Hama Kresek Menyerang Tanaman Padi di Lampung

CENDANANEWS(Lampung)– Ratusan petani padi di Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung mulai kuatir. Kekuatiran para poetani tersebut diakibatkan tanaman padi yang mulai berisi justru diserang hama kresek. Secara kasat mata pada tanaman padi, batang dan daun kering menguning menunjukkan bahwa tanaman padi tersebut tidak akan bertahan lama.
“Biasanya, kalau padi yang baru berusia dua minggu masih nampak hijau dan segar. Tapi, kita lihat yang nampak di sawah saat ini, padi yang baru meratak (bunting) sudah mulai mengering, dan lama kelamaan bisa mati,” ujar salah seorang petani desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang Muhaimin (32) kepada Cendananews.com Jumat(10/4/2015).
Muhaimin melanjutkan serangan hama padi seperti hama kresek ini sangat sensitif. Cepat menyebar, bahkan dalam waktu dekat juga akan menular ketanaman padi lainnya. Dikatakannya, hama kresek telah menyerang dua petak sawahnya dari 7 petak tanaman padi miliknya.
“Kami berupaya mengantisipasi dengan menyeprotkan obat-obat pertanian penanggulangan hama kresek, namun belum membuahkan hasil yang maksimal,”ungkapnya.
Hal yang sama juga disampaikan Sukiman (39). Petani dari desa Ruguk, kecamatan Ketapang ini menyebutkan, peristiwa yang sama juga pernah dialami seluruh lahan pertanian di daerah itu pada musim tanam sebelumnya. Akibatnya, hasil panen tidak maksimal. Bahkan sebahagian petani melakukan pembabatan setelah diyakini tidak ada kemungkinannya dapat menghasilkan padi.
“Kejadian ini bisa mengakibatkan kami mengalami gagal panen,” ungkapnya.
Sementara itu Asep Awaludin, koordinator BP4K kecamatan Ketapang mengatakan serangan hama xanthomonas kresek di wilayahnya masih tergolong ringan, yakni sekitar 1 hektar. Sedangkan yang terancam, ujarnya, sekitar 15 hektar.
“Tim penyuluh kami sudah melakukan penelitian untuk melakukan penanggulangan hama kresek tersebut agar tidak menyebar ke tanaman lain,” tandasnya.
Masa tanam di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dari pantauan Cendananews.com terlihat tidak serentak. Bahkan di wilayah Kecamatan Penengahan terlihat beberapa lahan sawah sedang panen sementara di beberapa bagian sedang memulai masa tanam.
Pola tanam yang tidak serentak tersebut menurut salah satu petani memang disebabkan faktor ketersediaan air irigasi. Sehingga jika air tersedia mereka akan menggarap sawahnya dengan segera meskipun pola semacam itu diakui bisa menjadi faktor penyebab datangnya hama.
“Kemarin kan musim tanamnya tidak bareng sehingga hama wereng dan burung menyerang karena ada yang masih menanam ada yang sudah menguning bahkan ada yang sudah panen,” ungkap Suroto.
Ia berharap agar hama yang sering dikeluhkan petani bisa dicegah atau dimusnahkan dengan adanya obat obatan serta dengan penyuluhan oleh instansi terkait agar petani bisa memperoleh hasil panen yang bagus.

———————————————————-
Jumat, 10 April 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...