![]() |
| Seekor lumba-lumba mati yang diamankan petugas |
Sementara itu, Manajer Program Kalimantan Barat World Wide Fund for Nature (WWF)-Indonesia, Albertus Tjiu menyebutkan, beberapa temuan terjadi sejak 2011, pertamab di Kabupaten Kubu Raya. Kemudian secara periodik ditemukan di daerah Paloh, Kabupaten Sambas.
“Dan baru-baru ini di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara ada beberapa kasus temuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, untuk jumlah populasi pastinya belum ada angka. Namun dari hasil survey WWF dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) selama lima kali variasi temuannya berkisar antara tiga hingga tujuh grup per sekali survey.
“Dalam 1 grup berkisar antara 2-7 ekor pesut,” ucapnya.
Ia mengaku, sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak. Tentunya, hal itu dimaksudkan supaya mamalia laut tetap terjaga.
“Saya koordinasi denga BPSPL dan BKSDA dengan semakin tingginya kasus bycatch mamalia laut menandakan bahwa perlu penanganan khusus,” ucapnya.
Ia menjelaskan, penanganan khusus dilakukan dengan training penanganan mamalia terdampar perlu diintensifkan terutama fokus di lokasi-lokasi kejadian.
“Seperti contoh setelah terungkapnya kasus bycatch paus di bulan Oktober 2016, BPSPL menfolow up dengan pelatihan penanganan mamalia laut terdampar pada 16 November,” ujarnya.
Jurnalis : Aceng Mukaram / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Aceng Mukaram