SENIN, 11 JULI 2016
LAMPUNG — Membludaknya jumlah penumpang pejalan kaki menggunakan jasa penyeberangan kapal roll on roll off (roro) masih terlihat di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Ruang tunggu pembelian tiket penumpang pejalan kaki bahkan disesaki calon penumpang.

Dominasi penumpang pejalan kaki yang menyeberang pada pekan ini menurut salah satu petugas pembelian tiket dari PT Mata Pencil Globalindo terlihat dari umur penumpang yang rata rata didominasi remaja dan anak anak yang sebagian merupakan pelajar dan mahasiswa.
Membludaknya calon penumpang pejalan kaki bahkan mengakibatkan petugas menerapkan pembelian tiket dengan sistem antrian. Namun ramainya jumlah penumpang dalam H plus tiga angkutan lebaran 2016 (1437 Hijriyah) mengakibatkan beberapa penumpang pejalan kaki mengalami insiden terpisah dari rombongan.
Berdasarkan data petugas informasi pelabuhan dalam satu hari terjadi insiden calon penumpang pejalan kaki terpisah dari rombongan. Petugas kepolisian dari Polsek Lampung Selatan, Brigadir Hasudungan Silalahi yang berada di loby tunggu penumpang awalnya tak mengetahui ada seorang bocah perempuan berumur dua tahun yang terpisah dari orangtuanya.
“Penumpang pejalan kaki yang mulai membludak di ruang pembelian tiket mengakibatkan beberapa calon penumpang terpisah dari rombongan beruntung petugas segera mengumumkan dari pusat informasi dan berhasil ditemukan,”ungkap Hasudungan saat ditemui Cendana News di ruang informasi pelabuhan Bakauheni Lampung, Senin (11/7/2016)
Insiden terpisahnya beberapa penumpang di loby pembelian tiket dan saat akan menuju gangway kapal terjadi sejak pagi diantaranya dialami oleh seorang ibu bernama Lisharti (30) pemudik asal Metro yang terpisah dari kedua orangtuanya saat ditinggal membeli tiket. Sang anak bernama Juwita (2) ditemukan oleh salah satu anggota polisi sudah berada di rombongan pemudik lain.
Hal serupa juga terjadi pada calon penumpang pejalan kaki bernama Salmah (50) yang terpisah dari rombongan keluarganya setelah membeli tiket. Salmah mengaku sudah terpisah dari rombongan keluarga yang diduga berada di atas kapal padahal pembelian tiket dilakukan olehnya.
Insiden pemudik terpisah dari rombongan juga dialami warga Pulo Jaya Kecamatan Palas bernama Sarmidi (39) yang terpisah dengan isterinya Siti Kholifah (35) saat proses pembelian tiket. Beruntung dua pemudik yang sempat terpisah dari keluarganya tersebut segera bertemu keluarga dengan bantuan petugas dan bagian informasi mudik.
Membludaknya jumlah pemudik pejalan kaki yang akan naik ke kapal dalam arus balik pada H plus tiga terpantau masih akan terjadi hingga sore hari dengan masih banyaknya pemudik yang belum kembali ke Pulau Jawa. Beberapa petugas gabungan bahkan sempat kewalahan mengatur kepadatan arus penumpang pejalan kaki yang akan menuju pulau Jawa. Kenaikan jumlah penumpang pejalan kaki diantaranya diakui petugas kru darat kapal Trimas Laila yang mengangkut sebanyak 400 orang penumpang pejalan kaki.
Hingga siang ini tercatat masih sekitar 300 ribu pemudik terdiri dari penumpang pejalan kaki dan penumpang dalam kendaraan yang belum kembali ke Pulau Jawa. Sebanyak 30 ribu unit kendaraan roda dua belum kembali dan pemudik kendaraan roda empat sebanyak 40 ribu unit yang belum menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni Lampung.

Pelabuhan BBJ Alami Penurunan jasa Penyeberangan Selama Arus Mudik
Dampak dari masih padatnya arus lalu lintas di sepanjang Jalan Lintas Sumatera berakibat masih dilarangnya kendaraan jenis truk ekspedisi non sembako yang menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni. Selain berdampak bagi para pengusaha ekspedisi truk pelarangan beroperasinya truk non sembako di jalan raya dan menyeberang melalui pelabuhan berdampak pada PT Bandar Bakau Jaya (BBJ) selaku penyedia jasa pelayaran kapal jenis Landing Craft Tank (LCT).
Manager eksternal PT BBJ Tatang saat dikonfirmasi mengungkapkan truk yang menggunakan jasa pelabuhan di Muara Piluk Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan menurun sangat drastis bahkan nyaris selama dua pekan dua unit kapal milik PT BBJ tidak beroperasi.
Dua unit kapal milik PT BBJ diantaranya kapal KMP JNW dan BNR 0 selama 10 hari tak beroperasi dari Pelabuhan BBJ Muara Piluk ke Pelabuhan Bojonegara Provinsi Banten. Ia mengakui secara bisnis pelarangan truk non sembako berdampak pada penurunan jumlah truk yang pada hari normal mengangkut sekitar 200 truk sehingga berdasarkan perhitungan terjadi penurunan sampai 100 persen pengguna jasa kapal Landing Craft Tank (LTC).
Ia mengakui larangan truk beroperasi menggunakan kapal jenis roro, dan kapal LCT mengakibatkan kapal di PT BBJ terpaksa dihentikan .
Ia mengakui berdasarkan keputusan dari Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pelabuhan Bakauheni Agustinus Aruan keputusan penambahan waktu larangan truk non sembako beroperasi diperpanjang sesuai instruksi dari Menteri Perhubungan RI,Ignasius Jonan, saat melakukan tinjauan arus balik ke Pelabuhan Bakauheni. Keputusan penambahan waktu larangan truk beroperasi tersebut menurut menurut Aruan bersifat situasional.
“Jika arus balik ternyata masih cukup padat maka keputusan pelarangan atau diperbolehkan menyeberang menggunakan kapal roll on roll off atau kapal landing craft tank karena kondisi jalan raya saat ini tidak bisa diprediksi,”ungkap Aruan.
Awalnya pelarangan truk non sembako melintas di pelabuhan penyeberangan berlangsung hingga H plus empat namun situasi arus balik pemudik yang menggunakan jalan raya mengakibatkan kementerian perhubungan menginstruksikan kepada pihak terkait untuk melarang truk beroperasi hingga H plus lima dan diperkenankan menyeberang pada hari Rabu (13/7) dini hari.
[Henk Widi]