Bupati Sikka Minta Orang Malas Dikucilkan Saja

Editor: Makmun Hidayat

 MAUMERE — Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo menyampaikan pesan kepada lulusan perguruan tinggi agar menjadi pekerja keras, tidak pemalas, dan hidup sederhana.

Seorang sarjana dituntut untuk tidak memilik sifat malas sehingga setelah tamat kuliah dan menyandang gelar sarjana harus mulai bekerja keras untuk meraih kesuksesan.

 Setelah wisuda mau kerja apa. Pesan saya setelah wisuda jangan buat pesta harus hidup sederhana,” pesan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo saat acara wisuda sarjana diploma 3 Akademi Farmasi Santo Fransiskus Xaverius di aula Sikka Covention Center (SCC) Maumere, Jumat (31/1/2020).

Dikatakan Robi sapaannya, kalau di Jepang orang yang hidup malas dikucilkan sehingga orang Jepang dikenal sebagai pekerja keras bahkan hingga usia 80-an masih kuat dan sehat.

“Saya minta di Sikka juga orang malas dikucilkan.Jangan kasih makan, jangan kasih rokok. Saya minta kepada para orangtua, kalau ada calon anak mantu yang malas orangtua harus menolaknya,” tegasnya.

Sukses itu, kata Robi, gampang asal jangan malas dan selain itu harus  disiplin.hidup  hemat, kerja keras, suka menabung dan harus terus belajar inovasi guna menemukan cara kerja baru yang produktif.

“Harus mampu memgelola atau mengurus kesehatan pribadi agar bisa meraih kesuksesan. Kita harus bekerja keras dan jangan malas-malasan kalau ingin sukses,” pesannya.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ucap Robi, kita masih mempergunakan sistem kelas peninggalan kolonial seperti di rumah sakit ada kelas satu sampai kelas VIP, baik kereta api juga sama serta lainnya.

Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa selaku Ketua Lembaya Layanan Pendidikan Tinggi wilayah VIII  menyebutkan, persaingan bukan saja hanya kepada para pencari kerja dalam mendapatkan pekerjaan tetapi perguruan tinggi juga tidak luput dari persaingan.

Untuk itu, tegas Astawa, perguruan tinggi wajib meningkatkan mutu pendidikan secara sistematik dan berkelanjutan bahkan sekarang banyak peraturan telah diterbitkan pemerintah untuk menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

“Perguruan tinggi yang berkualitas dapat dilihat dari pencapaian akreditasi baik akreditasi program studi maupun akreditasi institusi.Untuk itu,perlu ada sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dan perguruan tinggi itu sendiri,” sebutnya.

Lembaga pendidikan, pesan Astawa, berkewajiban untuk selalu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan sehingga kepercayaan dari orang tua dan masyarakat pada umumnya terus tumbuh dan berkembang.

Lihat juga...