Edukasi Masyarakat Menjaga Kelestarian Burung, BKSDAE NTB Gandeng Unram
MATARAM — Masih maraknya aksi perburuan dan perdagangan aneka jenis burung, terutama burung dilindungi oleh sebagian masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menjadi tantangan tersendiri di NTB.
Masyarakat masih memposisikan burung hanya dari sisi komersil semata dan kurang menyadari dampak yang ditimbulkan dari aksi perburuan dan praktik perdagangan burung serta satwa lain yang dilindungi
“Sehingga diperlukan upaya edukasi kepada masyarakat, supaya tidak secara terus menerus melakukan perburuan dan perdagangan burung,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekowisata (BKSDAE) NTB, Widada di Mataram, Selasa (12/9/2017).
Upaya tersebut penting dilakukan, karena kalau tidak, aksi perburuan dan perdagangan burung termasuk satwa lain akan terus dilakukan dan bisa mengancam populasi burung di NTB akan semakin berkurang.
Sebagai wujud komitmen melakukan edukasi kepada masyarakat, pihaknya telah menggandeng Universitas Mataram (Unram), yang secara khusus konsen meneliti tentang burung.
“Unram telah kita gandeng, selain melakukan edukasi kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan hutan, juga melakukan identifikasi mengenai populasi burung di sejumlah kawasan hutan konservasi dan Taman Wisata Alam (TWA)” katanya.
Untuk diketahui jenis burung yang baru teridentifikasi BKSDAE NTB bekerjasama dengan Unram di dua TWA sebanyak 80 jenis, antara lain 30 di TWA Rawa Air Asin Gili Meno dan TWA Kerandangan sebanyak 54 spesies. Salah satunya burung Celepuk Rinjani yang merupakan terlangka di dunia dan hanya terdapat di TWA Kerandangan Lombok Barat.