Era Ekonomi Digital Berikan Peluang Kepada Keluarga Pra Sejahtera
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Berada pada kondisi ekonomi yang kini transaksi jual belinya dapat dilakukan secara digital, turut memberikan peluang bagi masyarakat prasejahtera yang memiliki modal minim.
Seperti terlihat dari anggota binaan Posdaya-posdaya yang dinaungi Koperasi Derami Kota Padang. Dari 2.560 lebih masyarakat yang diberi pinjaman modal oleh Tabur Puja Yayasan Damandiri, 10 persennya, berdagang menggunakan online shop.
“Dengan hadirnya ekonomi digital, anggapan itu bisa saja tertepiskan,” sebut Manager Tabur Puja Padang, Margono Okta, Senin (15/10/2018).
Menurutnya, dengan modal yang minim, keluarga prasejahtera juga dapat menjadi pengusaha. Yakni dengan memanfaatkan jejaring sosial. Tumbuhnya usaha-usaha baru tidak terlepas dari adanya ekonomi digital atau disebut oleh para ibu-ibu zaman sekarang online shop.
Usaha kerajinan dan usaha oleh-oleh, seperti makanan khas Padang dan aksesoris khas daerah lainnya dapat dijalankan dengan modal minim.
“Meskipun usaha itu masih bersifat coba-coba tapi, jika mereka memiliki pelanggan dan produknya diminati, pemasarannya bisa lebih hebat, karena di online shop itu barang yang dipajang, siapapun dapat mengetahuinya,” katanya di Padang, Senin (15/10/2018).
Online shop dinilai sangat membantu keluarga pra sejahtera untuk menjalankan usaha di era ekonomi digital, karena proses kerjanya tidaklah harus memiliki kantor, tidaklah harus repot bersorak-sorak untuk memasarkan barang dagangan, dan tidaklah harus berpanas-panasan mendirikan lapak seperti pedagang kaki lima di pasar.
“Tapi, cukup duduk di rumah, memiliki gadget yang bisa browsing internetan, dan memiliki sejumlah akun di media sosial, Anda sudah bisa menjalankan usaha,” tambahnya.
Hal seperti inilah yang menjadi sasaran dari kebaradaan unit usaha yakni Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang (Derami). Bergerak khusus dalam hal memberikan pinjaman modal usaha serta memiliki misi untuk menumbuhkan ekonomi dari tangan-tangan keluarga pra sejahtera.
Memang, sebuah misi yang rumit. Tidak hanya siap untuk mengambil resiko modal usaha yang dipinjamkan macet, tapi juga membutuhkan usaha yang ekstra untuk membina keluarga pra sejahtera, sehingga memiliki mental pengusaha.
Sementara itu, salah seorang yang sukses dalam menjalankan usaha menggunakan digital, Silvia, warga asal Piobang Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Meski seorang disabilitas, tidak menyurutkan keinginanya untuk berkarya dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Dengan kondisinya yang hanya bisa duduk di kursi roda, dan sekali-kali harus telungkup, ia terus merajut benang demi benang untuk menghasilkan suatu karya yang bernilai tinggi.
Sepatu dan tas dan benang wol karyanya yang dipasarkan menggunakan ekonomi digital mampu dihargai tinggi dengan nilai mulai dari Rp300 ribu hingga Rp600 ribu untuk jenis sepatu, serta peci dan tas mulai dari Rp50 ribu hingga Rp500 ribu.

Selain Silvia, seorang ibu rumah tangga tetap dapat menjalankan usaha kerajinan merajut tas tanpa harus mengabaikan dua orang anaknya. Usaha kerajinan Mercyna Selvita yang tinggal di kawasan Rumah Petak, RT 3 / RW 10 terbilang berjalan cukup bagus.
Seiring dengan adanya modal usaha yang ia peroleh dari Tabur Puja, ia dapat memenuhi sejumlah kebutuhan utama. Selain itu, pesanan demi pesanan pun terus berdatangan. Hal ini tidak terlepas dari cara pemasaran penjualan yang dilakukan dengan memanfaatkan media sosial.
“Kalau di media sosial sendiri saya menggunakan akun dengan nama saya Mercyna Selvita. Alhamdulillah dari hasil usaha yang saya dapatkan bisa membantu kebutuhan rumah tangga,” ujar, wanita yang berparas cantik berusia 25 tahun yang berasal dari Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat ini.
Ia menyebutkan, hasil kerajinan yang dijualnya dengan harga yang bervariasi, yang tergabung dengan ukuran tas yang dibuatnya. Seperti tas berukuran besar, ransel bisa mencapai Rp300 ribu.
Untuk menuntaskan satu kerajinan, Mercy bisa menghabiskan waktu sekira satu pekan. Dengan demikian rata-rata penghasilan Mercy per bulannya mencapai satu juta hingga Rp1,5 juta dari hasil jualan kerajinan 4 hingga 5 kerajinan per bulannya.
Kini, dengan memiliki dua orang anak, kegiatan Mercy dalam menjalani usaha kerajinan dinilainya tidak mengganggu aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Ia pun mengaku menikmati aktivitas yang dilakukan di rumah bersama anak-anaknya, dan bersama usaha kerajinannya.