LAMPUNG — Tradisi melakukan kegiatan belanja sehari sebelum lebaran yang di wilayah Lampung yang dikenal dengan Prepekan masih menjadi kebiasaan warga di sejumlah kecamatan terutama di pasar pasar tradisional. Sejak subuh ratusan orang berdatangan menuju pasar, bahkan pasar yang sebelumnya sudah ramai akan menjadi lebih ramai ditandai dengan akses jalan yang sangat macet bahkan harus saling bersenggolan antar pembeli yang berniat berbelanja.
Salah satu tradisi prepekan tersebut berlangsung di pasar tradisional Pasuruan, Pasar Bakauheni, Pasar Sidomulyo dan sejumlah pasar tradisional lain di Lampung.
Jalan berukuran lebar tiga meter bahkan disesaki masyarakat yang akan berbelanja bahkan berakibat badan jalan menjadi lokasi parkir kendaraan roda dua dan roda empat warga yang hendak berbelanja. Sebagian besar masyarakat datang ke pasar dengan tujuan membeli kebutuhan pokok diantaranya makanan pokok, kue kue kering, pakaian, barang elektronik dan sebagian mengunjungi toko emas untuk menjual emas.
Membludaknya pengunjung pasar tradisional memberi berkah tersendiri bagi para pedagang yang sudah bertahun tahun berjualan di pasar tradisional Pasuruan. Salah satu pedagang, Umini (40) bahkan telah mempersiapkan barang dagangan sejak malam hari dan telah berjualan sejak subuh dengan menjual beberapa kebutuhan pokok termasuk sayuran.
“Sudah kebiasaan masyarakat jelang lebaran pasti berbelanja kebutuhan pokok sehingga pedagang sudah bersiap sejak malam dan banyak yang datang subuh karena tidak mau berdesakan,”ungkap Umini saat dikonfirmasi media Cendana News di pasar tradisional Desa Pasuruan, Selasa (5/7/2016)
Sebagian besar pedagang bahkan menyiapkan barang dagangan lebih banyak dari biasanya. Umini mengaku biasanya menyiapkan sebanyak 100 kilogram minyak goreng kini menyiapkan sebanyak 50 kilogram minyak tambahan untuk dijual saat prepekan.
Umini mengaku omzet penjualannya meningkat dari semula 50 persen mencapai 80 persen dibanding hari biasa akibat pembeli berdatangan dari luar wilayah kecamatan bahkan saat bertepatan pasar Selasa menjadi satu satunya pasar yang beroperasi jelang lebaran.
Cara menarik pembeli bahkan dilakukan oleh Umini dan sebagian pedagang lain dengan memberikan potongan harga menjelang siang saat sebagian besar pembeli mulai berkurang dan barang belanjaan sudah nyaris habis. Pemberian potongan harga dilakukan untuk meraup keuntungan berlipat sehari sebelum lebaran.
“Sekalian memberikan diskon kepada pembeli karena kalau tidak habis barang yang saya jual juga nantinya malah busuk terutama sayur sayuran yang harus habis hari ini juga,”ungkapnya yang berjualan sembako.
Berkah dalam penjualan saat prepekan juga dialami penjual pakaian di pasar tersebut. Ujang salah satu pedagang pakaian mengaku pembelian meningkat dibanding tahun lalu terutama untuk penjualan pakaian untuk ibadah Sholat Ied diantaranya sarung, peci, sajadah, kerudung untuk wanita serta baju muslim lainnya.
Ujang mengakui dalam sehari sejak pagi bahkan sudah menjual sebanyak 50 lusin baju koko dan sebanyak 50 kerudung yang banyak dibeli oleh wanita dan anak anak. Pembelian yang meningkat tersebut menurutnya banyak dilakukan oleh para perantau yang pulang ke kampung halaman terutama yang bekerja di Pulau Jawa dan melakukan mudik lebaran.
“Banyak wajah wajah baru yang sebagian merupakan warga perantau yang pulang rata rata memborong baju karena habis dapat THR mungkin,”ungkapnya sambil terkekeh.
Tak hanya penjual sembako, baju lebaran, penjual daging dadakan pung meraup keuntungan cukup melimpah dengan permintaan daging sapi dan kambing untuk menu lebaran. Sementara pedagang bumbu dapur pun mengalami peningkatan penjualan dengan banyaknya kaum ibu rumah tangga yang membeli bumbu untuk masakan istimewa di hari raya. Meski terjadi setahun sekali, beberapa penjual kulit ketupat dalam tradisi prepekan dan pedagang lain rata rata meraup keuntungan berlipat. Sebagian pedagang bahkan hanya dijumpai saat pasar prepekan berlangsung.