BANDA ACEH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menyebut, satu titik panas terpantau oleh satelit berada di wilayah Aceh.
“Sore ini, hotspot (titik panas) muncul di Aceh. Dan terdeteksi satu hotspot,” ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Blang Bintang, Zakaria di Aceh Besar, Minggu (20/8/2017).
Ia melanjutkan, titik panas tersebut terpantau satelit berada di Aceh wilayah Tengah atau tepatnya di Kabupaten Aceh Tenggara.
Satelit mendeteksi titik panas lebih tepatnya lagi di Kecamatan Babul Makmur, dan memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan pada area kecamatan itu.
Seperti diketahui, Aceh Tenggara merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh Taman Nasional Gunung Leuser.
Jarak terdekat dari Kota Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi dengan Kutacane, ibu kota kabupaten sekitar 543,6 kilometer atau 13 jam menempuh perjalanan darat.
“Walau satu titik, tapi kita harus tetap waspada. Apalagi bila titik itu berada di lahan kering, karena saat ini Aceh sedang memasuki puncak kemarau,” kata Zakaria.
Deputi Bidang Meteorogi BMKG, Yunus S Swarinoto mengingatkan, wilayah Aceh perlu mewasdai kemunculan titik panas akibat meningkatnya intensitas cuaca kering selama musim kemarau.
Berdasarkan peta potensi kemudahan kebakaran yang ditinjau dari unsur cuaca, lanjutnya, maka masih menunjukkan wilayah di Aceh sangat mudah terjadi kebakaran.
“Meski begitu, kondisi cuaca tidak akan menyebabkan terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Jika tidak ada faktor manusia yang melakukan pembakaran,” tegasnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, saat ini secara nasional terdapat ratusan titik panas di Tanah Air karena tidak terpantau satelit.
“Di lapangan jumlah ‘hotspot’ ini kemungkinan lebih banyak, karena adanya daerah-daerah yang tidak terlintasi satelit saat ada kebakaran hutan,” ujar Kepala Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho.[Ant]