SOLO — Keberadaan beras untuk warga miskin (raskin) hingga saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Sebab, di Klaten, Jawa Tengah, masih ditemukan kualitas raskin yang tidak layak konsumsi.
“Kalau ini sudah tidak layak konsumsi. Beras bantuan untuk warga miskin itu sebenarnya untuk menambah gizi, kalau seperti ini jelas tidak baik,” ucap Endang Srikarti disela-sela pengawasan di Kantor Desa Jongkare, Kecamatan Karanganom, Klaten, Sabtu (22/10/16).
Anggota DPR RI dari Dapil V Jawa Tengah itu dengan tegas meminta agar raskin yang tersisa tidak dibagikan kepada masyarakat. Sebab, kualitas raskin yang ditemukan saat itu benar-benar buruk. “Kita itu manusia bukan hewan, kalau diberi beras seperti ini jelas tidak sehat,” tegasnya.
Adanmya temuan Raskin yang tak layak konsumsi itu, Politisi Partai Golkar itu langsung melakukan koordinasi dengan Perum Bulog wilayah Klaten. Dirinya meminta agar Bulog memperbaiki kualitas raskin yang akan dibagikan kepada masyarakat. “Saya minta Bulog perbaiki kualitas raskin ini. Jangan sampai beras raskin merupakan beras “mumet” (pusing),” urainya.
Disebutkan, keberadaan beras “mumet” sering kali dijumpai di tengah masyarakat. Misalnya, beras milik Bulog yang kualitasnya masih bagus dijual kepada tengkulak. Selanjutnya, ditampung tengkulak, hingga beberapa waktu ke depan dibeli lagi oleh Bulog, namun kualitas jauh sudah menurun. “Jangan-jangan beras yang muter tidak tau arah ini yang diberikan kepada masyarakat miskin,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Jongkare Ananti mengaku tidak tahu menahu dengan kualitas raskin yang dibagikan kepada warganya. Kantor Desanya hanya sebagai tempat untuk menyalurkan raskin kepada masyarakat. “Yang menyalurkan raskin ada satgasnya. Kita selama ini tidak tahu kalau kualitasnya buruk, karena beras masih dalam karung. Kalau seperti ini jelas kualitasnya memang buruk,” tandasnya.