Nelayan Bakauheni Ekspor Tangkapan ke Jepang

Seorang pemuda melewati deretan kapal yang sedang berlabuh

CENDANANEWS – Hasil ikan tangkapan nelayan di perairan Selat Sunda tepatnya dusun Muara Piluk Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menjadi salah satu pemasok ikan untuk diekspor ke Jepang dan beberapa negara lainnya. Beberapa hasil tangkapan yang dijual untuk ekspor tersebut diantaranya ikan Tengggiri, Kakap, Kerapu, Cumi cumi.
Pengiriman tangkapan berbagai jenis ikan yang diminati pasar luar negeri tersebut sudah berlangsung hampir satu tahun. Permintaan dari pengepul di Jakarta bahkan hampir ada setiap minggunya. Demikian diungkapkan Sadide, salah satu pengurus kelompok nelayan di dusun Muara Piluk Bakauheni yang juga pembina nelayan di wilayah tersebut.
Menurut Sadide, ikan hasil tangkapannya tersebut dikirim melalui jalur darat maupun jalur laut. Jalur darat dilakukan dengan sistem packing menggunakan mobil yang dilengkapi cold storage untuk menjaga kualitas ikan tangkapan milik nelayan setempat.

Meskipun demikian untuk beberapa hari ini karena kondisi cuaca kurang bagus Sadide mengaku belum mengirim lagi dan masih melakukan pengecekan rutin kapal serta alat tangkap.
“Sedang jalur laut kita memiliki dua kapal berukuran besar yang di dalamnya sudah memiliki lemari pendingin. Sistemnya di atas kapal sudah dilakukan penyortiran langsung sesudah melaut untuk ekspor atau untuk kebutuhan lokal,” ujar Sadide kepada Cendananews, Kamis (5/3/2015).
Sadide menuturkan langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah bagi nelayan yang selama ini menggantungkan hidupnya dari melaut. Awalnya Sadide beserta kelompok nelayan di wilayah Bakauheni mendapat bantuan modal dari salah satu bank swasta yang peduli pada perekonomian kaum nelayan untuk menambah peralatan mesin pendingin di kapal, serta untuk meningkatkan kualitas kapal.
“Bantuan tersebut kami gunakan untuk melengkapi peralatan modal diantaranya cold storage, perbaikan kapal. Sehingga kami bisa menjaga kualitas hasil tangkapan kami, ” ujar Sadide yang atas kepercayaan masyarakat nelayan kini duduk sebagai legislator di DPR Lamsel periode 2014-2019 itu.
Saat ini ujar Sadide hasil tangkapan berupa cumi di tingkat nelayan pada sistem penjualan biasa hanya dihargai Rp35.000, dan dijual nelayan di pasar seharga Rp40.000. Sedangkan dengan sistem cold storage cumi yang dijual di Jakarta bisa mencapai harga Rp70.000 hingga Rp 80.000 atau lebih tergantung banyaknya permintaan dan hasil tangkapan.
“Jadi ada nilai tambah bagi kami dan inilah yang selalu ditingkatkan pembinaan kepada nelayan untuk meningkatkan perekonomian para nelayan agar produk tangkapannya dihargai sebanding dengan kerjanya,” tegasnya.
Untuk ikan jenis lainnya seperti Tenggiri, Kakap, Kerapu Sadide mengungkapkan sama halnya dengan cumi cumi produk tangkapan tersebut dikirim ke Muara Angke Jakarta Utara. Selanjutnya ikan dari Muara Piluk tersebut dijual oleh pengepul di Jakarta untuk pangsa pasar ekspor. Ekspor ditujukan ke beberapa negara diantaranya Jepang serta beberapa negara yang membutuhkan ikan dari Indonesia.
“Rata rata perhari dua hingga tiga kontainer diekspor oleh pengusaha di Jakarta yang menampung hasil tangkapan ikan kami dan sebagian merupakan hasil tangkapan nelayan Muara Piluk serta beberapa tempat di Lampung Selatan,” ujar Sadide.
Menurut Sadide upaya tersebut tak akan terbantu tanpa adanya dukungan dari pihak perbankan serta pemberi modal bergulir. Sehingga dirinya serta beberapa nelayan bisa melengkapi kapalnya dengan 2 unit cold storage ukuran 2 piston. Di masa mendatang Sadide berharap agar nelayan bisa lebih memodernisasi sistem tangkap di laut sehingga bisa meningkatkan perekonomian jika hasil tangkapannya memiliki nilai jual tinggi.

———————————————————–
Kamis, 5 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...