Pembenahan Pantai Kunjir Hidupkan Ekonomi Warga Pesisir
LAMPUNG — Wayan Suardi, warga Pekon Yogaloka, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, terlihat santai menikmati deburan ombak dari Selat Sunda memecah penghalang ombak yang ada di hadapannya, tepat di pesisir pantai wisata Kunjir, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Sisi lain melintasi jalan lintas pesisir, kini sangat nyaman dengan geliat sejumlah tempat wisata yang terus ditata dengan baik, salah satunya di ruas jalan Desa Kunjir yang beberapa tahun sebelumnya kerap dilanda terjangan ombak. Terjangan ombak tersebut bahkan mengakibatkan beberapa ruas jalan ambrol akibat dahsyatnya abrasi, hingga akhirnya tanggul penahan ombak dibangun di wilayah tersebut.

Sebagai sebuah jalan perlintasan antar kecamatan dan jalan lingkar Gunung Rajabasa, jalan pesisir di Desa Kunjir kini menjadi lokasi perhentian para pengendara kendaraan yang akan menuju kota Kalianda dan sebaliknya menuju ke pelabuhan penyeberangan Bakauheni Lampung.
Rasa nyaman berhenti di pantai wisata Kunjir, kata Wayan, cukup beralasan karena saat ini selain dilengkapi saung-saung tempat berteduh beberapa tempat penjual kuliner tradisional berupa pecel, mie ayam, bakso serta berbagai makanan ringan tersedia. Saat haus, beragam minuman dari teh manis hingga jus beragam buah hasil perkebunan warga termasuk kelapa muda disiapkan oleh beberapa pedagang yang merupakan warga Desa Kunjir.
Selain nyaman, dirinya juga bisa menikmati suasana kesejukan pantai tanpa kuatir diminta uang parkir, karena semuanya disediakan secara gratis hanya cukup membayar makanan dan minuman yang dibeli.
Lokasi tepi pantai wisata Kunjir yang dilengkapi saung-saung lesehan, menjadi tempat masyarakat nelayan menyediakan fasilitas sewa perahu untuk menuju ke pantai batu lapis (batu lapis park) dan pulau Mengkudu, dengan biaya Rp30 ribu pulang pergi. Dirinya menyebut, pernah menggunakan jasa sewa perahu tersebut untuk mengantar beberapa rekannya yang berasal dari luar Lampung menikmati destinasi wisata di Pulau Mengkudu dan batu lapis.
Menggeliatnya sektor wisata di wilayah Kunjir juga mendorong warga sekitar yang memiliki usaha kuliner menyediakan saung-saung lesehan untuk berjualan makanan dan minuman pelepas dahaga dan lapar wisatawan yang menikmati destinasi wisata di pesisir.
Ani, salah satu pemilik usaha kuliner menyebut dengan pembenahan pantai wisata Kunjir berupa penahan ombak serta saung-saung serta penanaman pohon kawasan tersebut semakin tertata.
“Posisinya yang berada di dekat jalan lintas dan bisa memandang Gunung Krakatau kerap membuat wisatawan mampir dan menikmati pemandangan di pantai wisata Kunjir, bahkan menyempatkan untuk membeli makanan di sini”, beber Ani.
Omzet dari berjualan kuliner saat musim liburan panjang serta hari-hari besar keagamaan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung diakuinya bisa menembus angka Rp1,5 juta dan ikut mendorong penjualan hasil bumi masyarakat berupa kelapa muda serta buah alpukat.
Beberapa warga yang membuat suvenir dari kayu dan hanya dikeluarkan saat wisatawan ramai juga ikut merasakan imbas dari penataan lokasi wisata yang ada di tepi jalan lintas pesisir dan kerap dijadikan lokasi bersantai saat libur.
Ani membandingkan situasi tersebut dengan belasan tahun silam, ketika kondisi jalan sempit langsung bersentuhan dengan bibir pantai, namun semenjak ada penahan ombak jalan diperlebar dan kekuatiran akan abrasi tak lagi menghantui.
Titik-titik untuk berfoto dengan penambahan saung dan hiasan-hiasan menjadikan wisatawan betah berlama-lama di pantai wisata Kunjir sembari menikmati kuliner yang tersedia di beberapa warung di lokasi tersebut.
Pembenahan tersebut diakuinya bersama warga lain ikut membantu ekonomi masyarakat yang secara kreatif menjual berbagai kebutuhan makanan dan minuman termasuk menyediakan jasa penyewaan perahu.
Indira, salah satu wisatawan asal Penengahan yang memanfaatkan liburan untuk pergi menikmati sejumlah pantai di Kecamatan Rajabasa mengakui, pantai Kunjir saat ini lebih nyaman dengan penyediaan saung-saung di tepi pantai. Dirinya yang datang ke pantai tersebut bersama sang kawan memanfaatkan momen menunggu deburan ombak sebagai latar belakang foto yang akan diunggah di akun Facebook-nya.
“Kesadaran warga untuk menjadikan kawasan pantai yang dekat dengan jalan raya ini cukup diapresiasi, bahkan saat berhenti di sini kami nyaman berlama-lama sambil berfoto-foto”, ungkap Indira.
Selain penambahan beberapa saung dan juga ketersediaan warung-warung penyedia makanan dan minuman, dirinya berharap kawasan pantai wisata Kunjir juga diberi lokasi foto booth untuk berfoto memperlihatkan ciri khas pantai tersebut layaknya pantai-pantai yang ada di Lampung Selatan.
Ia beralasan, sebagian anak muda kekinian mendatangi lokasi wisata untuk kebutuhan akan eksistensi dan setelah berfoto akan diunggah ke media sosial.