Sektor Industri Potensial Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim
BALIKPAPAN — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur menilai dampak pelemahan harga komoditas terhadap pertumbuhan regional mulai berkurang, seiring dengan membaiknya pertumbuhan global dan harga komoditas. Kendati demikian, tren pertumbuhan tersebut masih cukup rentan karena fundamentalnya belum cukup kuat dan beresiko.
Deputi Kepala Kpwk Bank Indonesia Kaltim Harry Aginta menjelaskan sejalan dengan strategi pembangunan yang berbasis industri, ke depan struktur perekonomian di Kalimantan Timur diharapkan akan ikut berubah yang tetap berbasis pada sumber daya lokal yang ada.
“Ke depan struktur perekonomian Kaltim harapannya juga ikut berubah namun tetap berbasis pada SDM lokal,” ungkapnya Selasa, (26/9/2017).
Menurutnya, efek harga komoditas yang melemah berdampak luas tidak hanya terhadap pertumbuhan, namun juga ke aspek lainnya seperti daya dukung dan kapasitas fiskal akibat turunnya alokasi ke daerah. Sedangkan sektor perbankan mengalami kenaikan NPL dan penurunan penyaluran kredit akibat kalangan bankir yang cenderung menahan diri ke sektor komoditas.
Harry menuturkan dengan kondisi di daerah tersebut maka pemerintah daerah tidak berdiam diri dalam melakukan pembenahan iklim investasi, terbukti dari upaya Pemerintah Kota Balikpapan yang telah tengah menjadi project percontohan dalam program KLIK dari pemerintah pusat untuk Kawasan Industri Kariangau (KIK).
Berdasarkan data Bank Sentral pertumbuhan ekonomi Kaltim pada kuartal II mencapai 3,6% dan 0,6% ditopang oleh kontruksi. Hal ini ditunjang oleh adanya pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya.
“Pembangunan infrasruktur masih berjalan, baik dalam jangka pendek ataupun panjang. Terbukti ekonomi Kaltim masih tumbuh dan di kuartal II tumbuh 3,6%,” paparnya.
Disebutkannya, secara umum strategi pembangunan di Kalimantan Timur yang perlu dilakukan ke depan adalah melakukan diversifikasi basis pertumbuhan ekonomi dan mendorong pertumbuhan sektor tersier (perdagangan).
“Sejauh ini telah terjadi deindustrialisasi di Kaltim yang ditunjukkan adanya penurunan porsi industri dari 40% menjadi 20% digantikan sektor komoditas,” tandas Harry.
Dia menambahkan berdasarkan hasil studi Bank Indonesia ditemukan bahwa sektor industri adalah sektor yang potensial menjadi sumber pertumbuhan karena didukung secara struktur dan pembiayaan perbankan. Sementara itu, pembangunan infrastruktur akan memberikan efek positif jangka panjang untuk mempercepat proses industrialisasi dari pertumbuhan ekonomi.