PADANG — Banyak cara bagi umat muslim menyambut datangnya 1 Syawal setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan. Di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, memiliki cara dan bahkan telah menjadi tradisi setiap tahunnya, yakni malamang (memasak lemang).
Malamang ini, bukan hanya sekedar untuk dimasak saja, tetapi malamang memiliki tujuan sendiri dalam tradisi Minang. Isul salah seorang warga di Cimpu Surantih yang sedang malamang menjelaskan, dengan malamang itu turut membangun silaturahmi baik sesama tetangga, maupun sesama sanak saudara yang berada di perkampungan lainnya.
“Jadi nanti setelah lamang ini masak, akan dibagi-bagikan ke sanak saudara, dan yang mengantarkannya anak saya sendiri,” ucapnya, Sabtu (24/6/2017).
Menurutnya, dengan menyuruh anak-anak dari suatu keluarga menghantarkan lamang ke tempat sanak saudara yang berada di kampung lain, telah mengajarkan anak menjalin silaturahmi. Kenapa harus para anak yang melakukan hal tersebut, karena silaturahmi diharapkan akan terus terjadi hingga ke cicit-cicit.
Lamang yang dihantarkan ke setiap sanak saudara, memang tidak banyak, yakni hanya satu batang lamang yang berdiameter sepanjang 30 cm untuk per rumah sanak saudara.
Isul juga menyebutkan, dengan adanya lamang tersebut, tidak hanya bisa menjalin silaturahmi bagi sanak saudara yang berada di kampung lainnya, tetapi lamang yang nantinya menjadi makanan hidangan pas lebarang nanti, juga mewujudkan suasana yang hangat bagi yang datang ke rumah untuk bermaaf-maafan.
“Di sini, hampir setiap rumah orang memasak lamang, dan pada saat bertamu lebaran nanti, bisa dipastikan lamang menjadi hidangan utama ditamah dengan segelas teh atau kopi hangat,” ucapnya.
Sementara seorang nenek yang turut membantu anaknya memasak lamang pada momen menyambut lebaran tahun ini, Niar menambahkan, tidak diketahui entah sejak kapan tradisi malamang ini dimulai. Bahkan, semasa ia kecil dulu, dan hingga kini usia yang telah mencapai 80 tahun tradisi melamang telah ada.
“Kalau melihat kebeberapa daerah lain, ada yang membuat ketupat untuk menyambut lebaran ini, serta memasak bersama. Jadi, yang namanya akan menyambut tamu, perlu ada hidangan makanan. Di Minang, lamang lah bentuk salah satu hidangan makanannya,” jelas nenek tersebut.
Menurutnya, terkait tradisi malamang ini, sampai saat ini masih terus dilakukan, meski zaman terus maju. Bahkan, perantau yang memilih pulang cepat ke kampung halaman, salah satu alasan ialah untuk memasak lamang secara bersama-sama.
“Melalui malamang ini, sungguh mewujudkan suasana kekeluargaan yang hangat,” tutupnya.