Jamu Keliling di Semarang Eksis di Tengah Pandemi

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Suara klakson motor terdengar sayup-sayup dari kejauhan, sejurus kemudian, muncul pengendara tersebut sambil menawarkan dagangannya. “Jamunya, Mas, semuanya ada. Mau apa? beras kencur, kunyit asem, temulawak atau paitan?”

Bagi Sulastri, profesi sebagai penjual jamu keliling, bukan hal yang baru. Sudah bertahun-tahun, ibu dua anak ini, berjualan jamu. Mulai dari digendong, berkeliling menggunakan sepeda onthel, hingga kini beralih dengan sepeda motor.

“Semuanya saya sendiri yang membuat, jadi bisa dijamin, tidak pakai bahan kimia. Pakai bahan jamu segar, mulai dari kunir (kunyit-red), asam jawa, sampai brotowali untuk jamu pahitan,” paparnya, saat ditemui di kawasan Tembalang, Semarang, Sabtu (25/7/2020).

Penjual jamu keliling, Sulastri, saat melayani pembeli di kawasan Tembalang, Semarang, Sabtu (25/7/2020). –Foto: Arixc Ardana

Apa yang disampaikannya, tidak hanya sekadar bualan. Setidaknya, hal tersebut bisa dilihat dari kedua telapak tangannya, yang semburat berwarna kuning. Bukan karena sakit, tapi akibat terlalu sering memeras kunir sebagai bahan baku jamu, dengan kedua tangannya.

Untuk membuat jamu, misalnya kunir asem, disiapkan bahan berupa kunir segar, kemudian diparut hingga halus. Parutan kunir ini selanjutnya diberi sedikit air, untuk diperas hingga keluar sarinya. Sari air kunir kemudian direbus bersama asam jawa, sehingga dihasilkan jamu kunir asem.

“Saya tidak berani kalau pakai bahan kimia, takutnya ada efek samping. Jadi alami, dan khasiatnya dijamin tidak menimbulkan efek samping,” lanjutnya.

Untuk bisa menikmati segelas jamu, pembeli cukup mengeluarkan uang Rp3.000. Harga tersebut tergolong murah, jika dibandingkan dengan khasiat yang diperoleh jika rutin meminum jamu.

Mulai dari untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menghilangkan pegal-pegal dan gejala masuk angin, detoksifikasi, mengurangi rasa nyeri saat hadir, hingga berbagai gejala penyakit lainnya seperti maag, sakit kepala, gangguan ginjal dan empedu, kembung, sampai untuk mencegah jerawat.

Di satu sisi, di saat pandemi Covid-19 dan penjualan empon-empon, seperti jahe, temulawak, serai dan lainnya, meningkat, nasib tukang jamu keliling justru berbanding terbalik.

“Saat awal-awal Covid-19, saya tidak jualan karena takut tertular juga, namun karena kebutuhan, akhirnya berjualan. Namun ternyata, yang beli tidak banyak, karena mereka juga takut bertemu orang lain. Namun sekarang, sudah kembali seperti semula, apalagi saya jualannya juga hanya keliling di daerah sekitar Tembalang saja,” jelasnya.

Meski demikian, Lastri tetap menerapkan protokol kesehatan, setidaknya dengan memakai masker, untuk mencegah penularan Covid-19.

“Mudah-mudahan dagangannya tetap laris, meski ada Covid-19. Pelanggan juga kini bertambah. Paling banyak dicari jamu beras kencur, temulawak sama asem jawa,” tandasnya.

Sementara, salah seorang pembeli, Sakti Kurniawan, mengaku rutin minum jamu tradisional, hampir setiap hari.

“Selain memang untuk menjaga kesehatan tubuh, kebetulan penjual jamu ini juga keliling setiap hari, lewat di depan rumah dan selalu menawarkan untuk membeli,” paparnya sembari tertawa.

Namun terlepas dari itu, pegawai salah satu perusahaan BUMN di Semarang ini, mengaku dengan rutin minum jamu, stamina dan kondisi badannya sejauh ini selalu sehat.

“Tentu jamu saja tidak cukup, namun juga perlu olah raga, cukup istirahat dan makan makanan bergizi, namun setidaknya dengan minum jamu, juga ikut membantu untuk menjaga kesehatan tubuh,” tandasnya.

Lihat juga...