SENIN, 11 JULI 2016
JAKARTA — Baru saja beberapa saat yang lalu selesai digelar rapat koordinasi terkait dengan penanganan kasus penculikan dan penyanderaan yang menimpa 3 Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI). Rapat koordinasi tersebut digelar di Kantor Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Hadir dalam rapat tersebut antara lain Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo, Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi, Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Sutiyoso, Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) TNI Mayor Jendral TNI Yayat Sudrajat, sedangkan Menteri Pertahanan dan Kapolri tidak tampak terlihat hadir, namun diwakilkan pejabat lainnya.
Berdasarkan pantauan Cendana News langsung dari Kantor Kemenkopolhukam, Senin siang (11/7/2016), jalannya agenda rapat koordinasi yang dipimpin secara langsung oleh Menkopolhukam tersebut dilaksanakan secara tertutup, media cetak maupun media elektronik tidak diperkenankan memasuki ruangan. Rapat koordinasi tersebut dimulai tepat pada pukul 13:00 WIB dan baru berakhir pada sekitar pukul 14:30 WIB.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan “dalam kasus penyanderaan dan penculikan yang beberapa kali menimpa WNI, baik yang terjadi di wilayah Filipina maupun di wilayah Malaysia, maka sekali lagi kita tekankan bahwa keselamatan para sandera merupakan prioritas utama bagi Indonesia, Presiden kita telah melakukan komunikasi intensif dengan Presiden Duterte dari Filipina” katanya saat jumpa pers di Kantor Kemenkopolhukam, Senin (11/7/2016).
“Saya sendiri sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia juga terus menjalin komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Filipina, begitu juga dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, rencananya besok, Selasa (12/7/2016), Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu akan melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Malaysia dan Filipina di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam pertemuan tersebut akan dibahas lebih detil dan kongkrit bagaimana mencari penyelesaian yang terbaik terkait dengan pembebasan para sandera” demikian dikatakan Retno Marsudi kepada wartawan di Jakarta.
Sementara itu, perlu diketahui sebelumnya bahwa pada tanggal 5 Mei 2016 yang lalu, Panglima Angkatan Bersenjata dari ketiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Filipina, bersama-sama dengan intansi lainnya telah melakukan pertemuan segitiga di Yogyakarta. Dimana dalam pertemuan tersebut telah menghasilkan beberapa poin-poin kesepakatan dan kerjasama terkait dengan penanganan pembebasan sandera jika sewaktu-waktu terjadi penculikan atau penyanderaan seperti sekarang ini.(Eko Sulestyono)