Madiun Awal Kebangkitan Sadar Bahaya PKI

MINGGU, 19 JUNI 2016

Liputan Khusus — Bedah Buku Ayat-Ayat yang Disembelih di Kota Kelahiran Penulis, menjadi titik awal tersendiri bagi sejarah baru untuk kembali mengukuhkan bahwa PKI adalah musuh negara dan bukan diposisikan sebagai korban.

Tragedi berdarah 1948 akan keganasan PKI terhadap umat islam, para kyai, alim ulama dan TNI yang tidak mau bergabung dengan PKI menjadi sejarah pilu Bangsa Indonesia. Di tengah gempuran gerakan-gerakan yang mencoba memutar balikkan fakta dan mencoba untuk memposisikan PKI sebagai korban harus dilawan dengan gerakan-gerakan untuk kembali menegaskan akan bahaya PKI. 
“Buku ini sebagai bismillah dan al-fatihah, saya harapkan di kota-kota lain dapat melanjutkan ayat-ayat berikutnya,” ucap penulis buku ayat-ayat yang disembelih, Anab Afifi kepada ratusan warga yang datang dalam acara tersebut, Minggu pagi (19/6/16).
Dikatakan lebih lanjut, dalam momentum ini, Madiun diharapkan menjadi titik awal pergerakan sadar akan bahaya PKI di Indonesia. Gerakan yang diawali di kota kelahiran penulis buku ini juga diamini sejumlah tokoh agama yang hadir dalam acara bedah buku tersebut.
Diantaranya Kyai Khorudin, Ustadz Hasyim, Ustad Nawawi, dan sejumlah alim ulama di Madiun. Sejarah pelik para Kiai dan alim ulama yang menjadi korban keganasan PKI harus menjadi pemantik untuk melawan mereka yang tengah memperjuangkan kembali PKI. 
“Karena kita orang Madiun, sejarah yg ada di wilayah ini kita catat. Dijadikan buku sejarah yang enak dibaca dan tidak membuat ngantuk. Ayat adalah tanda, dan para kyai, alim ulama juga tanda. Jadi buku ini mengisahkan para Kyai yang disembelih dan menjadi korban dari PKI,” jelas Afifi terkait pemilihan judul bukunya. 
Penulis lain, Thawaf Zuharom juga tak kalah bagusnya dalam membangun semangat pemersatu bangsa agar paham-paham PKI dapat ditangkal. Menurutnya, ditengah-tengah upaya untuk menghidupkan kembali paham PKI dengan menempatkan PKI sebagai korban. Upaya ini sangat terlihat, dengan adanya gerakan-gerakan ingat PKI, pengajuan akan adanya kompensasi bagi keluarga PKI, hingga membentuk pengadilan rakyat. 
“Adanya pemutarbalikkan fakta sejarah ini yang tengah digencarkan, dengan seoalah-olah mereka memposisikan diri sebagai korban. Tak aneh jika sekarang ada fenomena anak-anak muda yang justru membela PKI, karena ini bagian dari gerakan mereka,” jelas Thawaf. 
Sejarah mencatat, bagaimana kekejaman PKI terhadap kiai, santri serta pejabat yang tidak mau bergabung dengan PKI. Seperti  7 Bupati di Eks Surakarta yang dibantai PKI saat 1946, karena terkena gerakan Anti Praja yang dicetuskan Tan Malaka pada 1945. 
“Ini yang harus kita catat dan perhatikan baik-baik, bagaimana menceritakan keganasan PKI yang harus diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Agar sejarah ini tidak hilang dan diputarbalikkan begitu saja,” imbuhnya. 
Acara bedah buku dan tanya jawab ini ditutup dengan berkomitmen, Madiun sebagai titik awal dalam perlawanan kepada pihak-pihak yang mencoba menghidupkan lagi paham PKI di Indonesia. Tak terasa dua jam lebih, namun ratusan warga yang hadir di halaman Masjid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Madiun ini harus diakhiri, meskipun mereka yang hadir masih haus akan informasi yang disampaikan ke empat narasumber. (Harun Alrosid)
Lihat juga...