SABTU, 16 JULI 2016
BANDUNG — Dengan kreasi ternyata bisa menyembuhkan seseorang dari ketergantungan narkoba atau tindakan negatif lainnya. Hal ini diyakini oleh seniman asal Kota Bandung, Agus Supriatna (37). Besar di jalanan sedikitnya mempengaruhi kelakuan Agus dalam kesehariannya yang keras. Keakrabannya dengan obat-obatan terlarang maupun minuman keras pun membuat ia dicap sebagai preman oleh beberapa orang. Masa lalunya yang kelam itu seakan terekam pada rajang tato di beberapa bagian tubuhnya.

Sekitar tahun 1999, ia mulai mendalami bakatnya membuat berbagai macam seni kriya. Dimulai membuat beberapa patung dari media akar pohon akhirnya merambah ke karya lainnya sepeti lukisan, gelang, kalung, hingga tas dari buah maja.
Dengan berbekal bakat itu, akhirnya Agus memiliki kehidupan dan semangat baru untuk menjalani hidup yang menurutnya lebih benar.

“Hampir semua jenis narkoba saya pernah pakai, mungkin karena salah gaul. Tapi saya benar-benar pengen berhenti, kemudian mulai menekuni membuat karya seperti ini,” ujar Agus kepada Cendana News, Sabtu (16/7/2016).
Penghasilannya dari menjual beberapa karya yang ia buat memang tidak menentu. Bisa saja dalam satu bulan meraih keuntungan hingga sebesar Rp. 4 juta atau bisa tidak ada keuntungan sama sekali.
Apalagi setelah lapak jualannya digusur sebab dinilai menodai tata kota. Kini ia hanya mengandalkan pembeli yang sengaja melewati komplek Taman Pemakaman Umum (TPU) Sinaraga, Kota Bandung. Tepatnya di Jalan Citepus, Pajajaran, Kota Bandung.
Agus mendirikan lapak ala kadarnya dengan luas sekitar dua meter kali dua meter di TPU itu. Namun bukan masalah besar, baginya yang terpenting bisa terus membuat karya yang unik.
“Tapi ya harus disyukuri pembeli juga selalu ada, kalau rezeki memang sudah ada yang mengatur,” katanya.
Kendati demikian, karyanya bisa terbang hingga ke luar pula Jawa, bahka hingga ke luar negeri. Dalam hal ini, ia dibantu oleh temannya untuk mempromosikan.
“Patung akar pernah dibeli orang Thailand. Selain itu ada juga karya saya yang dibeli oleh orang dari Kalimantan, Sulawesi sama Papua,” ucapnya.
Untuk akar yang digunakan, ia harus pergi ke daerah Samarang, Garut, Jawa Barat. Karena tidak asal-asalan akar pohon yang digunakan agar berkualitas.
“Kalau untuk akar itu saya harus cari di daerah tebing. Kalau di Kota (Bandung) memang tidak.ada, makanya saya pergi ke Samarang (Garut, Jawa Barat),” kata pria yang mengaku belajar membuat kerajinan secara otodidak ini.
Begitu pula dengan kerajinan dari buah Maja yang memang dewasa ini sulit ditemukan di daerah perkotaan. Tak hanya itu proses pengerjaannya pun memerlukan proses yang lumayan rumit. Maka ia menyayangkan apabila ada pihak yang menawar karya seni dengan harga yang terlampau murah.
“Kalau cuaca panas enak, karena untuk mengeraskan bahannya (akar) jadi cepat. Tapi kalau dikasih musim hujan ya saya milih tidak bikin karya, bisa-bisa akarnya busuk. Bikin kerajinan dari buah maja juga prosesnya satu bulan untuk pengeringannya saja,” pungkasnya.
Untuk harga, Agus membanderol dari mulai Rp 25 ribu hingga Rp. 250 ribu. Sejauh ini ia tak menjual secara online, untuk yang hendak membeli karya-karyanya bisa datang ke Jalan Citepus, Pajajaran, Kota Bandung. Lebih detailnya, berada di kawasan TPU Sirnaraga, Kota Bandung.(Rianto Nudiansyah)