MAUMERE – Kampung Dobo merupakan sebuah kampung tua berbentuk lingkaran. Di tengah perkampungannya terdapat batu Mahe atau Watu Mahe dan Menhir yang merupakan tempat keramat atau semacam altar tempat pemujaan saat menggelar ritual adat.
Rumah-rumah penduduknya menggunakan tiang kayu dan berdinding Halar (bambu belah) yang hampir semua rumah terdapat kaum perempuan yang menenun di sebauh bangunan beratap daun kelapa di samping rumah.
Pekan kemarin, puluhan wisatawan asing asal Amerika Serikat mendatangi kampung di desa Ian Tena, kecamatan Kewapante kabupaten Sikka, yang bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat selama 30 menit perjalanan dari kota Maumere.
“Ibu Phyllis Hischier, wisatawan asal Amerika serikat tahun 2016 berkunjung ke kampung kami dan beliau sangat tertarik dengan tingkat kehidupan dan peradaban masyarakat di sini,” ungkap Kanisius Ani.
Kanisius selaku ketua sanggar Jong Dobo ini, kepada Cendana News mengatakan, Phyllis saat hendak pulang, mengatakan, pada 2017 akan datang lagi dengan mengajak teman-temannya dari Amerika Serikat. “Sehingga beliau datang saat ini bersama rombongan”, katanya.

Saat di kampung Dobo, jelas Kanisius, para wisatawan disuguhi tarian dan melihat proses tenun tradisional serta kampung tua dan perahu Jong Dobo berbahan perunggu yang merupakan artefak kuno.
“Ibu Phyllis sangat tertarik dengan kain tenun kami, karena memiliki corak dan motif yang sangat bagus, sehingga dia kembali datang dan mengajak teman-temannya membeli kain tenun kami juga,” ungkapnya.
Setelah disambut dengan tarian dan melihat kampung tua serta proses menenun, para wisatawan diajak melihat Jong Dobo, perahu perunggu yang berusia ratusan tahun sisa peninggalan masa lampau Tana Puan (Pemuka Adat) Sergius Moa.
Setelah tiba di lokasi tersimpannya Jong Dobo, Sergius Moa selaku juru kunci dan penjaga artefak kuno Jong Dobo, membuat ritual memanggil kapal ini hingga muncul dan diperlihatkan kepada wisatawan sambil menceritakan tentang sejarah keberadaan Jong Dobo.
“Kapal ini namanya Jong Dobo dan telah berubah menjadi kecil, karena kapten dan para penumpang yang ada di dalam kapal telah melanggar kesepakatan bersama sebelum mereka pergi berlayar, sehingga terkutuk berubah menjadi kecil hingga saat ini”, tutur Sergius.
Jong adalah kata bahasa Sikka, yang berarti Perahu atau Kapal, di mana miniatur perahu itu terbuat dari perunggu dengan ukuran panjang 60 cm, tinggi 12 cm, dan lebar bagian tengah 8 cm.
Selain itu, terdapat 22 patung manusia yang diyakini awak kapal yang saat itu sedang berlayar menggunakan perahu ini dan terkena kutukan hingga berubah menjadi kecil dan menjadi patung.