TBM Pelangi Flotim Giatkan Kembali Permainan Tradisional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi milik Asosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) cabang Flores Timur (Flotim) mengajak anak-anak sekolah melakukan permainan tradisional. Dewasa ini, kegiatan tersebut hampir terlupakan. Tidak lagi diminati oleh kalangan anak-anak.

Maksimus Masan Kian ketua Asosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) cabang Flores Timur. Foto : Ebed de Rosary

“Anak-anak lebih senang, akrab dan ketagihan permainan modern seperti game online. Jika tidak dilestarikan, permainan tradisional bisa punah dan tidak dikenal oleh generasi yang akan datang,” sebut Maksimus Masan Kian, ketua Agupena Flotim, Jumat (10/5/2019).

Kepada Cendana News, Maksi sapaannya mengatakan, menggiatkan kembali permainan tradisional penting untuk menyeimbangkan perkembangan game online yang semakin menjamur.

“TBM Pelangi Agupena Fltom berupaya untuk melestarikan permainan tradisional diawali dari anggota. Halaman TBM Pelangi dipenuhi oleh anak-anak usia SD dan SMP memainkan 3 permainan tradisional yakni Kemoti atau congklak, tali merdeka dan benteng,” tuturnya.

Pada permainan pertama, Kkemoti (congklak) jelas Maksi, anak-anak dibagi ke dalam 2 tim. Selanjutnya membuat beberapa lubang secara sejajar, menghitung batu, menempatkan batu di dalam lubang, mengangkat dan mengedarkan batu dari satu lubang ke lubang yang lain hingga pada bagian akhir permainan.

“Penentuan kemenangan berdasarkan banyaknya jumlah batu yang terkumpul oleh timnya. Permainan ini mengajarkan kepada anak tentang perhitungan, ketelitian dan kesabaran,” jelasnya.

Permainan berikut yang dimainkan anak-anak di TBM Pelangi adalah tali merdeka. Permainan yang fenomenal di kalangan anak-anak sejak zaman dulu, kini perlahan mulai luntur. Anak-anak dibagi dalam 2 tim.

“Ada tim yang menjaga dan ada tim yang bermain. Secara bergilir, tim yang bermain akan melompat pada batasan-batas tinggi menggunkan karet gelang, mulai dari lutut, pinggang, dada, dagu, telinga, kepala, jengkal satu, jengkal dua dan merdeka pinggang,” terangnya.

Jika tim yang sedang bermain tidak mampu melewati batas yang dipasang, kata Maksi, tim dinyatakan kalah dan tim berikutnya yang bermain. Permainan ini melatih keterampilan melompat, kekompakan, dan kerja sama tim. Dulu permainan ini sangat digandrungi anak-anak dan masih ada hingga kini.

“Permainan terakhir adalah benteng. Permainan ini menjadi permainan yang paling seru diantara 3 permainan sebab, anak-anak saling berkejaran. Benteng dimainkan oleh 2 tim. Masing-masing memiliki benteng yang selalu dijaga,” ujarnya.

Masing-masing tim papar Maksi, akan keluar dari benteng. Tim satu dengan yang lain akan saling kejar. Jika salah satu anggota tim keluar dari benteng dan tim lawan menyentuh maka anggota tim tersebut menjadi tawanan tim lawan. Ia akan diselamatkan oleh timnya sendiri dengan cara menyentuh dan mengajak lari kembali ke benteng mereka.

“Tim akan kalah disaat tim lawan menyentuh atau menginjak bentengnya. Permaian ini melatih kekompakan, kerjasama tim, ketelitian, dan kemampuan membangun strategi,” ungkapnya.

Anak-anak menurut Maski nampak antusias memainkan 3 permainan tradisional ini. Tidak hanya anak-anak, orang tua di sekitar TBM. Pelangi juga turut hadir menonton permainan anak-anak ini.

“Nampak bahwa bukan anak-anak tidak mau atau tidak bisa memainkan permainan tradisional namun motivasi dan dorongan dari orang dewasa yang kurang membuat anak-anak tidak mencintai permainan tradisional,” ucapnya.

Setelah bermain, kata guru SMPN1 Lewolema ini, anak-anak dibagi dalam 3 kelompok dan menulis langkah-langkah 3 permainan tradisional yang dimainkan serta makna yang dipetik dari permainan tradisional itu. Secara bergilir mereka membaca hasil diskusi mereka.

“Permainan tradisional wajib dan penting untuk dikembangkan. Permainan tradisional memiliki manfaat dalam mengembangkan kreativitas anak. Secara umum saya dapat mengatakan bahwa permainan tradisional memiliki manfaat dalam pengembangan kreativitas anak,” tegasnya.

Pengelola TBM Pelangi ini mengatakan, permainan tradisional selain dapat mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosi ada anak juga meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan melatih kemampuan motorik. Ragam manfaat positif ini maka permainan tradisional layak untuk terus dikembangkan dikalangan anak anak.

Cyntia Diaz, salah satu anggota TBM Pelangi Agupena Flotim mengaku senang terlibat dalam permainan tradisional ini. Dirinya bersyukur bisa ikut terlibat dalam permainan tradisional bersama teman-temannya.

“Saya senang terlibat dalam permainan tradisional ini. Senang karena ternyata permainan tradisional yang dimainkan bersama sangat menarik. Kami jarang memainkan, tetapi setelah bermain bersama menyenangkan. Semoga di sekolah, kami juga dilatih memainkan permainan tradisional ini,” kata Cyntia.

Lihat juga...