Warga Reroroja Sikka, Gali Lubang untuk Dapatkan Air

MINGGU, 2 APRIL 2017

MAUMERE — Gagalnya berbagai proyek air bersih di Dusun Koro, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, membuat ratusan Kepala Keluarga di Desa ini harus mengandalkan air dari sumur bor dan menggali lubang di pinggir Kali (sungai kecil) Magepanda untuk mendapatkan air bersih.

Yustina Nona sedang menggayung air dari lubang yang dibuat persis di pinggir Kali Magepanda.

Setiap pagi dan menjelang sore hari, puluhan warga baik anak-anak maupun orangtua berjalan kaki, bahkan mendorong gerobak mendatangi Kali Magepanda yang terus mengalir untuk mengambil air bersh. “Mereka gali lubang di pinggir Kali, supaya bisa ambil air untuk mandi dan kadang juga dipakai untuk dimasak dan untuk minum,” ujar Viktor Emanuel Raiyon, warga Dusun Koro.

Saat ditemui Cendana News di rumahnya di dekat Pantai Ndete, Baba Akong, sapaannya, mengatakan, jika warga yang tidak mampu menggali sumur biasanya selalu mengambil air di pinggir Kali dengan menggunakan jerigen dan ember. Hampir semua proyek air bersih selalu gagal, sebab warga tidak kooperatif dan terkadang mencuri pipa air, bahkan material semen dan pasir untuk membuat bak air serta petugas pemasangan pipa yang tidak paham. “Mereka kadang pasang pipa asal-asalan, sehingga air tidak keluar dan warga pun kesal dan mencuri pipa air yang sudah terpasang ke perumahan warga,” sebutnya.

Hal senada juga disampaikan Yustina Nona, yang sedang menggayung air di lubang yang dibuat di pinggir Kali untuk dimasukkan ke dalam jerigen ukuran 5 liter yang dibawanya sebanyak 4 buah serta sebuah ember plastik. Ia mengatakan, lubang digali menggunakan kayu dengan diameter sekitar 15 centi meter hingga mendapatkan air, lalu menyusun batu-batu di sekeliling lubang untuk menahan agar pasir tidak masuk ke dalam lubang tersebut. “Kita harus gayung airnya dan taruh di ember terlebih dahulu supaya kotorannya seperti pasir bisa mengendap, baru kemudian digayung dan dimasukkan ke dalam jerigen,” jelas Yuni, sapaan akrabnya.

Yuni mengaku selalu datang mengambil air saban pagi dan sore hari, dan mandi di Kali, sebab ia tinggal bersama kedua orangtuanya yang sudah renta, sehingga tidak kuat berjalan jauh, apalagi harus menjinjing jerigen berisi air  sejauh sekitar 300 meter. “Kami mau gali sumur, tapi airnya terkadang sedikit asin dan kalau sudah digali harus dibangun sumur permanen, sementara kami tidak mempunyai uang cukup untuk itu,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Lihat juga...