Pentingnya Perubahan Pola Pikir tentang Diabetes

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Berdasarkan data Riskesdas 2018, paparan penyakit diabetes melitus saat ini mencapai 8,5 persen dari total penduduk Indonesia. Meningkat dari 6,9 persen pada tahun 2013.

Peningkatan ini sangat penting untuk dicermati, mengingat bahwa menghadapi diabetes melitus bukan hanya menghadapi kadar gula yang tinggi tapi juga menghadapi efek pada bagian tubuh lainnya.

Praktisi Diabetes, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FINA, menyatakan, bahwa diabetes berkaitan erat dengan Cardio, Vascular dan Renal.

“Harus ada perubahan mind set, bahwa diabetes itu bukan hanya tentang gula darah. Tapi berkaitan dengan Cardio, yaitu kadar gula darah akan mempengaruhi kinerja pompa jantung. Yang bisa mengakibatkan gagal jantung,” kata Prof. Sidarta saat Edukasi Media tentang Diabetes and Ramadan oleh Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Diabetes juga berkaitan dengan Vascular. Yaitu saat kandungan gula darah mempengaruhi kinerja pembuluh darah. Dan kaitannya dengan Renal atau ginjal, yang mana akan mempengaruhi sistem filter atau penyaringan dari tubuh.

“Harus dipahami bahwa diabetes ini penyakit yang progresif. Sifatnya berjalan terus dan tidak memandang hari libur. Nggak mandang, sabtu minggu, diabetes bisa libur. Ini adalah penyakit yang harus disandang sepanjang hidup si penderita. Walaupun memang ada sebagian kecil yang bisa sembuh,” ujar Prof. Sidarta lebih lanjut.

Karena itu, Prof. Sidarta menegaskan bahwa diabetes ini harus dikendalikan. Yaitu melalui pilar pencegahan diabetes.

“Yang pertama adalah melalui edukasi. Dimana kita melakukan sosialisasi terkait apa itu diabetes, bagaimana mencegahnya, jika terkena apa yang harus dilakukan. Dan edukasi ini harus dilakukan dengan melibatkan semua pihak, mengingat gaya hidup dan pola makan sangat mempengaruhi potensi diabetes,” urainya.

Jika sudah terkena, maka langkah selanjutnya adalah Atur Makan, Atur Kegiatan dan Atur Obat.

“Penderita diabetes itu bukannya nggak boleh makan gula ya. Boleh asal jangan berlebihan. Kayak sekarang, lagi puasa. Kan sering tuh ada acara buka bersama. Boleh ikut. Tapi saat yang nggak punya diabetes bisa minum cendol segelas, ya kalau punya diabetes, secukupnya saja.

Atau mau buka pakai teh manis, boleh saja, tapi jangan pakai sendok makan menuang gulanya. Cukup satu sendok teh untuk segelas teh. Yang penting ada rasa manis saja,” ucap Prof. Sidarta.

Dan yang terakhir adalah Pantau. Yaitu melakukan pengecekan secara berkala di ahli medis. Untuk mengetahui secara tepat, kondisi gula darah.

“Ini penting sekali dilakukan, terutama saat puasa seperti ini. Karena, beberapa obat bagi penderita diabetes, itu mempengaruhi kadar gula dalam darah. Kalau tidak dipantau, maka bisa menyebabkan hipoglikemia,” kata praktisi yang bertugas di berbagai rumah sakit swasta ini.

Selain itu, kegiatan pantau ini, juga bisa dilakukan oleh orang yang tidak mengidap diabetes.

“Yang pantau gula darah itu bukan hanya yang diabetes saja ya. Yang sehat juga perlu. Memastikan, kalau nggak tiba-tiba terkena diabetes. Karena diabetes ini kan sifatnya perlahan. Karena gaya hidup, pola makan dan aktivitas yang kurang, yang awalnya nggak diabetes bisa jadi diabetes. Jadi yang sehat, juga perlu mantau,” tegasnya.

Dengan menjaga kandungan gula darah, Prof. Sidarta menegaskan akan menurunkan risiko serangan penyakit lain pada tubuh.

Lihat juga...