Petani Barito Utara Mulai Tanam Padi Ladang
MUARA TAWEH — Warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mulai menanam padi ladang atau padi gunung pada musim tanam Oktober-Maret 2017/2018.
“Warga di sejumlah tempat di desa kami mulai menanam padi ladang dengan cara tugal,” kata Irwansyah, warga Kelurahan Jambu Kecamatan Teweh Baru, Selasa (28/11).
Sejumlah kawasan yang terlihat aktivitas warga menanam padi ladang di antaranya di Jalan Malawaken – Sabuh Kecamatan Teweh Baru.
Dengan cara tugal, warga memasukan benih padi antara 10-20 butir ke dalam lubang yang dibuat menggunakan kayu bulat itu. Jumlah warga bervariasi, ada yang hanya lima orang bahkan sampai ratusan tergantung jumlah luasan lahan pertanian.
Biasanya kalau luas lahan sekitar satu hektare paling sedikit ditanami oleh lima orang yang membutuhkan benih padi ladang sekitar 50 kilogram.
“Meski tempat lain masih ada yang belum bercocok tanam padi ladang, namun tempat kami sudah memulai karena beberapa hari lalu diguyur hujan,” katanya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Setia Budi mengatakan pembukaan luas lahan untuk tanaman padi ladang atau padi gunung di sejumlah tempat pada musim tanam tahun ini sasarannya hanya sekitar 5.872 hektare atau berkurang 56,35 persen dibanding tahun lalu mencapai 10.419 haktare.
“Berkurangnya luas tanaman padi ladang ini akibat adanya larangan dari pemerintah pusat membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan cara membakar, sehingga turun drastis lahan bercocok tanam khususnya padi gunung yang tersebar di sembilan kecamatan,” katanya.
Menurut Budi, luas lahan padi ladang yang bergantung dengan hujan ini tersebar di Kecamatan Teweh Tengah, Teweh Selatan, Teweh Timur, Lahei, Lahei Barat, Gunung Timang, Gunung Purei dan Montallat.
Lahan yang ada sekarang, kata dia, merupakan lahan bekas ladang sebelumnya yang sudah ditumbuhi semak-belukar kemudian olah menjadi lahan pertanian dan sebagian warga masih ada yang membakar secara sedikit-sedikit sehingga tidak berdampak pada kebakaran lahan dan hutan.
“Memang membuka lahan secara membakar oleh petani di daerah ini sudah dilakukan sejak turun temurun yang mampu menjaga kearifan lokal dan budaya, apalagi bagi warga Suku Dayak yang membuka lahan pertanian biasanya dengan cara skat atau membersihkan bagian pinggir lahan yang mau dibakar sehingga tidak merembat kawasan hutan lainnya,” katanya.
Pada musim tanam Oktober 2017 sampai Maret 2018 ditargetkan tanaman padi seluas 8.972 hektare yakni padi sawah seluas 3.100 hektare tersebar di Kecamatan Gunung Timang, Teweh Tengah, Teweh Selatan, Teweh Timur, dan Montallat, sedangkan padi ladang seluas 5.872 hektare tersebar di sembilan kecamatan.
Guna meningkatkan produksi pangan itu pada tahun ini pihaknya menembangkan padi sawah dengan teknologi Hazton di empat kecamatan seluas 1.000 hektare.
“Sistem Hazton ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi padi dan mendukung upaya swadaya beras nasional saat ini sebagian sudah menanam, sedangkan padi sawah varietas lainnya masih menyemai,” ujar Budi (Ant).