Cuaca Ekstrim, Nelayan di Badung Pilih tak Melaut

Editor: Mahadeva

BADUNG – Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, memprediksi cuaca ekstrim akan terjadi di wilayah Bali. Dari analisa pemodelan cuaca BMKG, muncul potensi hujan ringan dari pagi hingga malam di hampir seluruh wilayah Bali.

Angin bertiup dari arah selatan menuju barat laut, dengan kecepatan berkisar antara delapan hingga 36 kilometer per-jam (Km/jam). Tinggi gelombang di perairan utara Bali, berkisar antara 0,25 hingga 2,5 meter. Di perairan selatan Bali, tinggi gelombang antaran satu hingga 3,5 meter, di Selat Bali setinggi 0,25 hingga tiga meter, dan di Selat Lombok berkisar antara 0,5 hingga tiga meter.

Nurhali salah seorang nelayan di Pantai Kelan Desa Kedonganan Kecamatan Kuta Selatan Badung Bali.-Foto: Sultan Anshori.

Kondisi tersebut, membuat nelayan yang ada di Pantai Kelan, Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, enggan melaut. Nurhali, salah seorang nelayan di Pantai Kelan mengaku, kondisi seperti itu, sudah terjadi hampir dua bulan belakangan ini. Akibatnya, aktivitas nelayan untuk mencari ikan di tengah laut terganggu.

Selama dua bulan ini, aktivitas melaut juga menurun. Jika di hari biasa dengan cuaca bagus, Dia bisa melaut setiap hari. Akan tetapi saat ini, seminggu maksimal hanya tiga hari atau tiga kali melaut. “Ya, otomatis mengurangi pendapatan kami sebagai nelayan mas,” ucap Nurhali, saat ditemui di pinggir Pantai Kelan, Senin, (7/1/2019).

Nurhali menyebut, penurunan hasil tangkapan hingga mencapai 75 persen. Dengan kalkulasi, di hari biasa dan cuaca normal, ia mampu mendapatkan satu kuintal ikan. Sementara saat ini, hanya bisa membawa pulang ikan 15 kilogram. Sementara saat ini menurutnya, sebenarnya kebutuhan ikan cukup banyak. Sementara harga di pasar lumayan cukup tinggi. Namun, karena terkendala cuaca ekstrim, hal tersebut tidak menjadi rezeki bagi para nelayan.

Selama tidak melaut, perahu jukung miliknya dikandangkan di bibir pantai, sembari terus memantau situasi cuacanya. “Ya, mau bagaimana lagi. Ketinggian ombak mencapai dua meter lebih. Selain itu angin kencang juga menjadi kendala lain,” imbuh pria asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur tersebut.

Nurhali menyebut, ikan yang diperoleh biasanya tergantung musim. Untuk Januari, hingga April, biasanya Dia sering mendapat ikan jenis Cakalang dan Layang, dan beberapa jenis ikan karang lainnya. Selama tidak melaut, Dia memilih memperbaiki peralatan perahu dan alat tangkap. Sekali melaut, biasanya membutuhkan biaya Rp350 ribu, untuk bensin, uang rokok, dan kebutuhan lain selama melaut. Jarak yang biasa ditempuh satu jam hingga dua jam, dengan jarak sekira lima mil dari bibir pantai.

Lihat juga...