Alasan Keamanan, Menlu Israel Tunda Kunjungan ke Dubai
JERUSALEM – Menteri luar negeri Israel menunda kunjungannya ke Dubai, yang diagendakan pada Januari. Permasalah keamanan disebut-sebut sejumlah diplomat menjadi alasan dari penundaan tersebut.
Termasuk menghubungkan keputusan tersebut dengan peningkatan ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Israel Katz, yang merangkap sebagai menteri intelijen, sebelumnya dijadwalkan melakukan pertemuan pada pertengahan Januari di Uni Emirat Arab menjelang Expo 2020 Dubai di negara Teluk itu. Namun berdasarkan instruksi pejabat keamanan, kunjungan itu akan ditunda, menurut seorang diplomat Israel tanpa menyebutkan tanggal baru.
Sementara itu diplomat lain, yang juga merahasiakan identitasnya menyebutkan, Israel sedang mengambil tindakan pencegahan agar jangan Iran yang disebut sebagai sampai musuhnya, mencoba menargetkan Katz di Teluk. Hal itu dikhawatirkan menjadi bagian dari aksi balasan terhadap sekutu Israel, Amerika Serikat. Diplomat itu tak merujuk bukti untuk mengindikasikan ada ancaman spesifik. Iran dan Israel terlibat dalam permusuhan sengit di kawasan sejak revolusi Iran 1979.
Permusuhan selama puluhan tahun antara Teheran dan Washington semakin buruk dalam beberapa pekan belakangan ini, setelah AS menewaskan jenderal besar Iran Qassem Soleimani. Dan Iran melakukan balasan dengan menembakkan roket ke pangkalan udara Irak, yang ditempati pasukan AS.
Sementara itu, Kanselir Jerman, Angela Merkel, kembali menyeru semua pihak agar mendukung perjanjian nuklir Iran. Hal itu dilakukan di tengah keputusan Iran untuk menggenjot aktivitas pengayaan uranium miliknya. Serta langkah Amerika Serikat untuk memberlakukan sanksi ekonomi. Berdasarkan perjanjian 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), Iran sepakat dengan Cina, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris dan AS untuk membatasi program nuklir miliknya.
“Kami sepakat bahwa kita harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan perjanjian JCPOA. Jerman yakin bahwa Iran seharusnya tidak memperolah atau memiliki senjata nuklir,” kata Merkel saat konferensi pers gabungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.
Tak seperti Amerika Serikat, yang kembali memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran, negara-negara Eropa memberi Teheran lebih banyak waktu untuk menghindari proliferasi nuklir. Hal itu diambil, ketimbang memulai proses yang dapat berujung pada pemberlakuan kembali sanksi. “Demi alasan ini kami akan terus menggunakan semua sarana diplomatik untuk mempertahankan keberadaan perjanjian ini, yang tentunya tidak sempurna namun itu adalah sebuah perjanjian dan melibatkan komitmen dari semua pihak,” kata Merkel. (Ant)