Mahasiswa UK Petra Desain Rumah Bagi Penyandang Disabilitas

RABU, 15 JUNI 2016

SURABAYA — Bagi penyandang disabilitas desain rumah memang membutuhkan perlakuan khusus, misalnya seperti tuna daksa membutuhkan ruang dan fasilitas yang berbeda dengan orang normal pada umumnya.
Melihat permasalahan ini, Dosen Universitas Kristen (UK) Petra, Gunawan Tanuwidjaja dalam mata kuliah Desain Inklusi menugaskan para mahasiswanya untuk membuat desain rumah khusus bagi penyandang disabilitas.
Salah satunya rumah yang aksesibel untuk penyandang disabilitas dengan kursi roda yang dibuat oleh lima mahasiswa Jurusan Arsitektur, Felicia Lisandra, Jocelin Marchelina, Clara Cynthia W, Yohan Surya P, Estherina Gazali.
Ketua Tim, Felicia menjelaskan pembuatan desain rumah ini disesuaikan dengan kondisi rumah yang ada ditempat Abdul Syakur, penyandang disabilitas tuna daksa yang menggunakan kursi roda saat beraktifitas.
“Kami pertama membuat maket terlebih dahulu, kemudian bertemu dengan Pak Abdul Syakur, melihat apa-apa saja yang kurang cocok,” jelasnya saat ditemui Cendana News di Gedung Perpustakaan UK Petra, Rabu (15/6/2016).
Desain awal bangunan ini mulai dari teras depan terdapat jalur khusus agar penghuni mudah masuk kedalam rumah dengan panjang ram 1 meter. Masuk kedalam rumah terdapat ruang tamu sekaligus ruang keluarga dimana penempatan meja harus setinggi 80 cm.
“Kalau terlalu tinggi atau terlalu rendah rawan, karena Pak Syakur menggunakan kursi roda,” ujarnya.
Tak hanya itu, saat diruang makan terdapat meja dengan empat tiang. Awalnya hanya ada satu tiang penyangga, namun Pak Syakur berkilah kalau hanya satu tiang penyangga saja jika dirinya terjatuh tidak ada pegangan.
“Akhirnya kami menaruh empat tiang penyangga,” cakapnya.
Selain itu dibagian dapur sendiri dibawah meja selalu ada ruang kosong untuk penempatan kursi roda. Pada bagian kamar mandi yang membedakan adalah warna keramik sekaligus pegangan.
“Tinggi kran diatur setinggi 80 cm juga agar tetap bisa menjangkau saat mandi,” tandasnya.
Fasilitas lainnya yang ternyata justru tidak boleh ada di rumah tuna daksa adalah pemasangan karpet. 
“Jadi tidak boleh ada karpet sama sekali karena mengganggu pergerakan kursi roda, keramik pun yang tidak licin agar roda tidak mudah tergelincir,” tukasnya.
Dosen pengampu, Gunawan Tanuwidjaja mengungkapkan keinginannya agar mahasiswa lebih ‘membuka mata’ terhadap keberadaan penyandang disabilitas. Karena sebanyak 5 persen dari total warga Surabaya merupakan penyandang disabilitas.
“Kami juga akan memberikan desain kami ke Pemerintah Kota Surabaya agar bisa diaplikasikan ke warga atau ke pihak pengembang apartemen supaya lebih ramah terhadap penyandang disabilitas,” pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]
Lihat juga...