Samaan, Desa Tertinggal Kini Produktif dan Mandiri
MALANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri – Membentuk keluarga yang produktif, mandiri dan terbebas dari jeratan hutang menjadi alasan dibentuknya Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Apel di Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.
Ketua Posdaya Apel, Purwati Rahayu, menyampaikan, semula Kelurahan Samaan terkenal sebagai desa tertinggal, karena mayoritas warganya memang menengah ke bawah. Jumlah keluarga pra sejahtera di wilayah Samaan juga cukup banyak. Tingkat pendidikan di daerah tersebut maksimal juga hanya Sekolah Menengah Atas, sehingga dirasa perlu penanganan dan pengawasan khusus untuk dapat meningkatkan kesejahteraan warganya.
Sebelum terbentuknya Posdaya Apel, pada 1994 Purwati Rahayu terlebih dulu telah memiliki kelompok Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) dari Yayasan Damandiri. Saat itu, kelompok UPPKS yang dikelolanya mendapatkan bantuan pinjaman dana dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebesar Rp500.000, yang kemudian dana tersebut terus berkembang hingga sekarang.
“Anggota UPPKS kami ada sekitar 20 orang, yang mayoritas merupakan keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera 1,” jelas Purwati.
Disebutkan Purwati, pada 1996, UPPKS yang dikelolanya diajukan untuk mengikuti lomba UPPKS se-Jawa Timur dan menjadi juara 1. Kemudian di 2010, Purwati baru membentuk Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Apel. Menurutnya, sejak terbentuknya Posdaya Apel di Kelurahan Samaan itulah banyak masyarakat yang mulai terangkat ekonomi dan kesejahteraannya.
Anggota yang awalnya adalah Keluarga Prasejahtera, sekarang menjadi Keluarga Sejahtera 1 dan yang semula Keluarga Sejahtera 1 sekarang menjadi Keluarga Sejahtera 2. Bahkan, saat ini, anggota Posdaya Apel sudah memiliki usaha bermacam-macam, di antaranya usaha perancangan, kue, loper koran dan usaha cuci baju (laundry). Hal ini terjadi, karena melalui Pos Pemberdayaan Keluarga, Posdaya, itu, berbagai pelatihan usaha dan pendampingan diberikan secara berkesinambungan.
Disebutkan pula, kondisi masyarakat sebelum dan sesudah adanya Posdaya Apel sangat jauh berbeda. Taraf hidup masyarakat kini sudah meningkat. Yang semula anaknya tidak disekolahkan, sekarang sudah disekolahkan. Penjual peyek yang awalnya hanya menjual di warung-warung, sekarang sudah dijual ke koperasi. Dulu yang hanya loper koran saja, sekarang sudah mempunyai kios sendiri, bahkan sudah memiliki sepeda motor berkat bantuan pinjaman modal dari UPPKS.
“Kalau anggota pinjam Rp1 juta, dikembalikan selama 10 bulan dengan jasa Rp100 ribu. Jadi, setiap bulannya anggota mengangsur Rp110 ribu selama 10 bulan, dan alhamdulillah berjalan sampai sekarang dan tidak ada yang macet,” terangnya.
Lebih lanjut, Purwati mengungkapkan, dulu banyak sekali warga yang terjerat hutang dengan rentenir. Banyaknya warga yang tergiur meminjam uang dari rentenir, karena mudahnya proses peminjamannya. Mereka cukup menyerahkan fotokopi Kartu Tanda Penduduk dan seketika itu juga mereka sudah bisa mendapatkan pinjaman uang, namun tentunya dengan bunga yang sangat tinggi. Dengan hadirnya UPPKS dan Posdaya, pelan namun pasti warga terlepas dari jeratan rentenir.
Menurut Purwati, kondisi tersebut sudah sesuai dengan tujuan dibentuknya Posdaya Apel, yakni menyejahterakan masyarakat melalui peningkatan kemampuan Sumber Daya Masyarakat.
“Kami memang ingin agar masyarakat tidak lagi pinjam uang. Kita inginnya meningkatkan taraf hidup warga, sehingga bisa lebih sejahtera dan tidak ketergantungan dari bantuan pinjaman. Alhamdulillah, sekarang sudah ada kurang lebih 10 orang yang kita lepas, karena usahanya sudah besar”, tandasnya.
Ke depan, Purwati menginginkan, agar Posdaya Apel bisa lebih meningkatkan SDM masyarakat, sehingga nantinya masyarakat bisa mandiri dan tidak lagi ketergantungan dengannya selaku pengelola Posdaya.
“Dari segi ekonomi, saya menginginkan masyarakat bisa mandiri dengan usahanya mereka masing-masing. Keuntungan yang didapatkan dari usahanya tersebut jangan hanya digunakan untuk makan, tapi juga untuk mengembangkan usaha,” harapnya.
Purwati juga menyampaikan, di bidang kesehatan, Posdaya Apel sudah memiliki Posyandu balita dan lansia dan kerap melakukan cek kesehatan seperti cek gula darah, asam urat dan kolesterol. Posdaya Apel juga tengah menggalakkan program Keluarga Berencana (KB) masyarakat.
Di bidang lingkungan, Posdaya Apel juga telah memiliki kader lingkungan yang telah bekerjasama dengan karang taruna untuk membuat kebun sayur dan pupuk kompos dari sampah dapur, yang nantinya dapat dimanfaatkan bersama-sama oleh warga. Dan, berkat kiprah-kiprahnya tersebut, Posdaya Apel berhasil meraih juara tiga lomba Posdaya tingat nasional.