Warga Keluhkan Jembatan Darurat Dagemage
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Hujan yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Sikka, membuat aliran air Kali meluap dan mengalir, mengikis timbunan tanah dan kerikil yang dipergunakan untuk menahan gelagar jembatan.
“Kalau hujan lebat dan air kali meluap, pasti jembatan akan rubuh, sebab bebatuan dan pasir yang ditimbun untuk menahan gelagar jembatan akan terkikis dan terbawa banjir,” sebut Petrus Keli, warga Desa Kolisia, Sabtu (5/1/2019).

Menurut Petrus, jembatan darurat ini dibuat dua bagian, sebab gelagar yang dipergunakan pendek, hanya sekitar empat meter. Jembatan darurat seharusnya mempergunakan tiang penopang, jangan hanya meletakkan gelagar di atas tumpukan batu dan pasir saja.
“Tiap kali hujan, pasti material batu dan pasir terbawa banjir. Ini yang menyebabkan jalur transportasi selalu terhambat, sebab kendaraan harus melintas perlahan di atas gelagar jembatan,” bebernya.
Untuk kendaraan roda empat, sopir harus memastikan kedua roda kendaraan berada tepat di atas gelagar besi. Ini terjadi karena timbunan tanah untuk menutup gelagar besi terkikis air.
“Banyak truk yang memilih melewati jalur kali di sisi utara jembatan, kalau aliran air tidak deras. Takutnya nanti hujan lebat, maka jalur transportasi penghubung kabupaten Sikka, Ende dan Nagaekeo di utara Flores, lumpuh,” terangnya.
Meskipun ada alat berat siaga di lokasi, kata Petrus, butuh waktu berjam-jam untuk memperbaiki jembatan darurat ini. Apalagi kalau sedang hujan lebat dan terjadi banjir, alat berat pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Aminah, salah seorang warga Ende yang ditemui di jembatan Dagemage, mengaku sering berbelanja barang kebutuhan di kota Maumere untuk dijual di kecamatan Kota Baru.
“Kalau musim hujan, sejak 2018, jembatan ini selalu putus meskipun diperbaiki lagi. Tiap kali hujan lebat pasti jembatan darurat putus. Kenapa pemerintah tidak antisipasi dan membangun jembatan darurat yang lebih layak, agar bisa dilintasi kendaraan, meskipun terjadi hujan lebat,” tuturnya.
Kalau jembatan putus, sambung Aminah, baru pejabat datang menengok. “Sementara saat musim kemarau, tidak ada pikiran untuk segera membangun jembatan darurat yang lebih layak dilintasi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka, Tommy Lameng, mengaku pihaknya sudah mengusulkan perbaikan jembatan ini ke pihak provinsi. Sebab, jembatan ini merupakan kewenangan provinsi.
“Memang katanya sudah ada anggaran dan akan dibangun jembatan permanen tahun ini. Makanya, kami selalu siagakan alat berat di lokasi, agar bisa selalu melakukan perbaikan,” tuturnya.