DKK Balikpapan Imbau Masyarakat Jangan Kucilkan Penderita Kusta
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BALIKPAPAN — Upaya menekan angka penderita kusta di Kota Balikpapan terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota dengan melakukan penyuluhan dan penyembuhan pada penderita yang sudah terdeteksi positif.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan jumlah penderita di 2017 sebanyak 31 orang, meningkat apabila dibandingkan dengan 2016 yang tercatat sebanyak 28 orang.
“Dari jumlah penderita yang terdeteksi terkena kusta itu tersebar di sejumlah kecamatan, dan tidak pada satu titik saja. Balikpapan ini juga banyak pendatang setiap tahunnya, sehingga saat pengobatan ada yang pindah tempat dan sembuh dengan kontinu,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Balerina JPP, saat ditemui Jumat (29/6/2018).
Kusta adalah penyakit menular atau infeksi menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae. Balerina menjelaskan penderita biasanya tidak menyadari jika tengah diserang. Akibatnya, penderita pun terlambat ditangani.
“Yang ditemui penderita kusta sendiri tidak menyadari kalau ada gejala pada dirinya, sehingga terlambat untuk ditangani bahkan enggan untuk melakukan pengobatan karena takut dikucilkan dari masyarakat karena penyakit menular,” jelas Balerina di sela aktifitasnya.
Adapun gejalanya, muncul bercak putih atau merah di kulit, tidak gatal ataupun nyeri, tetapi terasa baal (mati rasa). Pada umumnya, pasien tidak merasa terganggu sampai terjadi kecelakaan, misalnya terkena api namun tidak merasa sakit.
“Sumber penularannya sejauh ini baru manusia yang terjadi kontak secara terus menerus. Awal mendeteksi yaitu munculnya bercak putih, tidak gatal atau mati rasa. Sehingga untuk melakukan tes dengan jarum tapi penderita tidak merasakannya. Untuk lebih detail mendeteksinya dengan petugas kesehatan melakukan pemeriksaan melalui tes darah,” paparnya.
Menurut Balerina, apabila segera atau cepat terdeteksi penderita kusta dapat disembuhkan karena dapat dilakukan dengan pengobatan secara kontinu. Dimana ada obat yang diminum langsung saat datang ke dokter langsung dalam pengawasan dan terdapat obat yang diminum saat melakukan pengobatan rawat jalan.
“Penderita bisa sembuh asal konsisten dengan pengobatan. Kusta ini juga bila tidak segera diobati juga menyebabkan kecacatan. Bahkan obat juga rekomendasi dari WHO yang diimpor dan penderita gratis dalam pengobatan,” imbuhnya.
Selain itu, pihaknya juga minta kepada masyarakat apabila melihat warga sekitar menemukan gejala segera mengajaknya untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Bukan mengucilkan mereka dan menjauhi karena adanya ciri-ciri pada warga tersebut.
“Kontak dengan penderita kusta tidak langsung membuat seseorang tertular,” tukas Balerina.
Disebutkannya, dari 100 orang yang mengalami kontak dengan penderita kusta, 95 di antaranya tetap sehat. Hanya tiga orang yang tertular dan sembuh sendiri tanpa obat. Sedangkan dua orang lainnya sakit dan perlu pengobatan.
“Penularan itu biasanya dari pernafasan, dan biasanya kepada orang lain yang kontak lama dengan penderita, seperti orang yang tinggal serumah. Sehingga bila satu orang dikeluarga terdeteksi kusta maka tim medis langsung melakukan pemeriksaan pada seluruh anggota keluarga yang tinggal bersamanya,” imbuh Balerina.