Musim Hujan Tiba, Petani Sumbar Diminta Mulai Menggarap Sawah
PADANG — Memasuki musim hujan di sebagian wilayah Provinsi Sumatera Barat, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Candra meminta kepada petani mulai menggarap sawah.
Menurutnya, musim hujan yang melanda Sumbar saat ini sangat bagus mulai menggarap sawah. Terutama untuk sawah tadah hujan.
Di Sumbar sendiri luas sawah tadah hujan mencapai 49 ribu haktare, dan sebagian besarnya berada di Kabupaten Pesisir Selatan yang mencapai 10 ribu haktare.
“Dari informasi BMKG yang saya dapatkan. Musim hujan ini akan berlangsung selama Mei nanti. Jadi ini adalah momen yang bagus bagi para petani,” katanya, Senin (23/4/2018).
Ia menyebutkan, bertanam pada April hingga Mei merupakan momen yang pas. Sebab dengan perkiraan waktu, masa panen padi mulai dari 3 bulan hingga 4 bulan, maka waktu panen akan berlangsung sebelum atau sesudah Idul Adha.
Dengan adanya kondisi cuaca hujan ini, maka target dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, untuk target produksi padi pada 2018 sebanyak 2,75 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), dapat terwujud.
“Saya akan menyampaikan kondisi cuaca ini ke setiap balai penyuluhan pertanian yang ada di daerah. Supaya bisa mengingatkan kepada petani untuk mulai turun ke sawah,” ucapnya.
Sementara itu, Kasi Obesrvasi dan Informasi BMKG Stasiun Minangkabau Budi Imam Samiaji mengatakan untuk informasi prakiraan cuaca di Sumbar untuk tanggal 23-25 April 2018 mendatang pada umumnya terjadi hujan ringan di sejumlah daerah di Sumbar.
Seperti di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Padang, Padang Pariaman, Pariaman, Pesisir Selatan, Kabupaten Limapuluh Kota, diperkirakan terjadi hujan ringan. Sedangkan untuk di malam hari, hujan ringan juga diperkirakan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Limapuluh Kota, Sijunjung, dan Kabupaten Dharmasraya.
“Kondisi hujan ini memang akan berlangsung lama. Tapi untuk angin kencang sendiri tidak berlangsung selama hujan turun. Karena untuk kecepatan angin masih normal yakni 15 km per jam,” ucapnya.

Menurutnya, dengan kondisi yang demikian selain turut menguntungkan para petani, tapi juga perlu diwaspadai terjadinya banjir ataupun longsor. Hal ini mengingat daerah di Sumbar banyak dilalui sungai dan perbukitan.