Kesiapan Mental dan Peralatan, Penting Kala Masuki Wilayah Bencana
Penulis: Henk Widi
LAMPUNG — Saat penulis mengikuti pelatihan jurnalisme konflik oleh Deuteche Welle (DW) Akademie Jerman, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Palembang akhir September, 27-29 September 2018, tepat pada Jumat sore (28/9) gempa mengguncang Palu, Sigi, Donggala serta sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah. Beberapa saat kemudian, berita tersebut memenuhi sejumlah stasiun televisi nasional.
Vidio amatir serta liputan langsung sejumlah media televisi di lokasi bencana menggambarkan dahsyatnya gempa berkekuatan 7,4 SR. Korban jiwa berjatuhan termasuk kerusakan sejumlah infrastruktur bangunan, jalan, jembatan serta berbagai fasilitas publik.

Bekal pelatihan jurnalisme konflik dengan instruktur mantan jurnalis perang Afganistan, Irak, Pakistan bernama Sheila Mc Myrosekar dari DW Jerman, semua peralatan meliput di lokasi sulit segera disiapkan.
Memasuki wilayah bencana dengan skala besar baru kali pertama penulis hadapi sebagai jurnalis. Dua hari sebelum berangkat, sejumlah kawan mulai menawarkan sleeping bag, hamock, alat survival termasuk persiapan alat pengisi daya telepon seluler tenaga surya (solar cell) hingga power bank. Semua peralatan termasuk tas dengan pelindung air saat hujan, kamera Nikon D5200 serta peralatan lain telah disiapkan untuk antisipasi masuk ke wilayah terpencil.
Info awal di sejumlah lokasi merupakan kawasan terisolir, listrik belum menyala, akses jalan sulit serta faktor keamanan. Setelah semua persiapan selesai penulis bergabung dengan tim YDGRK Siti Hartinah Soeharto dan melalukan persiapan di Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan.
Tim beranggotakan 7 orang, yakni Muhamad Yarman selaku sekretaris YDGRK Siti Hartinah Soeharto, sejumlah staf di antaranya Hizfil Wathon Ali, Djaeni, Angki Endarta, Istiqomah, Yosef Falentinus dari DPP Purna Pasukan Utama Kirab Remaja Nasional dan penulis.
Sebelum keberangkatan, sejumlah rencana perjalanan termasuk titik-titik bantuan yang akan diserahkan dari yayasan dibahas dengan matang. Berbagai kemungkinan akses melalui bandara yang belum stabil, akses jalan yang sulit menjadi gambaran medan yang harus dilalui.
Tim berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Rabu (10/10) menggunakan pesawat Garuda. Dilanjutkan dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU di Lanud Hasanuddin, Maros menuju Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu.
Belum normalnya kondisi bandara Mutiara Sis Al Jufri membuat tim YDGRK Siti Hartinah Soeharto harus diberangkatkan keesokan harinya pada, Kamis (11/10). Perubahan rencana perjalanan tersebut terjadi akibat pesawat Hercules mengalami kesulitan mendarat akibat lampu landasan belum normal.
Pagi buta pukul 04.00 pagi tim harus berangkat ke bandara dan terbang dengan pesawat CN 2906 pada pukul 05.15 sebelum matahari terbit bersama barang bantuan dan relawan.
Pesawat milik TNI AU tersebut meninggalkan Lanud Makassar dan mendarat di bandara Mutiara Sis Al Jufri sekitar pukul 07.15. Penulis akhirnya dapat melihat secara langsung kondisi fasilitas Air Traffic Control (ATC) bandara yang hancur semula hanya dilihat dari televisi. ATC portable sementara bahkan sudah didirikan untuk kelancaran lalu lintas penerbangan dari dan ke bandara Mutiara Sis Al Juhri.
Rombongan tim kemanusiaan YDGRK Siti Hartinah Soeharto disambut oleh Yosef Falentinus dan Dandim 1418/Mamuju Letkol Inf Jamet Nijo S.Sos yang terlebih dahulu menempuh jalur darat.
Kendala pertama sebagai jurnalis mulai terasa saat semua sinyal telepon seluler lenyap. Pemilihan provider di lokasi bencana menjadi sebuah catatan meski masih kesulitan untuk mencari toko yang menyediakan kartu perdana.
Rombongan tim akhirnya diberangkatkan ke tempat persinggahan sementara disambut Dandim 1307/Poso Letkol Inf Dody Rio di mess Kodim 1307/Poso yang berada tepat di depan Korem 132/Tadulako.
Tim bergeser ke markas Kodim 1306/Donggala tepat di kota Palu yang menjadi lokasi pengumpulan semua bantuan dari berbagai wilayah untuk disalurkan ke lokasi bencana. Secara simbolis bantuan diserahkan oleh Muhamad Yarman selaku sekretaris yayasan kepada Kodim 1306/Donggala melalui Pasiter Kapten Safroni Sasela mendampingi Dandim 1306/Donggala Letkol Kav I Made Maha Yudhiksa.
Seusai serah terima sebanyak empat truk berisi bantuan, satu truk berisi bahan bakar serta tiga kendaraan pengawal dari Kodim diberangkatkan ke sejumlah titik. Perjalanan rombongan untuk penyerahan bantuan dimulai di posko Berkarya Peduli di Kecamatan Palu Timur. Bantuan diserahkan berupa dua ton lebih beras, peralatan bayi dan perempuan, pakaian layak pakai serta obat-obatan.

Seusai penyerahan di Kecamatan Palu Timur, tim melakukan perjalanan ke sejumlah kecamatan, di antaranya Kecamatan Marowola, Kecamatan Dolo, Kecamatan Tanabulava, Kecamatan Gumbasa dan Kecamatan Kulawi semuanya di Kabupaten Sigi.
Satu titik di perhentian terakhir Desa Salua Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi berjarak sekitar 70 kilometer dari Kodim 1306/Donggala, lokasi pertama tim membawa bantuan.
Kerusakan di Kabupaten Sigi terlihat dari sejumlah desa, di antaranya Omo, Tuva, Salua dan desa lainnya. Sebelumnya akses jalan terkena longsoran dampak gempa berimbas sungai Salua terbendung membuat banjir bandang melanda, sehingga sejumlah akses jalan tertimbun lumpur dan tanah.
Kehadiran tim membawa bantuan dari YDGRK yang juga diprakarsai oleh Presiden kedua RI, HM. Soeharto tersebut terlihat sangat didambakan masyarakat terdampak bencana. Yohanes, Kepala Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, menyebut beberapa pekan terisolir akhirnya mereka menerima bantuan.
Kerinduan akan sosok presiden Soeharto juga terlihat dari para warga penerima bantuan.
Warga Desa Omo, Kecamatan Gumbasa terpaksa membangun tenda darurat. Meski retak dan tidak roboh seperti rumah tetangga yang lain, warga bernama Nurhayati tersebut tetap was-was akan gempa susulan. Tenda darurat dibuat sebagai lokasi untuk istirahat meski penerangan terpaksa mempergunakan minyak lampu dan genset berbahan bakar premium.
Tim baru bisa kembali ke kota Palu menjelang malam dengan kondisi seperti kota mati. Meski melintasi wilayah Petobo dan Balaroa namun akibat kondisi sudah malam kami tidak bisa meninjau lokasi yang terkena fenomena tanah bergerak atau likuefaksi dan menelan korban cukup banyak tersebut.
Ketersediaan listrik PLN menjadi kesempatan bagi penulis untuk mengisi daya meski harus bergantian dengan rekan lain. Lupa membawa terminal atau colokan listrik setidaknya menjadi kendala yang tidak harus terjadi sehingga power bank harus menjadi andalan.
Pemindahan data dari kamera DSLR dan telepon seluler ke notebook baru dapat dilakukan dengan daya listrik yang stabil. Selain itu ketersediaan jaringan Wifi oleh Kominfo di pusat kota untuk memudahkan akses internet.

Pentingnya peralatan memadai sebagai jurnalis siber tersebut setidaknya sudah diantisipasi meski di lapangan kondisi tidak semudah yang dibayangkan. Pengisi daya tenaga surya mulai memudar saat matahari terbenam. Rencana perjalanan yang berubah bahkan terjadi saat wakil presiden Yusuf Kalla dijadwalkan mengunjungi Palu pada Jumat (19/10) berimbas sejumlah penerbangan komersil ditunda. Rencana naik pesawat Hercules dari bandara Mutiara Sis Al Juhri juga terpaksa diurungkan karena malam tersebut tim harus bergeser ke Mamuju Sulawesi Barat.
Keputusan menempuh jalur darat sejauh 345 Kilometer dari Palu menuju Mamuju melalui jalan trans Sulawesi tersebut membuat sejumlah laporan harus ditulis sepanjang jalan.
Meski hanya sekilas melihat kerusakan di sepanjang jalur pantai kedahsyatan tsunami tersebut sangat terlihat dengan sejumlah kapal masih terdampar, jembatan kuning masih hancur.

Tim sempat beristirahat di Makassar sebelum kembali ke Jakarta pada Sabtu (13/10) setelah misi kemanusiaan penyerahan bantuan kepada korban bencana Sulteng dijalankan.