KAMIS, 30 MARET 2017
SLAWI — Tak selamanya sebuah film dimaknai sebagai sebuah tayangan yang diputar selama berjam-jam. Bagi pria muda ini, sebuah film pendek menurutnya justru lebih menarik, asal bernilai, dan sarat dengan pesan moral.
![]() |
| Abdul Azis Alghifari, S.Kom. |
Abdul Azis Alghifari, S.Kom, pemuda lulusan universitas swasta di Kota Tegal, Jawa Tengah, jurusan komputer, ini telah menekuni dunia perfilman, khusus film-film pendek dokumenter selama beberapa tahun terakhir. Meski namanya belum setenar senior-seniornya di Tegal, kepiawaiannya membuat sebuah film pendek cukup diakui.
Pria yang juga berprofesi sebagai pengusaha muda ini tak hanya piawai dalam hal berusaha secara offline, namun juga piawai di bidang marketing online. Nah, di sinilah titik temu antara bisnis dan bakat pembuatan film pertamanya dimulai. Dengan memanfaatkan YouTube, Aziz membuat sebuah film pendek yang khusus berisi tentang dokumenter seputar usahanya. Dari sini kemudian ia memperoleh berbagai keuntungan dari membuat video.
Aziz mengatakan, dengan membuat sebuah karya film pendek atau video yang penuh inspirasi, dengan sendirinya film tersebut akan menarik perhatian pengguna YouTube, sehingga dalam sehari saja film yang dibuat view-nya sudah mencapai ribuan. Belum lagi, jika akun YouTube itu dimonetisasi, tentu akan mendatangkan keuntungan, selain pesan nilai film juga tersampaikan.
Aziz mengaku beberapa kali sering melatih anak-anak SMK yang ingin membuat film dokumenter atau film pendek, mengarahkan cara mengambil gambar yang baik, mencari lokasi syuting, dan tak jarang juga memberikan masukan tentang alur film, agar mempunyai pesan moral di dalamnya, sehingga tidak hanya kepuasan saja yang didapat, tapi juga ada kebermanfaatan film terhadap masyarakat yang menontonnya.
Aziz juga sering melatih teman-temannya di komunitas UMKM Tegal, untuk membuat sebuah film dokumenter tentang profil usaha, yang nanti akan dibuatkan naksah olehnya sekaligus menyutradarainya. “Sebuah Film tidak sekedar menjadi tontonan yang hanya ditonton berjam-jam tanpa nilai, tapi jauh lebih dalam dari itu, film adalah juru bicara saat perkataan tak didengar dan sebuah pesan tak dibaca. Maka, lewat film semua akan mudah dicerna tanpa penolakan,” Kata Aziz, saat ditemui Kamis (30/3/2017) di Pantai Larangan Tegal, saat mencari tempat untuk film dokumenter yang sedang dikerjakannya.
Dalam pandangan Aziz, film-film pendek bernuansa edukasi akan jauh lebih berharga dibanding film dengan durasi panjang, tapi tidak ada pesan moral di dalamnya. Apalagi, jika melihat perfilman sekarang yang seolah sudah tidak mengajarkan etika moral, ketaatan, kepatuhan, tapi lebih mengedepankan sisi hedonisme, non ilmiah, hanya dengan bermodal aktor-aktris cantik mengumbar aurat, peran anak sekolahan yang jauh dari dunia pendidikan, peran mahasiswa yang jauh dari dunia intelektual, dan budaya pop (populer) yang menjangkiti hampir semua generasi.
“Indonesia saat ini membutuhkan film-film pendek yang memberikan nilai edukasi yang jelas, memberikan pesan moral, religius, serta intelektual, sehingga sebuah film bisa untuk dinikmati berbagai kalangan. Khususnya fim pendek penuh makna yang disebarkan melalui YouTube harus pula digencarkan untuk mengimbangi film-film atau video-video yang tidak layak ditonton,” pungkasnya.
Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto