KAMIS, 13 APRIL 2017
JEPARA — Untuk memeriahkan Hari Kartini mendatang, Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil Menengah (IUMKM) Aku Mandiri akan menyelenggarakan Festival Kartini dan Gebyar UMKM se-Kabupaten Jepara. Tujuan diadakan pameran ini untuk memperkenalkan ke masyarakat luas bahwa banyak sekali potensi dari kota kelahiran Kartini yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, tidak hanya sebatas pada produk furnitur yang selama ini sudah identik dengan Jepara
![]() |
| Para pegiat UMKM di Jepara. |
Menurut Ketua Umum Aku Mandiri Jepara, Dahad Nugroho, selama ini usaha mikro kecil dan menengah di Jepara sudah berkembang pesat, sehingga perlu dikelola dengan baik agar bisa dipasarkan. Karena itu dalam festival nanti kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi manajemen keuangan, pemilahan bahan baku menjadi barang jadi serta packaging dan puncaknya adalah pameran yang akan berlangsung mulai 20-23 April 2017.
“Kami ingin mengenalkan dan mengangkat usaha kecil sehingga memiliki daya saing di pasar lokal maupun nasional sehingga Jepara tidak hanya identik dengan furnitur saja.” kata Dahad saat ditemui Cendana News (13/4/2017).
Lebih lanjut dirinya mengatakan, selain furnitur sebenarnya potensi usaha mikro kecil dan menengah Kabupaten Jepara sangat berlimpah seperti monel, konveksi, batik, tenun ikat, aksesoris, gerabah sampai dengan makanan serta minuman sehingga sudah saatnya masyarakat luas lebih mengenalnya. Diharapkan dengan adanya pameran ini perekonomian di Kabupaten Jepara bisa meningkat sehingga wisatawan yang datang ke kota selain membeli furnitur juga mempunyai banyak alternatif lain.
![]() |
| Siti Aqidatun. |
Sementara itu, Ketua Panitia, Siti Aqidatun, menambahkan, dalam pelaksanaan festival nanti akan melibatkan 200 industri kecil dan menengah dengan mengambil lokasi di pendopo kabupaten dan sepanjang Jalan Kartini. Selain memamerkan hasil karyanya, peserta juga akan diajari pengelolaan keuangan dan packaging.
Menurut data dari BPS Jepara, total nilai perdagangan industri kecil dan menengah tahun 2015 mencapai Rp3,9 miliar. Furnitur masih menjadi primadona dengan menyumbang Rp1.9 miliar atau hampir mendekati 50%. Sementara peringkat kedua adalah tenun ikat Rp570 juta, dan ketiga konveksi yang mencapai Rp441 juta.
Walaupun perbandingan furnitur dengan produk lainnya masih jomplang, tetapi dirinya yakin UKM di Jepara akan terus menggeliat karena tidak seperti mebel yang sudah mempunyai desain tetap dengan sumber daya terbatas, kerajinan tangan yang lain selalu dipenuhi ide baru dengan memanfaatkan sumber daya yang mudah ditemui di sekitarnya.
![]() |
| Dahad Nugroho. |
“Untuk pemasaran usaha kecil perlu diperbanyak adanya pameran dengan kemasan yang bagus sehingga konsumen lebih tertarik untuk membeli,” ujar wanita yang mempunyai usaha rias salon tersebut.
Sudah selayaknya UKM sebagai salah satu usaha kreatif perekonomian bangsa Indonesia mendapatkan peran yang strategis dalam pembangunan nasional, bukan hanya sekadar pelengkap semata. Caranya adalah melibatkan pelaku UKM dalam pameran skala nasional maupun internasional dengan memberi kemudahan permodalan melalui KUR sebagai ujung tombak permodalan.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin
Source: CendanaNews


