Meski Janggal, Film Remake Suster Ngesot, Menegangkan

Editor: Koko Triarko

Adegan film The Secret: Suster Ngesot Urban Legend. –Foto: Dok. RA Pictures/ Akhmad Sekhu

JAKARTA – Kisah legenda urban mengenai Suster Ngesot memang sudah lama ada di tengah masyarakat. Sebuah kisah yang disebarkan dari mulut ke mulut dan sering dibesar-besarkan, sehingga menjadi lebih sensasional.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi, tak ada yang tahu persis, dan karenanya menjadi misteri. Film ini remake dari film yang dulu pernah dibuat oleh sutradara Arie Azis, dan sekarang ia kembali menyutradarainya.

Film ini diawali dengan kepulangan Kanaya (Nagita Slavina) ke Indonesia, setelah kuliahnya di Melbourne, Australia, selesai. Sayangnya, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ayah Kanaya, Wildan (Roy Marten), seorang ayah yang tajir, menggandeng istri baru bernama Sofie (Tyas Mirasih) yang seumuran dengan Kanaya.

Adegan selanjutnya, sebuah pesta di rumah super-mewah, dengan orang-orang yang membawa mobil-mobil sport yang diparkir di halaman bak sedang pameran. Tedi Ahmad (Raffi Ahmad), jadi sorotan utama dengan menunggang BMW seri i8 warna biru.

Dalam film ini, Tedi diceritakan sebagai bekas pacar Kanaya. Keduanya putus menjelang keberangkatan Kanaya ke Melbourne. Namun, Tedi setia menunggu kepulangan Kanaya. Tedi pun tak ragu untuk mengungkapkan rasa cinta yang masih bersemayam di hatinya.

Pada saat pesta, tampak begitu banyak orang hura-hura bersuka-cita dan bebas melakukan apa saja. Sofie bebas minum sepuasnya sampai mabuk berat, dan kemudian tanpa sadar memeluk-meluk Tedi. Hal itu membuat Kanaya cemburu dan kemudian langsung pergi dari party.

Kanaya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tedi mengejarnya. Tiba di sebuah pinggiran kota dengan hutan lebat di sepanjang jalan, sekelebat bayangan hitam tiba-tiba muncul di depan mobil Kanaya, sehingga Kanaya kaget dan membanting setir, hingga menabrak pohon.

Kemudian, begitu terbangun, Kanaya tahu-tahu sudah berada di sebuah rumah sakit yang tua dan seram. Kanaya hanya ditemani Tedi hingga ketika Tedi pergi, Kanaya tinggal sendiri dan di sinilah ia mulai diganggu hantu perempuan yang jalannya “ngesot”.

Ruangan menginap Kanaya bukan kamar eksklusif. Ia sekamar dengan beberapa pasien lain dengan hanya dibatasi selembar korden. Salah satunya nenek (Farida Pasha), berwajah seram yang pada suatu malam berjalan sendiri. Kanaya yang melihatnya tentu menanyakan dan mengikutinya, tapi sialnya suster ngesot mengganggu Kanaya, dan keesokan hari Si Nenek itu sudah meninggal dunia.

Setelah dinyatakan sembuh, Kanaya pun memutuskan untuk pulang ke sebuah vila sepi milik neneknya, tempatnya di pelosok wilayah Jawa Barat dengan tetangga sekitar yang menggunakan bahasa percakapan bahasa Sunda.

Di rumah yang cukup terpencil, tempat Kanaya menghabiskan masa kecil bersama ibunya yang sudah meninggal, ia masih diteror oleh suster ngesot. Misteri lain hadir dari dua sosok yang menjadi teman baru Kanaya: anak kecil dari tetangga sebelah bernama Lala, dan guru les privatnya, Marsha (Marshanda).

Lala adalah ‘anak indigo’ yang tahu jika Marsha adalah arwah yang sudah meninggal, namun ia tak memberi tahu Kanaya.

Kanaya mendapatkan teror dari hantu penasaran, sementara sang kekasih Tedy mencoba meyakinkan kalau teror atau kejadian-kejadian horor itu hanya perasaan Kanaya saja.

Sesaat setelah pulang ke rumahnya yang dirahasiakan dari Sang Ayah, teror tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi, membuat Kanaya semakin penasaran untuk mengungkap maksud dari kejadian-kejadian horor yang menimpanya.

Apakah Kanaya berhasil mengungkap misteri teror yang menimpanya?

Film ini cukup seram dan menegangkan. Sutradara Arie Azis mengarahkan film ini dengan cukup baik. Meski demikian, banyak adegan janggal yang tampaknya dipaksakan untuk memberi efek seram. Seperti rumah sakit yang tua dan seram tampak tak layak bagi Kanaya yang anak orang kaya raya.

Kemudian, Kanaya yang ceritanya tak sadarkan diri selama dua hari, tapi mengapa ayahnya tidak mencarinya?

Sekian lama Kanaya, anaknya, kuliah di luar negeri, dan baru pulang, tentu menimbulkan tanda tanya, karena dua hari menghilang tanpa kabar berita.

Akting Nagita Slavina cukup baik dan tampak begitu mendominasi adegan sepanjang film ini dari awal hingga akhir.

Gigi, sapaan akrabnya, seperti kembali beradaptasi dengan dunia seni peran yang telah membesarkan namanya. Tapi, Gigi lebih banyak main sinetron dan film televisi (FTV) daripada film layar lebar, sehingga style sinetron begitu tampak sekali dalam film ini. Meski demikian, Gigi mampu tampil prima.

Sedangkan, Raffi Ahmad tampak lebih lepas aktingnya. Ia tanpa beban memainkan perannya. Raffi memang sudah akrab dengan dunia hiburan sejak kecil, dari mulai berakting, menyanyi hingga menjadi presenter musik.

Tapi, film ini menjadi debutnya sebagai seorang sutradara yang masih dalam taraf penjajakan atau mungkin sekedar formalitas saja. Sedangkan menjadi produser, Raffi sudah melakukan untuk ketiga kalinya: The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018), Rafathar (2017) dan Wanita Tetap Wanita (2013).

Ada pun, para pemeran pendukung dapat kita catat, seperti Marshanda berakting dengan cukup baik. Meski porsi adegannya sedikit, tapi mencuri perhatian penonton, karena nama besar yang disandangnya. Kemudian, Tyas Mirasih yang tampak total menjadi istri muda yang mabuk.

Aktor kawakan Roy Marten yang perannya sangat menyakinkan sebagai orang kaya raya dan masih suka daun muda. Aktris kawakan Farida Pasha yang sangat terkenal dengan Nenek Lampir dan di film ini menjadi nenek juga, tapi nenek yang sakit-sakitan dan kemudian meninggal dunia, sehingga menambah seram.

Hanya saja dalam film ini, ia tidak memperdengarkan suara ketawa cekikikan khas Mak Lampir.

Menonton film ini, meski remake legenda urban Suster Ngesot, tapi tetap ada yang patut kita renungkan untuk senantiasa bersabar. Legenda urban tentu menyimpan kearifan lokal yang menjadi kekayaan budaya kita. Jangan terlalu terjebak dalam cerita mistiknya, tapi pesan bijak yang tersirat di dalamnya. Juga sebuah petuah bijak Jawa, ojo kagetan, bahwasannya kita diingatkan agar jangan cepat kaget, karena itu kita harus selalu eling dan waspada demi keselamatan hidup kita.

Lihat juga...