Arisan, Cara Warga Klaten Siasati Daging Mahal Jelang Lebaran

SELASA, 5 JULI 2016

LAMPUNG — Warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung menggelar arisan daging sapi dan daging kambing. Arisan daging tersebut merupakan sebuah cara yang dipertahankan masyarakat setempat karena setiap tahun harga daging terutama sapi dan kambing melambung tinggi, terutama menjelang hari raya lebaran. Arisan tersebut bahkan dijalankan selama hampir lima tahun terakhir tak hanya lebaran Idul Fitri melainkan saat Idul Adha.
Salah satu ketua kelompok arisa, Kuncung (40) mengakui proses arisan dilakukan oleh masyarakat di desa tersebut sebagai sarana untuk bergotong royong dan mempererat kebersamaan dalam rangka merayakan lebaran yang dirayakan setahun sekali. 
Ia mengaku anggota arisan daging sendiri jumlahnya bervariasi, antara 70 orang sampai 100 orang setiap kelompok. Setiap anggota ditarik sumbangan uang senilai Rp150 ribu. Setelah uang terkumpul semua, lalu dibelikan sapi dan kambing.
“Solidaritas dan tentunya kebersamaan bagi warga itu yang paling utama dan arisan ini salah satu cara membagikan daging yang lebih murah dan agar setiap warga bisa menikmati olahan daging yang istimewa saat hari raya,”terang Kuncung ketika ditemui Cendana News di rumahnya, Selasa (5/7/2016).
Proses arisan daging tersebut ungkap Kuncung dilakukan dengan cara membayarkan uang iuran secara bertahap sesuai kemampuan masing masing peserta arisan. Selain kemampuan masing masing anggota kelompok diantaranya ada yang mampu membayar sekaligus dan sebagian membayar bertahap.
Ketika tiba sehari sebelum lebaran, ternak kambing dan sapi yang telah dibeli akan dititipkan di salah satu kandang warga kemudian sapi tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan pada anggota kelompok. Setiap anggota mendapat 2 kg lebih daging. Pola arisan daging seperti ini dinilai lebih efektif untuk mendapatkan daging sapi dengan harga lebih murah.
Kuncung mengaku proses tersebut merupakan cara menyiasati harga daging yang selalu melambung tinggi meski pemerintah telah melakukan berbagai cara menstabilkan harga daging jelang hari raya. Cara arisan daging setelah dilakukan perhitungan akan lebih murah, bahkan saat ini di pasaran harga daging sapi saat ini dipatok berkisar Rp130  ribu per kg sementara harga daging kambing mencapai Rp90ribu. Daging hasil arisan tersebut dimasak oleh warga untuk merayakan lebaran yang telah ditetapkan pemerintah akan jatuh pada Rabu, 6 Juli 2016.
Sebagai syarat warga yang akan bergabung dengan arisan tersebut khusus untuk  arisan daging, bagi setiap anggota dibebani biaya sebesar Rp150 ribu. Setelah dana dari peserta arisan terkumpul, kemudian uang tersebut dibelikan sapi. Dengan biaya Rp150 ribu, bisa dapat daging 2 kg lebih per anggota dan sisa uang digunakan sebagai biaya untuk jasa membersihkan daging dan jasa jagal.
Selain menurut Kuncung, salah satu warga lain yang mengikuti arisan daging, Joni mengaku, arisan daging banyak manfaat bagi warga terutama bagi warga yang selama ini sulit memperolehnya. Selain bisa mendapat daging dengan harga lebih murah, proses pembayaran arisan memiliki jangka waktu satu tahun sehingga tidak memberatkan warga. 
Selain meringankan beban warga arisan daging tersebut memiliki keuntungan dengan bisa memastikan bahwa daging yang akan dikonsumsi atau dimasak nanti, layak untuk dimakan. Selain kaum laki laki beberapa wanita yang bertugas memasak di rumah bahkan saling bertukar bumbu untuk proses memasak daging yang biasanya disajikan dengan ketupat.
“Kita kan bisa memilih sapi yang sehat dan gemuk, sehingga ketika disembelih banyak dagingnya dan sehat. Kemudian bisa menambah keakraban antar warga terutama warga yang secara bersama sama membersihkan daging serta membagikannya dalam beberapa bungkus sesuai jumlah anggota arisan,” paparnya.
Arisan daging seperti ini kerap dilakukan masyarakat di desa tertentu di Lampung seperti di Desa Klaten. Tidak hanya di Desa Klaten arisan daging serupa juga dilakukan di Desa Marga Agung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, juga melakukan hal yang sama. Warga peserta arisan patungan untuk membeli sapi, lalu disembelih dan dagingnya dibagikan secara merata.
“Disini juga ada, setiap lebaran sebagian warga urunan untuk membeli sapi. Kemudian dagingnya dibagi usai disembelih pada yang menyumbang. Ini merupakan tradisi yang biasa kami lakukan,” terang Ishak warga setempat.
Sementara itu sehari sebelum hari raya Idul Fitri 2016 (1437 Hijriyah) pasar tradisional Desa Pasuruan lebih ramai dibandingkan hari biasa dengan semakin banyaknya warga yang pergi ke pasar membeli beragam kebutuhan jelang lebaran. Sebagian pedagang kebutuhan pokok bahkan menjual barang dagangan lebih banyak dari biasanya untuk masyarakat.
Pemandangan berbeda terlihat dengan banyaknya pedagang daging musiman yang berjajar si sepanjang jalur masuk dan keluar pasar tradisional tersebut. Salah satu petugas keamanan pasar, Kelik, mengaku selama hari biasa hanya ada sekitar lima pedagang daging sapi dan beberapa pedagang daging ayam di pasar tersebut namun jelang lebaran puluhan pedagang mulai membuat lapak.
“Lapak khusus penjual daging hanya ada sehari sebelum lebaran karena kebutuhan warga untuk konsumsi daging meningkat saat lebaran,”terang Kelik.
Tingginya harga daging sapi yang sebelumnya hanya Rp90-100ribu kini menjadi Rp120-130ribu bahkan tak mempengaruhi permintaan harga daging sapi yang dijual pedagang. Beberapa pedagang yang menyiapkan sekitar 50-100kilogram daging sapi dan kambing sebagian ludes terbeli dengan permintaan setiap pembeli rata rata sekitar 3-5kilogram.
Selain permintaan akan daging sapi yang meningkat permintaan kebutuhan pokok yang dijual di pasar seperti gula pasir, minyak goreng, beras serta bumbu dapur juga mengalami peningkatan.
[Henk Widi]
Lihat juga...