Rumah Terbakar Merenggut Dua Nyawa, Pemda Flotim Hanya Bantu Perabotan Dapur

SABTU, 23 JULI 2016

SEKITAR KITA — Hujan lebat mengguyur desa Pamakayo kecamatan Solor Barat tanggal 4 Oktober 2011. Saat subuh, para tetangga terperangah. Rumah sangat sederhana berdinding bambu belah berukuran 6×4 meter ini sudah rata dengan tanah.

Markus Tali Kolin keponakan korban sedang menunjukan lokasi rumah yang terbakar.

Maria Barek Moron salah seorang penghuni dijumpai warga duduk bersimpuh di depan rumah menahan haru. Perempuan sakit jiwa ini hanya membisu saat ditanyai warga.

Demikian dikisahkan Valentinus Odiama Kein, kepala desa Pamakayo saat ditemui Cendana News, Kamis (21/7/2016).Dikatakan Valens sapaannya, dua penghuni rumah lainnya yakni Silvester Lewonama Kolin dan Lodovikus Kopong Kolin yang berusia sekitar 70 tahun ditemukan warga sudah meninggal.
“Korban pertama ditemukan di pojok depan rumah dan satunya di bagian belakang. Korban Lodovikus juga menderita sakit jiwa,” ujarnya.
Dijelaskannya, warga tidak mengetahui ada kebakaran sebab saat itu hujan lebat. Rumah tersebut kata kades Valens merupakan bantuan dari biarawati Katolik PRR.
Markus Tali Kolin keluarga korban yang ditemui di waktu bersamaan menyebutkan, sesudah kebakaran pemerintah kabupaten Flores Timur melalui dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi mendatangi keluarga korban dan memberikan bantuan.
“Kami hanya diberi bantuan alat dapur saja seperti kompor, panci, piring dan lainnya. Tidak ada bantuan uang atau bahan bangunan,” ungkapnya.
Padahal rumah nahas tersebut kata Markus hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah bupati Flores Timur Yosep Lagadoni Herin. Pihak keluarga tuturnya, pernah mendatangi dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten Flores Timur menanyakan bantuan dari pemerintah.
“Pegawai di dinas tersebut mengatakan tidak ada bantuan lain lagi selain bantuan yang sudah kami terima,” jelasnya.
Selain harta perabotan rumah tangga, turut terbakar dua batang gading berukuran sekitar  1 meter. Gading tersebut, jika dijual berharga puluhan juta rupiah. Gading ini sebut Markus merupakan satu-satunya harta milik keluarga ini yang paling berharga.
Karena keluarga pun tidak mampu membangun rumah sederhana kembali, Maria Barek Moron yang sedang menderita sakit jiwa ini beber Markus, terpaksa diungsikan tinggal dengan keluarga lainnya di luar pulau Solor.
“Kami orang miskin dan tidak mampu kalau disuruh bangun rumah kembali meski hanya berdinding bambu,” ungkapnya.
Disaksikan Cendana News, tiang-tiang rumah  bekas terbakar masih terlihat di lokasi. Seng yang dipakai sebagai atap juga berserakan di tanah Pondasi rumah pun masih terlihat bagus. Selain itu, tiang penyangga di bagian belakang rumah sebelah timur masih terlihat tegak berdiri.(Ebed de Rosary)
Lihat juga...