Arus Balik Lebaran Painan-Padang Macet 40 Kilometer
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PADANG – Arus lalu lintas dari Siguntur yang merupakan daerah perbatasan Kabupaten Pesisir Selatan dengan Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami kondisi stagnan. Akibatnya kemacetan jalan terjadi hingga sampai ke jalan Bypass Padang Teluk Bayur, yang mencapai 40 kilometer.
Kemacetan yang terjadi hari ini, Minggu (9/6/2019) merupakan puncak arus balik mudik lebaran 1440 hijriyah, mengingatkan besok jam kerja usai lebaran dimulai. Kendaraan yang melintasi jalan lintas Sumatera ini selain macet, sepanjang perjalanan hujan juga mengguyur dengan intensitas ringan – sedang.
Kemacetan jalan yang terjadi di sepanjang jalan nasional Bengkulu – Sumatera Barat itu terpantau didominasi oleh pengedara yang berasal luar dari Sumatera Barat. Tapi merupakan kendaraan yang menggunakan nomor polisi dari provinsi tetangga seperti Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Riau, serta juga berasal dari Jakarta, Bandung, dan Tangerang.
Kuat dugaan kepadatan arus lalu lintas pada penghujung liburan ini, pemudik yang melintasi daerah Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Padang melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi wisata, sehingga ketika ada kendaraan menggunakan nomor polisi asal Sumatera Barat melintasi jalan yang hendak menuju Kota Padang, ditambah kendaraan yang keluar dari lokasi wisata, membuat kepadatan arus lalu lintas.
Seperti yang dikatakan oleh Zakirman salah seorang pengendara asal Medan, Sumatera Utara, ia telah berada di wilayah Sumatera Barat sejak lebaran kedua bersama keluarga untuk menghabiskan waktu libur lebaran. Hari ini ia bersama dua kendaraan roda empat lainnya menuju Medan untuk kembali ke kampung asal, karena besok sudah dimulai masuk kantor.
“Saya bukan pertama kali datang ke Sumatera Barat ini, bisa dikatakan untuk momen libur, saya bersama keluarga datang ke Sumatera Barat. Nah biasanya Pesisir Selatan menuju Padang itu hanya menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam. Namun dengan adanya kemacetan ini, 2 jam perjalanan ini baru berjalan kurang lebih 10 kilometer. Padahal jarak tempuh perbatasan Pesisir Selatan – Padang 40 kilometer,” katanya, Minggu (9/6/2019).
Menurutnya, untuk berhasil keluar dari kemacetan itu, dibutuhkan waktu kurang lebih 7 jam dihitung dari perbatasan Pesisir Selatan – Padang. Alasan menghitung dari daerah perbatasan, karena kondisi kemacetan jalan dimulai dari daerah perbatasan. Sementara datang dari Bengkulu – Padang arus lalu lintas masih lancar.
“Dari Painan tadi lancar saja, tadi memang ada macet, itu dikarenakan ada acara pernikahan. Selengkapnya lancar, meskipun tidak bisa melaju dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam, karena juga banyak pengedara yang berhenti di bagian tepi jalan, tepatnya di tempat penjual durian. Jadi mudik kali ini bisa beristirahat sembari menikmati durian Pesisir Selatan,” ujarnya.
Kondisi kemacetan ini umumnya didominasi oleh kendaraan roda empat, sementara untuk kendaraan roda dua, masih bisa menggunakan jalur kiri bahu jalan. Meski kondisi hujan, pengendara memilih untuk tetap berkendara, sebab diprediksi malam ini, arus lalu lintas akan lebih padat ketimbang sore hari tadi.
Apalagi pada arus puncak balik mudik lebaran pada H+4 ini ada sejumlah titik daerah yang dilanda hujan dengan intensitas ringan, seperti di Kabupaten Pesisir Selatan hingga sampai ke perbatasan Koto Padang.
Terpantau sepanjang perjalanan dari arah Bengkulu – Padang, hujan mulai turun di Kecamatan Batang Kapas sejak pukul 14.00 Wib tadi. Hujan mulai reda sebelum waktu salat maghrib masuk. Dengan kondisi demikian, banyak pengendara memilih berhati-hati menempuh jalan tikungan, karena dinilai kondisi jalan cukup licin.
“Kalau dari arah selatan cuaca cerah bahkan panas. Tapi setelah sampai di Kecamatan Batang Kapas cuaca sudah hujan. Meski tidak begitu lebat, tapi kalau dipaksakan lewat tanpa pakai mantel hujan, bisa basah juga,” ujar Maril.
Menurutnya, di daerah Pesisir Selatan, akhir – akhir ini sering turun hujan, bahkan telah terjadi saat mudik lebaran H-5 lalu. Sehingga hujan yang turun di Kecamatan Batang Kapas hari ini, sudah merupakan hal yang biasa. Kondisi hujan itu, ujarnya, biasa terjadi di daerah perbatasan Pesisir Selatan – Kota Padang.
Sementara itu, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Minangkabau, Yudha Nugraha, menjelaskan untuk kondisi cuaca Sumatera Barat pada saat arus balik hari ini relatif lebih kondusif. Ia menyebutkan untuk pagi dan siang hari kondisi cuaca cerah hingga cerah berawan di seluruh wilayah Sumatera Barat.
“Tapi untuk menjelang sore hari hingga malam hari hujan berpeluang terjadi di Kabupaten Solok Selatan, Agam, Padang Pariaman, Kabupaten Solok, Padangpanjang dan Pasaman Barat, dengan intensitas ringan hingga sedang,” jelasnya.
Yudha mengatakan penyebab adanya hujan di bagian sepanjang pantai Laut Samudera itu, berdasarkan pantauan BMKG, secara meteorologi ada yang dinamakan fenomena MJO (Madden-Julian Oscilation) yaitu suatu pola gangguan cuaca berkala di ekuator yang bergerak dari arah barat ke timur.
Dikatakannya, fenomena MJO tersebut dideteksi dengan peningkatan tutupan awan dan curah hujan di daerah yang dilaluinya. Saat ini BMKG memantau MJO sedang aktif di Sumatera Barat dan Riau, bergerak terus ke arah timur.
“Kepada pemudik tetap diminta hati – hati jika ada yang melewati daerah yang tengah turun hujan. Disarankan untuk berhenti dan diharapkan jangan memaksakan tetap berkendara di saat hujan turun. Hal ini mengingat, sesuai data BPBD ada beberapa titik rawan bencana di Sumatera Barat,” jelasnya.
Terkait titik rawan bencana alam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat meminta pemudik dari perantauan untuk berhati-hati dalam perjalanan menuju ke daerah perantauan. Terutama melewati jalur lintas di Sumatera Barat. Hal ini mengingat ada beberapa titik rawan bencana yang berada di rute mudik lebaran.

Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Barat, Erman Rahman, mengatakan, mengingat adanya informasi bahwa pemudik perantau Sumatera Barat yang menggunakan jalur darat untuk melakukan arus balik mudik, karena tingginya harga tiket pesawat, untuk itu, sebagai informasi bagi pemudik, ada sejumlah titik rawan bencana yang perlu diperhatikan, agar tetap berhati-hati melewati jalan rawan bencana tersebut.
Ia menjelaskan daerah rawan bencana itu berada di kawasan Sitinjau Lauik, Lembah Anai, Kelok 44, Palupuah Agam, sebagian jalan arah Pesisis Selatan tapi tidak terlalu berisiko dan daerah Pangkalan Limapuluh Kota.
Kawasan rawan bencana ini bisa terjadi, apabila hujan turun dengan intensitas sedang – lebat. Namun melihat Sumatera Barat mulai dilanda hujan, maka perlu diperhatikan rawan bencana tersebut.
“Pemudik haruslah berhati-hati di jalur tersebut. Sebab selama ini sering terjadi bencana seperti tanah longsor dan terban. Untuk itu, BPBD menyiagakan 24 jam personel dan tim juga ada yang menyiagakan alat berat di titik rawan bencana,” ungkapnya.