SENIN, 18 JULI 2016
JAKARTA — Menurut keterangan yang berhasil dihimpun Cendana News secara langsung dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat pada saat jumpa pers di kantornya, bahwa sebenarnya persoalan kemiskinan di Indonesia secara keseluruhan bukan hanya dilihat dari berapa jumlah dan prosentase penduduk miskinnya.
Sedangkan dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan yang juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari tingkat kemiskinan itu sendiri.
Pada periode bulan September 2015 hingga bulan Maret 2016, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Indonesia cenderung mengalami kenaikan, sedangkan Indeks Kedalaman Kemiskinan pada bulan September 2015 adalah 1,84.
Sedangkan pada bulan Maret 2016, Kedalaman Kemiskinan cenderung mengalami kenaikan menjadi 1,94, demikian juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan di Indonesia yang tercatat juga cenderung mengalami kenaikan dari 0,51 menjadi 0,52 pada periode yang sama.
Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan dengan periode sebelumnya, yaitu pada bulan Maret 2015 dengan bulan Maret 2016, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Indonesia tercatat juga cenderung mengalami penurunan.
Drs. Suryamin, Kepala BPS Pusat, saat jumpa pers menjelaskan “apabila dibandingkan antara daerah perkotaan dengan pedesaan, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah pedesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan, pada bulan Maret 2016, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk daerah perkotaan tercatat sebesar 1,19, sementara di daerah pedesaan jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 2,74, sedangkan di daerah pedesaan mencapai sebesar 0,79” katanya di Kantor BPS Pusat, Senin (18/7/2016).(Eko Sulestyono)