Jujurlah Seperti Tumbuhan
OLEH IMAN BUDHI SANTOSA
DALAM produksi film Pray, Eat, Love (PEL) yang dibintangi Julia Roberts dan syutingnya dilaksanakan di Bali, Oktober 2009, konon banyak masyarakat di sana yang menangguk rezeki. Contohnya, seorang figuran yang di-casting sebagai petani yang tengah berjalan memikul padi dan sekian detik melintas di depan kamera, dapat honor 400 ribu rupiah.
Kalau diukur menurut penghasilan buruh tani beneran yang upahnya waktu itu hanya sekian puluh ribu sehari, untuk mengantongi uang sebesar itu bisa jadi harus bekerja seminggu. Kejadian itu mengindikasikan bahwa nilai kharismatik petani kita sudah bernilai 400 ribu rupiah untuk sekian menit nongol di layar film Hollywood. Itu gara-gara para sineas Amerika sangat kepincut dan terkagum-kagum dengan panorama alam serta pertanian Indonesia.
Seperti di Bali saja, sudah sejak lama orang mengagumi penataan sawah bertingkat di lereng pebukitan Cintamani. Belakangan, keserasian diversifikasi kebun di sana yang tertata rapi berisi tanaman kelapa, kopi, cengkeh, panili, kemudian pagar kelilingnya menggunakan salak, tampaknya juga makin ideal diadopsi oleh petani lain di Indonesia, termasuk di Jawa.
Padahal, konon, pertanian di Jawa dan Bali sama tuanya. Yang membedakan, kata seorang ulu-ulu (petugas pengairan desa) dari Delanggu, Klaten, di tahun 1997, adalah kejujurannya. Menurut dia, kejujuran petani Bali dan Jawa mulai berbeda. Dan salah satu matra yang membedakan itu, lagi-lagi konon, adalah kejujuran mereka dalam menghargai alam. Para petani modern di Jawa sering tidak lagi meletakkan pertaniannya di “ubun-ubun”, melainkan di “kantong celana”.
Kadang, mereka tidak lagi menjadi “pagar” terhadap hakikat nilai pertanian yang diwariskan para leluhur, tetapi sudah menyerupai pedagang yang menghitung nilai lahan, guguran daun, ataupun rumpun bambu, menggunakan kalkulator elektronik dalam pertimbangan rugi laba.
Saya sempat bertanya kepadanya, apa salah jika wong tani utun (petani naluri) berkembang menjadi petani pengusaha? Toh, dia juga butuh hidup lebih mapan dan nyaman. Ulu-ulu yang menggunakan caping bebek dilapis lembaran plastik itu tertawa. Sambil mengumpulkan itiknya karena senja telah temaram, ia menukilkan sebuah teka-teki yang luar biasa indahnya.
“Coba, siapa sesungguhnya makhluk yang paling jujur di dunia ini? Manusia, hewan, atau tumbuhan?” Tanpa harus menjawab, saya tahu arah pembicaraan yang diinginkan.
Memang, tumbuhanlah makhluk yang paling jujur di dunia ini. Buktinya, apa yang dialami figuran film PEL itu. Siapa yang memberi berkah si figuran memperoleh honor 400 ribu? Tidak lain adalah padi yang dipikulnya. Bukan siapa-siapa. Para sineas Amerika hanya jadi perantara. Karena dipikul, dijunjung di atas pundak, dihargai, dihormati, dimuliakan sedemikian rupa, sang padi sudi memberikan imbalan lewat tangan sineas Amerika sampai berlipat ganda.
Namun, sikap jujur tumbuhan sering pula membuat orang kecewa dan sakit hati. Contohnya ada. Tahun 1992, seorang teman, sinder pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar, hampir saja menebang pohon mangga yang ditanam di halaman rumahnya. Meskipun awalnya bibit mangga tadi dibeli dari pedagang kelilingan, namun setengahnya pohon mangga itu disakralkan.
Karena dulu niat menanamnya untuk menandai hari kelahiran anaknya yang kedua. Sedangkan waktu anak pertama yang lahir perempuan, dia menanam kelapa gading.
Celakanya, setelah berbuah ternyata buahnya masam. Padahal, kata si penjual bibit kelilingan waktu itu, bibit yang dijual benar-benar mangga arum manis asli Probolinggo. Nah, jengkel karena buahnya tidak seperti yang diharapkan, pada suatu hari Minggu ia memutuskan untuk menebangnya. Rencananya akan diganti dengan mangga arum manis beneran yang dibeli dari kebun bibit Dinas Pertanian.
Namun, begitu ayunan kapak pertama menetak pokok pohon mangga, tiba-tiba datang temannya sesama sinder yang asli dari Lampung berkunjung ke sana. Melihat pemilik rumah menebang pohon mangga yang dijadikan tanda kelahiran anaknya itu, dia bertanya lantang.
“Mengapa ditebang? Apa salahnya pohon mangga itu?”
Pertanyaan aneh tadi membuat pekerjaan si pemilik rumah tertunda. Sambil menyilakan tamunya duduk di teras, dengan jujur ia menceritakan kisah di balik pohon mangga arum manis palsu yang akan ditebangnya.
“Ah, yang menipu penjual bibitnya, bukan pohon mangga yang kamu tanam. Pohon mangga itu jujur, kok. Jika memang arum manis, buahnya akan manis. Jika bukan, tentu rasanya akan masam.” Komentar si tamu dengan enteng. “Jadi, hargai dong, kejujurannya. Meskipun buahnya masam, apa dia salah? Apa tidak ada manfaat lainnya?”
Lalu dengan sabar si tamu mengisahkan. Katanya, di Lampung ada peribahasa daerah yang berbunyi: “Kepak ya mulan hapa, titanomko juga ya, kepak mak ngambuah, bulungni sejakh jadi pangkhenggom.” Artinya, walau bibit (biji) tidak bernas, tanamkan juga, meskipun tidak berbuah, daunnya berguna jadi perindang.
Mendengar peribahasa tadi, si pemilik rumah mengerinyitkan dahi. Sejenak ia tercenung. Terlebih ketika temannya menambahkan. “Tanam saja bibit mangga arum manis yang baru kamu beli di pojok sana. Halamanmu kan luas. Biarlah pohon mangga yang dulu dan berbuah masam itu jadi sarang kelelawar, sarang semut. Buahnya jadi makanan burung. Apa salahnya?”
Alhamdulillah. Sampai sekarang di halaman itu masih terdapat dua buah pohon mangga. Satu yang berbuah masam, satu lagi mangga arum manis. Artinya, ada filosofi keseimbangan alam yang berhasil dipahami dari kejadian tadi. Allah SWT menciptakan seluruh tumbuhan dengan makna dan manfaat yang berbeda-beda. Kita manusia, tinggal melestarikannya.
Jangan pilih kasih, karena semua tumbuhan punya hak hidup di dunia. Sama seperti makhluk lain yang telah diciptakan; termasuk manusia. ***
Iman Budhi Santosa, budayawan