LAMPUNG — Potensi peternakan kambing, kerbau, sapi di wilayah Desa Gandri Kecamatan Penengahan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan cukup bagus. Potensi peternakan tersebut didukung sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi penopang perekonomian sekitar 325 Kepala Keluarga dengan profesi mayoritas 90 persen petani dan pekebun serta sisanya pegawai swasta dan wiraswasta.
Salah satu ketua rukun tetangga (RT) di wilayah tersebut, Joko mengungkapkan, tingginya potensi pakan ternak di wilayah tersebut terutama dari lahan pertanian berupa limbah pertanian daun singkong, jagung, daun ubi jalar, rumput serta sumber pakan alami lainnya. Setiap KK di dusun yang dipimpinnya bahkan memiliki ternak kambing, kerbau dan sapi dengan jumlah minimal sepasang dan beberapa memiliki lebih dari lima ekor. Sebagian warga memelihara berbagai jenis ternak sebagai investasi yang bisa dijual saat mereka membutuhkan uang untuk biaya anak sekolah serta keperluan mendesak lainnya.
“Kami rata rata memiliki ternak kambing dan dalam pembahasan rapat penggunaan anggaran desa potensi ini menjadi salah satu rencana untuk program pembentukan badan usaha milik desa yang cukup menjanjikan dan menguntungkan bagi warga,” terang Joko saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (15/6/2016).
Selain memiliki ternak sebagai sumber tabungan bernilai ekonomi tinggi warga sebagian besar memiliki lahan pertanian yang mampu menyediakan sumber pakan dengan potensi masing masing ternak jenis kambing bisa dijual dengan harga minimal Rp700ribu perekor, sapi dan kerbau mencapai Rp6juta perekor. Penjualan ternak bahkan meningkat saat musim menjelang hari raya keagamaan diantaranya Idul Fitri dan Idul Adha.
Tingginya potensi ternak tersebut membuat Kepala Desa Gandri berkordinasi dengan warga setempat siap membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Rencananya Desa Gandri akan membentuk BUMDes yang bergerak dibidang usaha pengembangan ternak kambing yang ada dimiliki warga.
Kepala Desa Gandri, Turisman, mengakui dari sekitar 325 KK 60 persen diantaranya memiliki berbagai jenis ternak. Potensi peternakan kambing, kerbau, sapi yang ada di desa tersebut menjadi alasan Desa Gandri membentuk BUMDes yang bergerak dibidang itu. Sebab, hampir seluruh warga desa memiliki ternak kambing dan beberapa jenis ternak lain. Sementara penjualan kambing, sapi, kerbau tersebut dinilai belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena dijual pada saat-saat yang tidak tepat.
“Rencananya BUMDes nanti yang akan menampung terlebih dahulu seluruh kambing yang ada didesa. Harga yang dipatok sesuai pasaran dan diupayakan bisa menjadi cara membantu warga pemilik ternak,” kata Kepala Desa Gandri Turisman.
Berdasarkan pengalaman selama ini, sambung Yato, warga cenderung dirugikan karena menjual ternak karena desakan kebutuhan dan permainan para belantik atau tengkulak ternak. Karena desakan itu harga jual kambing cenderung merosot dan tidak memberi keuntungan bagi peternak. Selain kerugian dalam hal biaya operasional hasil penjualan ternak juga digunakan untuk hal hal konsumtif dan belum banyak warga yang mau menabung.
“Setelah kami rapatkan maka kami akan memfungsikan BUMDes sebagai lembaga yang juga akan menstabilkan harga kambing. Meski masyarakat butuh dana cepat, tetapi harganya tetap stabil,” ungkap Turisman.
Menurut Turisman sektor peternakan kambing, sapi, kerbau didesanya masih dilakukan dengan pola tradisional dan ia akan menggandeng pihak penyuluh peternakan untuk melakukan upaya maksimal pemeliharaan ternak. Sistem tersebut menurutnya berupa program Siskapi atau sistem penggemukan sapi dengan perkebunan kelapa sawit, penggunaan limbah ternak sapi untuk pembuatan bio gas serta pemanfaatan kotoran ternak untuk pupuk.
“Kita akan tingkatkan nilai jual ternak baik dari sektor peternakannya dan juga dari limbah yang dihasilkan berupa kotoran,”ungkapnya.
Turisman mengungkapkan BUMDes yang akan dibentuk merupakan lembaga yang akan mendongkrak pendapatan asli desa (PADes) Gandri. Dari usaha pengembangan ternak yang dilakukan, Turisman optimistis desa akan mendapatkan penghasilan yang berguna untuk pembangunan desa.
Ia juga menyayangkan pola penjualan yang selama ini dilakukan warga saat transaksi dengan belantik ternak yang menjual ternak saat memiliki kebutuhan. Sebenarnya yang paling penting adalah ini cara desa untuk menjaga agar harga ternak warga tidak ditawar dengan harga yang rendah. Selama ini warga selalu dirugikan karena keadaan, dalam pengembangan ke depan tidak ada peternak yang dirugikan. Bumdes akan diatur sedemikian untuk mendata jumlah peternak di wilayah tersebut termasuk upaya membentuk tabungan khusus peternak yang akan dipergunakan bagi seluruh warga pemilik ternak.