelapis proses pengecoran rabat beton jembatan. Beberapa perajin bambu di antaranya Sulami, warga Dusun Banyuurip, bahkan masih memanfaatkan bambu dalam pembuatan ceting, tenggok, serta wadah dari anyaman bambu untuk peralatan dapur.

Kebutuhan akan bambu dengan produk turunan berupa keronjot serta bahan bermanfaat lain di antaranya kandang ayam mini dan sangkar burung kicau diakui oleh Murdi, salah satu penjual peralatan penghobi burung dan peternak. Sebagian besar peralatan yang dijual diakuinya berasal dari perajin bambu sehingga ia memastikan kebutuhan akan bambu masih terus berlanjut. Apalagi hobi dari masyarakat yang masih mempergunakan produk dari bambu.

“Keberadaan tanaman bambu menurut saya pasti sangat bermanfaat karena buktinya barang kebutuhan masih banyak terbuat dari bambu dan tentunya harus diiringi dengan penanaman juga,” terang Murdi.

Selama kebutuhan akan peralatan dari bambu masih diminati masyarakat, ia memastikan, para pemilik kebun atau lahan yang ditanami bambu tetap mempertahankan tanaman bambu yang sekaligus memiliki manfaat positif bagi lingkungan tersebut.

Suwarti, salah satu perajin geribik bambu di Kecamatan Penengahan. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...