Pokdakan Buana Mina Bantul Sukses Berdayakan Warga dengan Budi Daya Ikan Hias
Editor: Mahadeva
YOGYAKARTA – Selama ini masih banyak orang menganggap budi daya ikan hias tidak lebih menguntungkan dibandingkan budi daya ikan konsumsi. Hal itulah yang coba ditepis Stefanus Kriswanto (38), seorang pemuda pembudidaya ikan hias asal Bantul, tepatnya di Dusun Bothokan, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul.
Meneruskan usaha budi daya milik ayahnya sejak 2003 lalu, Kris akhirnya saat ini sukses membuktikan budi daya ikan hias juga menguntungkan secara ekonomi. Melalui Pokdakan Buana Mina yang dirintisnya, ia berhasil memberdayakan warga dusun di sekitarnya menjadi pengusaha dab pembudidaya ikan hias. Omset kelompok tersebut bisa mencapai puluhan juta per bulan.
Berkat upayanya itu, Pokdakan Buana Mina menjadi salah satu kelompok budi daya ikan hias terbesar di Bantul. Selain menjadi pemasok ikan hias ke berbagai daerah di Indonesia, Pokdakan Buana Mina juga pernah meraih prestasi seperti Juara 3 Nasional, kemudian meraih Pokdakan Terbaik di 2015 hingga.
Dan di 2015 lalu meriah penghargaan tertinggi nasional di bidang perikanan Adibakti Mina Bahari. Tak heran, Pokdakan Buana Mina yang memiliki 20 anggota kelompok, sejak 2011 lalu hingga saat ini ditetapkan oleh pemerintah sebagai kelompok budi daya rujukan sekaligus percontohan di wilayah Bantul dan Yogyakarta. “Karena jika ditekuni, sebenarnya budi daya ikan hias juga sangat menguntungkan. Tidak kalah dengan budi daya ikan konsumsi. Dengan budi daya ikan hias kita sudah membuktikan bisa menumbuhkan ekonomi warga masyarakat di sekitar desa ini. Dari yang awalnya hanya sekedar hobi dan pekerjaan sampingan, menjadi bisnis yang menguntungkan,,” ujar Kris, yang merupakan Ketua II Pokdakan Buana Mina, Senin (11/05/2020).

Memiliki sekitar 600 kolom budi daya, Pokdakan Buana Mina rutin memproduksi puluhan ribu bibit ikan hias, seperti ikan koki, koi, manfish, platy, gupy, swordtail, hingga cupang atau beta. Pasar yang dimiliki sangat luas, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jabodetabek, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan hingga ke sejumlah negara luar seperti Thailand dan Korea Selatan. “Omset kita rata-rata Rp30-50 juta per bulan. Namun jika sedang ramai-ramainya bisa sampai Rp100-150 juta,” bebernya.
Memanfaatkan kolam berbagai ukuran, Kris mengaku hanya menerapkan sistem budi daya ikan secara sederhana, seperti yang biasa digunakan petani ikan pada umumnya. Kegiatannya memanfaatkan air sumur yang difilter, dan dialirkan ke kolam. Untuk menjaga kadar oksigen, ia menambahkan mesin pompa udara atau aerator. “Kuncinya adalah fokus. Yang penting itu adalah menjaga kesehatan ikan, sehingga ikan punya nilai tambah. Dengan pelayanan yang baik, usaha pasti akan jalan,” ungkapnya.
Salah satu hal yang juga wajib dilakukan pada pembudidaya ikan hias adalah, rutin menggelar berbagai acara atau kegiatan seperti misalnya kontes ikan hias. Kontes semacam ini sangat penting untuk menjaga, menguatkan dan meluaskan pasar ikan hias, menumbuhkan anti persaingan antar pembudidaya. “Apalagi ikan hias ini kan hoby untuk bermacam lapisan. Mulai dari anak-anak, orang dewasa, bahkan kaum perempuan. Sekarang banyak komunitas-komunitas pecinta ikan hias bermunculan. Sehingga iklim ini harus terus dijaga,” tandasnya.
Sejak setahun terakhir, bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, Kris rutin menggelar kegiatan ikan hias. Seperti Bantul Fish Series Festival di Oktober 2019. Hingga Festival Ikan Rainbow pada Februari lalu. Tujuannya tak lain adalah untuk menjaga iklim kecintaan pada ikan hias itu sendiri.