Hasil Pemeriksaan Laboratorium Bocor Bukan Kewenangan Dinkes Sikka

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Bocornya surat hasil pemeriksaan rapid test ketiga Anak Buah Kapal (ABK) KM. Lambelu yang dilakukan di RS TC Hillers Maumere Selasa (7/4/2020) termasuk surat bupati terkait hasil pemeriksaan rapid test di media sosial ramai diperbincangkan masyarakat.

Seharusnya surat rahasia bupati Sikka yang dikirimkan kepada manajemen PT. Pelni di Jakarta dengan dilampirkan surat hasil pemeriksaan dari laboratorium RS TC Hillers Maumere tidak boleh dibocorkan karena menimbulkan penafsiran yang berbeda.

“Tidak semua orang bisa membaca rekam medik kecuali tenaga kesehatan. Sesuai etika medik, rekam medik seseorang tidak boleh dibocorkan,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus, Sabtu (11/4/2020).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, yang juga Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di Posko Covid, Sabtu (11/4/2020). Foto: Ebed de Rosary

Petrus menyesalkan bocornya hasil rekam medik tersebut sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda oleh orang awam. Bahkan banyak yang menyimpulkan sendiri dan mengatakan hasil pemeriksaannya negatif.

Dia menegaskan, hasil laboratorium yang bocor di luar kewenangan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka karena hasilnya dilaporkan ke Bupati Sikka dan disampaikan juga ke Pelni.

“Hasil laboratorium tersebut juga disampaikan kepada manajemen Pelni sebagai pendasaran surat bupati Sikka untuk menolak kapal Lambelu bersandar. Saat itu karena Pelni juga minta hasil rapid test,” ujarnya.

Pemaknaan rekam medik berbeda oleh orang awam tandas Petrus, dan sesuai etika medik tidak boleh karena pembacaan rekam medik orang awam berbeda dengan tenaga kesehatan.

Afridus Aeng, anggota DPRD Sikka menyebutkan, terkait status 3 ABK KM. Lambelu yang terindikasi positif Covid-19 untuk uji swab memang butuh waktu. Sebab alat untuk uji swab tidak ada di RS TC Hillers Maumere.

Alat uji swab tersebut kata Afridus, adanya di laboratorium di Surabaya yang sebelumnya di Jakarta. Belum lagi pengiriman sampel ke Surabaya dan untuk mengetahui hasil tes butuh waktu beberapa hari baru diketahui.

“Informasi soal hasil tes negatif yang disampaikan beberapa media termasuk di Sulawesi perlu dipertanyakan. Ini kita ragukan apakah berita ini resmi atau tidak,” ujarnya.

Afridus menjelaskan, kalau pemeriksaan menggunakan alat rapid test bisa dilakukan di laboratorium RS TC Hillers Maumere. Namun hanya untuk melihat apakah ada indikasi seseorang terjangkit virus atau tidak.

Sebaiknya saran dia, surat rahasia harus dijaga secara ketat agar jangan sampai bocor ke masyarakat. Karena akan menimbulkan kepanikan dan salah persepsi sebab tidak semua orang bisa memahami.

“Tentu bocornya surat ini sangat disayangkan, apalagi media di Sulawesi pun bisa membuat berita berdasarkan hasil uji laboratorium yang beredar luas di media sosial tersebut,” ungkapnya.

Lihat juga...